Nama : Juwita Putri
Prodi : S1 Jurnalistik
Universitas : UIN Raden Fattah Palembang
MATTANEWS.CO – Nenek saya bertanya sesuatu yang membuat saya terdiam. Kami sedang duduk di warung kopi pinggir jalan, menikmati senja sambil menonton anak-anak bermain.
“Kenapa sekarang semua orang harus pintar matematika?,” tanyanya tiba-tiba.
“Dulu cucumu yang suka menggambar itu bahagia sekali. Sekarang dia stres karena les fisika terus.”
Pertanyaan sederhana. Jawaban saya? Tidak sederhana sama sekali.
Cerita dari Sebuah Pabrik Tekstil
Minggu lalu saya mengunjungi pabrik tekstil milik teman ayah saya. Pabrik itu punya mesin-mesin canggih dari Jerman presisi tinggi, otomatis, hemat energi. Tapi ada masalah: kain yang diproduksi secara teknis sempurna, tapi tidak laku di pasaran.
“Secara kualitas tidak ada yang salah,” kata manajernya sambil mengangkat bahu. Tapi desainernya tidak paham apa yang konsumen mau. Dan insinyur kami tidak mau dengar masukan desainer karena mereka bilang itu ‘bukan urusan teknis’.
Pabrik itu akhirnya rugi besar. Bukan karena teknologinya jelek. Bukan karena saintisnya tidak kompeten. Tapi karena tidak ada yang mau bicara dengan yang lain.
Saya pulang sambil merenung, berapa banyak kegagalan serupa terjadi setiap hari, hanya karena orang-orang pintar enggan keluar dari kotak mereka?
Guru Biologi yang Menyanyi
Di SMA dulu, saya punya guru biologi yang aneh. Pak Wahyu namanya. Aneh karena di tengah-tengah menjelaskan fotosintesis, dia tiba-tiba memainkan gitar dan menyanyikan lagu yang dia ciptakan sendiri tentang siklus Calvin.
Kami tertawa. Tapi kami juga ingat. Sampai sekarang, sepuluh tahun kemudian, saya masih hafal lirik lagu itu. Saya masih bisa menjelaskan fotosintesis dengan detail bukan karena saya jenius, tapi karena Pak Wahyu membuat pembelajaran menjadi pengalaman yang menyentuh emosi, bukan cuma logika.
Pak Wahyu pernah bilang, “Kalau kalian cuma menghafal rumus, kalian akan lupa setelah ujian. Tapi kalau kalian merasakan keindahan di balik rumus itu, kalian akan membawanya seumur hidup”.
Dia benar. Dan sistem pendidikan kita salah karena tidak menghasilkan lebih banyak guru seperti dia.
Nenek Saya dan Smartphone-nya
Kembali ke warung kopi. Nenek saya mengeluarkan smartphone-nya hadiah dari cucu-cucunya tahun lalu. Dia menunjukkan foto-foto yang dia edit sendiri menggunakan aplikasi yang dia pelajari dari YouTube.
“Lihat, ini foto kebun belakang rumah. Aku kasih filter ini biar langitnya lebih biru. Terus aku tambah tulisan doa pagi. Bagus kan?”.
Saya takjub. Bukan pada hasilnya secara teknis memang sederhana. Tapi pada prosesnya. Nenek saya, yang secara formal hanya lulusan SD, sedang melakukan sesuatu yang mengkombinasikan tiga hal, memahami teknologi digital, mengaplikasikan prinsip komposisi visual, dan mengekspresikan spiritualitas.
Dia tidak pernah kuliah desain grafis. Dia tidak ambil kursus programming. Tapi dia membuktikan sesuatu yang penting: ketika motivasinya tepat (ingin berbagi keindahan dengan keluarga), hambatan artifisial antara “teknologi” dan “seni” dan “makna” runtuh dengan sendirinya.
Pertanyaan yang Tidak Pernah Kita Ajukan
Kita terlalu sibuk bertanya, “Apakah kamu lebih suka sains atau seni?” Padahal pertanyaan yang benar adalah, “Apa yang ingin kamu ciptakan di dunia ini?”.
Seorang anak yang ingin membuat taman yang indah butuh tahu botani (sains), butuh paham sistem irigasi (teknologi), dan butuh sense estetika (seni). Tidak ada yang opsional. Semuanya penting.
Seorang remaja yang ingin membuat film dokumenter tentang perubahan iklim butuh riset ilmiah yang solid, butuh kamera dan software editing, dan butuh kemampuan bercerita yang menyentuh hati. Mana yang bisa dibuang? Tidak ada.
Tapi sistem kita memaksa mereka memilih. “Kamu masuk jurusan IPA atau IPS?” Seolah dunia nyata terstruktur seperti itu. Padahal tidak.
Warung Makan Bu Siti
Ada warung makan dekat kantor saya yang selalu ramai. Pemiliknya, Bu Siti, hanya lulusan SMP. Tapi dia paham betul bagaimana rasa bekerja secara kimia (dia tahu kapan harus menambah MSG, kapan harus pakai garam, bagaimana keseimbangan asam-manis), bagaimana mengoptimalkan proses memasak untuk efisiensi (dia atur stasiun kerjanya seperti lini produksi pabrik), dan bagaimana menciptakan pengalaman yang membuat pelanggan balik lagi (plating, suasana, cara melayani).
Bu Siti tidak pernah belajar istilah-istilah fancy. Tapi dia praktisi sejati dari integrasi pengetahuan, teknologi (dalam bentuk paling sederhana: alat dan metode), dan seni kuliner.
Bandingkan dengan banyak lulusan universitas yang saya kenal: pintar secara akademis, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah sederhana karena dunia nyata tidak pernah datang dalam format ujian pilihan ganda.
Apa yang Salah dengan Kita?
Saya pikir masalahnya ada pada arogansi. Arogansi yang membuat seorang insinyur merasa tidak perlu belajar berkomunikasi dengan baik. Arogansi yang membuat seniman merasa teknologi itu “soulless” sehingga tidak perlu dipelajari. Arogansi yang membuat akademisi merasa aplikasi praktis itu “tidak intelektual”.
Padahal kehidupan tidak peduli pada arogansi kita. Kehidupan melempar masalah yang kompleks, berlapis, dan tidak peduli bahwa di ijazah kita tertulis “Sarjana Teknik” atau “Sarjana Seni”.
Saya pernah ikut proyek pembangunan rumah sakit di daerah terpencil. Tim kami punya arsitek hebat, insinyur struktural yang brillian, dan dokter yang berpengalaman. Tapi proyeknya hampir gagal karena tidak ada yang memikirkan aspek budaya lokal. Kami membangun gedung yang secara teknis sempurna tapi tidak nyaman untuk masyarakat setempat.
Yang menyelamatkan? Seorang mahasiswa antropologi yang kebetulan magang. Dia yang menjembatani. Dia yang menerjemahkan kebutuhan masyarakat dalam bahasa yang dimengerti arsitek dan insinyur.
Jalan Keluar yang Tidak Nyaman
Solusinya tidak nyaman karena menuntut kita keluar dari zona aman. Dokter harus mau belajar dasar-dasar teknologi informasi kalau tidak mau tertinggal di era telemedicine.
Programmer harus mau memahami psikologi pengguna kalau tidak mau aplikasinya bagus secara teknis tapi tidak ada yang pakai. Seniman harus mau melek data kalau ingin karyanya punya dampak sosial yang terukur.
Ini bukan soal menjadi jenius di semua bidang. Ini soal rasa hormat mengakui bahwa perspektif orang lain punya nilai, bahwa keahlian yang berbeda dari kita bukan berarti lebih rendah.
Nenek saya yang edit foto pakai smartphone lebih maju dari banyak profesional muda yang saya kenal, karena dia tidak pernah berpikir, “Ini bukan bidang saya jadi saya tidak perlu tahu”.
Malam Itu di Warung Kopi
Percakapan dengan nenek berakhir ketika langit sudah gelap. Sebelum pulang, dia bilang sesuatu yang membuat saya tersenyum.
“Kamu tahu kenapa aku suka belajar hal baru? Karena setiap kali aku paham sesuatu entah itu cara kerja filter foto, atau kenapa tanaman tomat ku tumbuh bagus rasanya dunia jadi lebih luas. Aku jadi tahu ada banyak keajaiban yang belum aku lihat”.
Mungkin itulah yang hilang dari pendidikan kita: sense of wonder. Rasa kagum yang membuat anak-anak bertanya “kenapa” tanpa henti. Rasa ingin tahu yang tidak peduli apakah pertanyaannya masuk kategori IPA atau IPS.
Kita terlalu sibuk memisah-misahkan, sampai lupa bahwa pengetahuan itu satu kesatuan. Bahwa di dunia nyata, tidak ada garis tegas antara sains dan seni. Antara logika dan intuisi. Antara mengukur dan merasakan.
Esok Hari
Besok saya akan mengajar lagi. Saya guru freelance, mengajar apa saja yang diminta kadang matematika, kadang bahasa Indonesia, kadang komputer. Murid-murid saya sering bertanya, “Pak guru beneran bisa semua mata pelajaran?”.
Jawaban saya, “Tidak. Tapi aku tahu semua mata pelajaran itu saling berhubungan. Dan aku tidak takut bilang ‘tidak tahu’ terus cari tahu bareng kalian”.
Mungkin itu yang kita butuhkan: lebih sedikit kepura-puraan tahu segalanya, lebih banyak keberanian untuk belajar bersama. Lebih sedikit tembok antar disiplin, lebih banyak jembatan.
Karena pada akhirnya, yang membuat manusia istimewa bukan kepintaran di satu bidang. Tapi kemampuan untuk menyatukan antara pikiran dan perasaan, antara teori dan praktik, antara yang terukur dan yang bermakna.
Nenek saya, dengan smartphone dan kebun tomatnya, lebih paham ini daripada banyak profesor yang pernah saya temui. Dan itu, bagi saya, adalah pelajaran paling berharga.(*)














