Oleh : Gatot Sultan
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang seringkali mencerabut akar identitas, Tanjak Palembang muncul bukan sekadar sebagai pelengkap busana adat, melainkan sebagai sebuah manifestasi arsitektural di atas kepala yang menyimpan kode-kode rahasia tentang sejarah, martabat, dan seni kesadaran manusia Melayu di Sumatera Selatan.
1. Arsitektur Identitas dan Puncak Intelektual
Secara morfologis, Tanjak adalah hasil seni melipat kain (destar) yang bertransformasi menjadi struktur geometris. Dalam sudut pandang filosofis, penempatan Tanjak di atas kepala pusat kognisi dan spiritualitas manusia menandakan bahwa benda ini adalah simbol “puncak”.
Sejarah mencatat bahwa di masa Kesultanan Palembang Darussalam, lipatan-lipatan pada Tanjak seperti Kepodang, Pancula, atau Mande Rubah bukan sekadar estetika. Setiap lipatan merepresentasikan strata intelektual dan tanggung jawab sosial. Ia adalah pengingat bagi pemakainya bahwa pikiran harus dijaga (disangga) oleh prinsip-prinsip luhur.
2. Tanjak sebagai Seni Kesadaran (Mindfulness)
Dalam perspektif seni kesadaran, proses mengenakan Tanjak adalah sebuah ritual kehadiran penuh.
Simpul dan Ikatan: Melambangkan pengikatan hawa nafsu. Seseorang yang mengenakan Tanjak secara sadar “mengikat” egonya agar tetap terkendali di bawah naungan akal budi.
Ketegakan: Struktur Tanjak yang cenderung meruncing ke atas (menghadap langit) melambangkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta (Hablumminallah), sementara lebar dasarnya melambangkan tanggung jawab horisontal kepada sesama manusia (Hablumminannas).
Ini adalah bentuk neuro-aesthetic tradisional; ketika seseorang merasakan berat dan struktur Tanjak di kepalanya, postur tubuhnya secara otomatis akan tegak, langkahnya menjadi teratur, dan bicaranya menjadi lebih terjaga. Inilah yang disebut dengan kesadaran akan “Wibawa”.
3. Dialektika Sejarah dan Budaya: Antara Simbol dan Realita
Sumatera Selatan, dengan latar belakang Sriwijaya yang kosmopolitan, membentuk Tanjak sebagai simbol adaptabilitas. Kain songket yang digunakan seringkali dengan motif lepus atau nampan perak adalah narasi tentang kejayaan maritim dan kemakmuran ekonomi.
Namun, secara filosofis, Tanjak juga merupakan pengingat akan kefanaan. Meskipun ia tampak gagah dan keras secara struktur, ia terbuat dari kain yang fleksibel. Ini mencerminkan kepribadian manusia Palembang: teguh dalam prinsip, namun luwes dalam pergaulan sosial (diplomasi).
4. Relevansi Kontemporer: Menjaga Mahkota Batin
Di era digital, di mana identitas seringkali menjadi komoditas permukaan, memahami filosofi Tanjak menjadi sangat krusial. Tanjak bukan hanya properti foto saat upacara pernikahan. Ia adalah “Warta Intelektual” yang meneriakkan bahwa:
“Seseorang dinilai bukan dari apa yang ia miliki di bawah kakinya (harta), melainkan dari apa yang ia junjung di atas kepalanya (ilmu dan kehormatan).”
Kesimpulan
Tanjak Palembang adalah jembatan antara masa lalu yang gemilang dan masa depan yang penuh tantangan. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap lipatan kainnya, terdapat doa, sejarah, dan harapan agar setiap pria yang memakainya memiliki kesadaran penuh akan jati dirinya sebagai khalifah yang berbudaya.
Menjaga Tanjak berarti menjaga martabat berpikir. Memahami Tanjak berarti memahami bahwa kesadaran adalah mahkota tertinggi yang bisa dikenakan oleh manusia.














