MATTANEWS.CO, TANAH DATAR — Ketika aparat kepolisian sibuk menutup tahun dengan laporan capaian, jalan-jalan rusak di Tanah Datar justru terus memakan korban. Sepanjang 2025, angka kecelakaan lalu lintas meningkat signifikan, dan faktor utama bukan semata kesalahan pengendara, melainkan kegagalan negara menghadirkan infrastruktur jalan yang aman.
Pengakuan ini bukan datang dari pengamat atau aktivis, melainkan diucapkan langsung oleh Kapolres Tanah Datar, AKBP Dr. Nur Ichsan Dwi Septiyanto, S.H., S.I.K., M.I.K., dalam konferensi pers akhir tahun di Mapolres Tanah Datar, Rabu (31/12/2025).
Korban kecelakaan didominasi usia produktif—mereka yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga dan ekonomi daerah. Namun di Tanah Datar, nyawa generasi produktif dipertaruhkan setiap hari di atas aspal yang rusak dan gelap tanpa rambu.
“Korban kecelakaan meningkat di 2025. Penyebab dominannya adalah jalan rusak, rambu lalu lintas yang tidak tersedia, serta marka jalan yang banyak tidak ada,” tegas Kapolres tanpa menutup-nutupi fakta.
Pernyataan ini sekaligus menelanjangi kegagalan kebijakan infrastruktur daerah. Sebab, ketika polisi mengakui bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kondisi jalan, maka pertanyaannya sederhana namun tajam: siapa yang membiarkan jalan rusak itu terus digunakan publik?
Di sejumlah ruas Tanah Datar, kerusakan jalan bukan persoalan baru, melainkan masalah tahunan yang terus berulang. Lubang menganga, permukaan bergelombang, minim penerangan, serta nihil rambu keselamatan, menjadi pemandangan rutin yang seolah dinormalisasi.
Ironisnya, di saat bersamaan, keselamatan lalu lintas kerap direduksi menjadi urusan razia dan tilang, sementara akar persoalan—kualitas jalan—dibiarkan menjadi bom waktu kecelakaan.
Polres Tanah Datar sendiri mencatat keberhasilan di bidang pembinaan sosial. Program “Kembali ke Surau” melibatkan ninik mamak dan tokoh adat di 75 nagari, sebagai upaya membentengi generasi muda dari degradasi moral.
Selain itu, kepolisian juga berhasil mengungkap jaringan narkoba dan praktik LGBT, dengan dukungan tokoh adat dan masyarakat. Namun, keberhasilan ini tidak bisa dijadikan penutup mata terhadap kegagalan struktural yang terus merenggut korban di jalan raya.
Menutup konferensi pers, Kapolres membagikan buku karyanya, “Kembali ke Surau”, sebuah refleksi moral tentang pembinaan masyarakat.
Namun, publik menunggu lebih dari sekadar refleksi. Tanpa perbaikan konkret jalan dan penyediaan rambu keselamatan, laporan tahunan kecelakaan akan terus berulang—dan setiap tahun, nama korban hanya akan berganti.














