BeritaBERITA TERKININUSANTARASeni dan Budaya

Pameran Arsitektur Tradisional Sumsel Ajak Publik Menengok Kembali Rumah Kayu Leluhur

×

Pameran Arsitektur Tradisional Sumsel Ajak Publik Menengok Kembali Rumah Kayu Leluhur

Sebarkan artikel ini
oplus_0

MATTANEWS.CO, PALEMBANG — Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan kembali menggelar pameran kebudayaan tahunan bertema “Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan” di OPI Mall Palembang, 7–9 November 2025. Kegiatan ini menampilkan sembilan miniatur rumah adat dari berbagai daerah di Sumatera Selatan sebagai upaya mengenalkan kembali kekayaan arsitektur tradisional kepada masyarakat.

Kepala BPK Wilayah VI, Kristianto Januardi, mengatakan pameran tersebut merupakan bagian dari upaya pelestarian pengetahuan dan nilai-nilai budaya lokal.

> “Setiap tahun kami menghadirkan tema berbeda. Setelah kuliner pada tahun lalu, kini kami ingin masyarakat mengenal dan mewarisi pengetahuan tentang arsitektur tradisional agar tidak hilang ditelan modernisasi,” ujarnya.

Pameran menampilkan miniatur berbagai rumah adat seperti Rumah Limas Palembang, Rumah Gudang, Ghumah Baghi (Basemah), Lamban Tua (Ranau), Rumah Ulu Ogan, Rumah Ulu Musi, hingga Lamban Puhak dari Musi Banyuasin dan Ogan Ilir. Setiap rumah dipilih untuk menggambarkan keragaman arsitektur lintas suku yang mencerminkan filosofi dan cara hidup masyarakatnya.

Sumber lainnya dari BPK Wilayah VI, Dedy Afrianto, menjelaskan tema besar pameran tahun ini adalah Sambayan Ramin atau semangat gotong royong dalam membangun rumah.

> “Rumah tradisional dahulu dibangun tanpa tukang berbayar. Semua warga ikut bergotong royong, dari menebang kayu hingga merakit struktur tanpa paku, hanya menggunakan pasak dan ikatan,” katanya.

Pameran ini juga menjadi puncak dari penelitian panjang yang dilakukan Iwan Muraman Ibnu, dosen Arsitektur Universitas Sriwijaya (Unsri), yang bersama mahasiswa telah meneliti rumah-rumah tradisional sejak 2003.

> “Kami membuat pendataan, penggambaran ulang, dan animasi rumah-rumah tradisional. Tujuannya agar masyarakat tahu bahwa arsitektur tradisional bukan milik masa lalu, tetapi fondasi masa depan,” ujar Iwan.

Selain menampilkan miniatur dan foto, kegiatan juga dilengkapi dengan dialog budaya bersama peneliti rumah tradisional Adisyuswanto, lomba sketsa, serta kelas pengenalan rumah adat untuk anak-anak. Mahasiswa arsitektur turut menjadi pemandu bagi pengunjung untuk menjelaskan konsep, struktur, dan filosofi setiap rumah.

Kristianto menambahkan bahwa nilai-nilai arsitektur tradisional dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan modern.

> “Banyak gedung dan bandara di Indonesia terinspirasi dari rumah adat, baik dari bentuk atap, sistem ventilasi, maupun filosofinya. Arsitektur tradisional punya jiwa, bukan sekadar gaya,” ujarnya.

Untuk memperkaya suasana, pameran juga menampilkan pertunjukan seni seperti wayang Palembang, teater rakyat, Pagai Cangcang, Pagai Roki, dan musik tradisional dari berbagai daerah di Sumatera Selatan. Seluruh kegiatan terbuka untuk umum dan dapat dinikmati secara gratis.

Menurut Iwan, pameran ini juga menjadi refleksi agar masyarakat kembali meneliti dan mendokumentasikan warisan sendiri.

> “Dulu banyak rumah tradisional kita diteliti oleh orang luar negeri. Sekarang saatnya kita sendiri yang menjaga dan mewariskannya,” ujarnya.

Pameran Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan menjadi ajang edukasi publik sekaligus pengingat bahwa di balik bangunan modern yang menjulang, masih tersimpan nilai gotong royong dan kearifan lokal yang terukir dalam kayu, pasak, dan jiwa rumah adat Sumatera Selatan.