BERITA TERKINIHEADLINEMATTA OPINIPENDIDIKAN

Pendidikan Mencerdaskan Anak Bangsa, Catatan Hardiknas 2026 Oleh Dosen STAI AL-Mahdi Fakfak

×

Pendidikan Mencerdaskan Anak Bangsa, Catatan Hardiknas 2026 Oleh Dosen STAI AL-Mahdi Fakfak

Sebarkan artikel ini

Sumber Daya Manusia, Kurikulum, Etika dan Moral

MATTANEWS.CO, FAKFAK – Setiap tanggal 2 Mei. tanggal yang sama setiap tahun. Tapi makna di baliknya tidak pernah sama. Karena kita tidak sedang memperingati angka di kalender. Tetapi Kita sedang memperingati sebuah perlawanan.

137 tahun lalu, lahir seorang anak bangsawan bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Dia bisa saja diam, hidup nyaman, sekolah tinggi untuk dirinya sendiri. Tapi dia memilih gelisah. Dia melihat bangsanya dibodohi agar mudah dijajah. Sekolah hanya untuk segelintir orang. Maka 3 Juli 1922, dia dirikan Taman Siswa. Bukan gedung mewah, tapi gerakan. Bukan untuk cari gelar, tapi untuk memerdekakan pikiran. Dia yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Indonesia.

Semboyannya masih kita hafal sampai hari ini “Ing Ngarso Sung Tulodo”. Di depan memberi teladan. “Ing Madya Mangun Karso”. Di tengah membangun semangat. “Tut Wuri Handayani”. Di belakang memberi dorongan.

Dizaman penjajahan dulu, musuh kita jelas, yakni penjajah Belanda yang melarang pribumi sekolah. zaman sekarang, musuh kita tidak berseragam tapi musuh kita adalah kesenjangan. Karena ada anak di kota besar yang sudah belajar menggunakan Al. Tapi wilayah Timur Indonesia di pelosok Maluku, di pedalaman Papua, sinyal internet masih jadi barang mewah. Listrik pun masih bisa di hitung dengan jari.

Dulu, Ki Hajar melawan diskriminasi ras. Sekarang, kita harus melawan diskriminasi nasib dan geografis.

Guru kita hari ini hebat-hebat. Tapi kita harus berkata jujur bahwa banyak yang masih lelah; karena lelah dengan administrasi, lelah dengan perubahan kurikulum yang begitu cepat, lelah karena merasa berjuang sendiri. Sehingga berat kalau teladannya tidak didukung sistem.

Murid kita hari ini pintar-pintar. tapi banyak yang cemas. Cemas dengan masa depan di era Al. Cemas karena sekolah terasa jauh dari dunia kerja. Cemas karena nilai di atas kertas belum tentu menjamin hidup sejahtera. Bukan hanya cemas tapi muncul ketakutan karena sebagaian anak bangsa di pelsok negeri ke sekolah harus lewat kali yang mengalir begitu deras, namun apa mau di kata itulah kondisi pendidikan yang terjadi di Indnoesia Bagian Timur. Kondisi seperti ini, bagaimana kita bicarakan Sumber Daya manusia, melaksanakn Kurikulum dan membentuk karakter dan Moral pada anak. Kondisi ini tidak hanya pada anak/siswa saja, tetapi juga ada pada orang dewasa yang telah menempuh Pendidikan Tinggi.

Pendidikan hari ini berdiri di atas 3 kaki, SDM, Kurikulum, dan Etika Moral.

1. SDM-Akar yang Rapuh atau Kokoh.?
Guru di depan memberi teladan, Tapi faktanya: Banyak guru yang hebat, tapi banyak juga yang lelah. Beban administrasi PMM, pelatihan daring numpuk, gaji honorer telat. Bagaimana mau jadi teladan kalau gurunya sendiri tidak diteladani negara ?
Faktanya masih ada guru yang nyebrang air dan pulau untuk membawa soal ujian karena tidak ada internet. Siswa: sudah Pinter teknologi, kritis. Tapi rapuh mental, mudah cemas, mereka bisa akses Android dan sejenisnya, tapi belum tentu bisa akses hati nurani. Orang Tua dan Masyarakat, banyak yang lepas tangan.

Alasannya bahwa “Itu urusan sekolah.” Padahal kata Ki Hajar, “Setiap orang jadi guru, setiap rumah jadi sekolah.” Pendidikan tanpa gotong royong itu mustahil. Apabila kita renungi maka SDM kita belum merdeka. Guru belum merdeka dari beban administrasi. Siswa belum merdeka dari tekanan nilai. Orang tua belum merdeka dari mental “titip anak”. Bagaimana mau menjalankan Kurikulum Merdeka kalau manusianya belum merdeka.

2. Kurikulum Merdeka.

Kurikulum Merdeka lahir dari niat mulia: memerdekakan guru mengajar, memerdekakan murid belajar. Diferensiasi, Projek Penguatan Profil Pelajar pancasila disingkat P5, adalah kegiatan kokurekuler berbasis proyek dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan menguatkan karakterdan kompetensi siswa sesuai nilai-nilai pncasila. Tapi di lapanganterdapat Kesenjangan Fasilitas: karena Kurikulum Merdeka butuh kreativitas dan teknologi. Tapi gimana mau “projek” kalau listrik di sekolah 3T saja 4 jam sehari. Bagaimana mau “kolaborasi digital” kalau sinyal E. pertanayaannya, merdeka untuk siapa?

Di sisi lain, Guru belum siap, tapi dipaksa siap, pelatihan 3 hari, besok disuruh implementasi. Disisi lain Kurikulum sering mengalami perubahan, sementra mindset belum berubah akhirnya guru jadi bingun, siswa jadi korban, Pendidikan jadi coba-coba (Kapalnya bagus, Nahkodanya banyak, Kompasnya rusak), maka gejala yang muncul adalah Guru galau administrasi, siswa kehilangan makna, Fokus Ganda, 3T jadi korban dan lulusan tidak nyambung.

3. Etika dan Moral – Rem yang Hilang di Era Kecepatan.

Kita kejar teknologi, kejar ranking. Tapi lupa pasang rem etika & moral, siswa pintar Al, tapi moralnya menjadi tanggung jawab Guru dan Orang tua: Jago pakai ChatGPT untuk bikin esai, tapi tidak merasa bersalah. Juara coding, tapi dipakai bikin web judi online. Skill naik, akhlak turun.

Akhirnya tenaga pendidik kena prank atau lelucon praktis, namun perlu dipahami bahwa “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki. Kurikulum Merdeka tanpa etika merdeka berbuat curang. SDM pintar tanpa moral = ancaman bagi bangsa.

Teknologi tanpa adab = pisau di tangan penjahat. Untuk itu jenjang Pendidikan yang lebih tinggi perlu diperhatikan Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat untuk di implementasikan.

Setiap kampus pasti punya tulisan Tridharma Perguruan Tinggi di dindingnya:
1. Pendidikan dan Pengajaran
2. Penelitian dan Pengembangan
3. Pengabdian kepada Masyarakat

Sungguh Indah. Lengkap. dan Ideal.
Tapi mari kita jujur bahwa hari ini Tridharma sudah jadi pajangan dinding, bukan pedoman hidup. Karena fondasinya rapuh, lapuk dan berlubang, istilah ini senada dengan penurunan kepadatan atau kekuatan etika.

Dharna 1 Pendidikan. tapi kehilangan keteladanan, karena kebanyakan anak tidak belajar pada apa yang kita katakan, tapi anak belajar dari apa yang kita lakukan, atau dengan kata lain generasi sekarang pintar bicara tapi hancur adab.

Dharma 2 Penelitian. Tapi kehilangan kejujuran, kebanyakan kita belum mencapai kata Jujur pada penelitian, yakni jujur pada data, jujur pada proses, jujur pada sumber dan jujur pada tujuan.

Dharma 3 Pengabdian. Tapi kehilangan keberpihakan.
Pengabdian kepada Masyarakat. Dharma paling mulia. Tapi paling sering dimuliakan di atas kertas.

“Kita lupa pesan Ki Hajar, Tujuan pendidikan itu menuntun segala kodrat anak, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya,” pungkasnya.

Ia juga menyatakan, keselamatan, bukan cuma selamat wisuda. Tapi Selamat jadi manusia yang cerdas serta jauh dari culas. Maka jadikan Hardiknas 2 Mei ini harus jadi momen tobat akademik. Bagi Civitas Akademika baik yang masih Mahasiswa maupun sudah selesai dari dunia kampus, semuanya saat ini adalah pempimpin dan sebagian dari itu adalah calon pemimpin, bahwa Gelar tanpa etika itu seperti SIM tanpa bisa nyetir: bahaya bagi orang lain.

Tridharma tanpa etika sama seperti Tripenderitaan. Penderitaan untuk rakyat yang pajaknya dipakai, penderitaan untuk bangsa yang butuh solusi, penderitaan untuk masa depan kita sendiri. Mari kembalikan Tridharma dari dinding ke dada. Dari slogan ke tindakan. Karena kampus yang besar bukan yang gedungnya tinggi. Tapi yang lulusannya tinggi akhlaknya.

Jika etika di kembalikan ke kampus, maka Tridharma bukan lagi slogan, la akan jadi jalan. Jalan menuju Indonesia yang cerdas dan beradab.

Ki Hajar tidak berjuang agar kita punya kurikulum keren. Dia berjuang agar bangsa ini punya karakter merdeka.

SDM tanpa moral = robot.
Kurikulum tanpa moral = alat.
Moral tanpa ilmu lemah. Tiga-tiganya harus jalan bareng.

Ia mengajak melalui momen di Hardiknas ini dapat ditingkatkan SDM, Sejahterakan guru, bukan cuma sertifikasi. Latih guru jadi pamong, bukan admin. Didik siswa jadi manusia, bukan mesin nilai. Ajak orang tua balik jadi madrasah pertama. Jalankan Kurikulum Merdeka dengan jujur: Adaptasi, bukan adopsi buta. Merdeka itu bukan bebas, tapi bertanggung jawab, merdeka bisa berarti “merdeka dari kebodohan baru merdeka memilih”. Kembalikan Etika sebagai Panglima: Sebelum ajar coding, ajar conscience. Sebelum ajar Al, ajar adab”. Karena sepintar apa pun anak bangsa, kalau tidak punya malu dan takut Tuhan, dia hanya akan jadi pintar membangkrutkan negeri. Kalau tidak, 2045 kita bukan Indonesia Emas. Tapi Indonesia Cemas.

Mari merdekakan pikiran, dan muliakan akhlak. Dirgahayu Pendidikan Nasional.