BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARAPEMERINTAHAN

Ramadhan Distribusi MBG Tetap Berjalan, DPRD Kota Malang Himbau Agar Menu Lebih Variatif

×

Ramadhan Distribusi MBG Tetap Berjalan, DPRD Kota Malang Himbau Agar Menu Lebih Variatif

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, MALANG – Memasuki Bulan Suci Ramadhan distribusi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang dipastikan tetap berjalan dengan sejumlah mekanisme dengan penyesuaian penyaluran makanan.

Hal itu disampaikan oleh Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kota Malang, Muhammad Athoillah mengungkapkan bahwa pihaknya memastikan distribusi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan tetap berjalan seperti biasa.

Lebih lanjut, Athoillah menyebut bahwa penyesuaian dilakukan khususnya bagi peserta bukan pondok dan selama Ramadan, peserta akan menerima makanan kemasan sehat yang siap santap dan dapat bertahan hingga waktu berbuka puasa.

“Kalau di bulan Ramadan ini, untuk peserta BP tetap menggunakan makanan kemasan sehat. Jadi makanannya siap makan, tetapi bisa juga disimpan sampai buka puasa,” ungkapnya, Selasa (17/2/2026).

Sedangakn bagi SPPG yang berada di lingkungan pondok pesantren, mekanisme penyaluran sangat berbeda.

Menurutnya, makanan yang disajikan tetap menggunakan sistem ompreng dan akan diberikan menjelang waktu berbuka puasa.

“Kalau yang di lingkungan pondok pesantren, kami berikan saat waktu buka puasa. Jadi tetap menggunakan ompreng dan memasaknya saat siang hari,” tuturnya.

Bahkan dalam mekanisme tersebut setiap penerima akan mendapatkan dua tote bag. Satu tote bag dikirim pada hari berjalan, sementara tote bag yang dikirim sebelumnya akan diambil keesokan harinya. Skema ini diterapkan untuk menjaga kebersihan dan kelancaran distribusi.

Adapun isi paket makanan disesuaikan agar lebih tahan lama, seperti roti, buah, kurma, serta telur. Menu dipilih dari jenis makanan yang relatif aman disimpan seharian tanpa mudah basi.

“Intinya makanan yang sekiranya bisa awet selama penyimpanan seharian, sampai waktu buka puasa,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa untuk jadwal penyaluran dirinya menegaskan tidak ada perubahan atau seperti biasanya. Namun, bagi wilayah dengan mayoritas murid tidak berpuasa, penyaluran tetap menggunakan sistem makanan ompreng seperti hari normal.

“Nah, nanti yang puasa mungkin kami sesuaikan dengan menu puasa. Tapi kalau yang enggak puasa, kami layani dengan ompreng seperti biasanya,” ujarnya.

Sementara itu, untuk kategori ibu hamil dan ibu menyusui, SPPI akan melakukan pendataan guna menyesuaikan menu dengan kondisi masing-masing penerima.

Selain itu, pihaknya juga memastikan bahwa ibu hamil yang menjalankan puasa akan diberikan paket yang menyesuaikan menu puasa. Sedangkan, yang tidak berpuasa tetap dilayani dengan ompreng serta tambahan dua makanan kering siap santap sesuai anjuran gizi.

“Pendataannya kami lakukan melalui grup masing-masing. Tetapi biasanya, ibu hamil dan menyusui ini memang banyak yang tidak puasa, jadi kami sesuaikan seperti hari biasa,” ungkapnya.

Terkait kekhawatiran makanan mudah basi selama Ramadan, Athoillah memastikan pihaknya telah menerbitkan Surat Edaran (SE) kepada seluruh SPPG. Dalam edaran tersebut, ditegaskan agar makanan kemasan tidak mengandung bahan yang mudah basi, seperti santan.

“Sudah ada surat edaran. Terutama makanan kemasan, kalau bisa jangan yang mengandung santan dan sejenisnya, karena tidak awet,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo memberikan catatan khusus bagi SPPG di Kota Malang agar makanan yang di distribusikan dapat bermanfaat bagi siswa yang menjalankan ibadah puasa.

“Pada intinya MBG di bulan suci Ramadhan kan terus berjalan ya, kami menghimbau agar pemberian MBG untuk anak-anak sebaiknya makanan kering saja untuk menu buka puasa seperti makanan kering salah satunya ya roti ya,” imbau Politisi Gerindra.

Masih kata Ginanjar bahwa SPPG di Kota Malang sudah banyak yang berjalan menghimbau agar lebih memperhatikan prosedur tehnis termasuk asupan gizi yang akan disediakan.

“SPPG di Kota Malang harus lebih kreatif untuk mendistribusikan MBG ini agar tidak membosankan. Selain itu dengan menu yang variatif juga dapat membantu UMKM masyarakat dalam memenuhi suplai kebutuhan dapur,” kata Ginanjar.

Ginanjar juga menilai bahwa terkadang kelangkaan bahan baku dalam pemenuhan MBG tersebut dapat diantisipasi sebaik mungkin dengan alternatif yang mempunyai kandungan gizi yang setara.

“Ya misalkan ada kelangkaan susu mungkin bisa diganti dengan produk lain yang mempunyai kandungan gizi yang sama, seperti kacang hijau, kedelai atau buah degan juga bisa menjadi alternatif,”dan mungkin minuman tradisional juga bisa,”tandasnya.