Oleh : Gatot Sultan
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Adab dipangku syariat di junjung adalah sebuah ungkapan filosofis yang menjadi identitas budaya dan jati diri masyarakat Melayu, khususnya sangat melekat pada masyarakat Palembang (Sumatera Selatan).
Ungkapan ini menggambarkan harmoni atau keselarasan antara tradisi lokal (adat/adab) dengan ajaran agama (Islam/syariat).
Berikut adalah penjelasan mendalamnya:
1. Makna Kata per Kata
Adab Dipangku:
Kata “dipangku” (seperti memangku anak) bermakna sesuatu yang sangat dekat, disayangi, dirawat, dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Adab atau adat istiadat adalah identitas yang melekat pada cara hidup, tata krama, dan interaksi sosial masyarakat.
Syariat Dijunjung:
Kata “dijunjung” (ditaruh di atas kepala) adalah simbol penghormatan tertinggi. Ini bermakna bahwa hukum Allah (Syariat Islam) adalah pedoman tertinggi yang berada di atas segalanya. Segala tindakan harus berlandaskan dan tidak boleh bertentangan dengan ketentuan agama.
2. Filosofi dan Prinsip Hidup
Ungkapan ini merupakan prinsip “akulturasi” antara budaya dan agama. Dalam praktiknya:
Saling Melengkapi:
Adat dan budaya memberikan warna pada kehidupan sosial (cara berpakaian, upacara pernikahan, tutur kata), sementara Syariat memberikan batasan moral dan hukum agar budaya tersebut tetap berada di jalan yang benar.
Filter Budaya:
Jika ada kebiasaan adat yang bertentangan dengan ajaran agama, maka Syariat-lah yang dimenangkan (karena ia “dijunjung”). Sebaliknya, agama dijalankan dengan cara-cara yang beradab dan santun sesuai budaya setempat.
3. Konteks Budaya Palembang
Di Palembang, semboyan ini menjadi “pakem” atau landasan sejak masa “Kesultanan Palembang Darussalam”. Semboyan ini memastikan bahwa orang Palembang tidak kehilangan identitas kemelayuannya (adab), namun tetap teguh memegang prinsip keislamannya (syariat).
Ini serupa dengan filosofi masyarakat Minangkabau: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (Adat bersendi syariat, syariat bersendi Al-Qur’an).
Kesimpulan
Secara sederhana, “Adab dipangku syariat dijunjung” berarti: “Menjalankan kehidupan sosial dengan tata krama dan budaya yang luhur, namun tetap menjadikan hukum agama sebagai pedoman tertinggi dalam segala hal.”
Salam Budaya
Seni kesadaran
RUMAH ASPIRASI BUDAYA














