BERITA TERKINIHEADLINEINFOTAINMENTMATTA OPINISeni dan Budaya

Songket Palembang: Menenun Kesadaran dalam Kilau Emas Sejarah

×

Songket Palembang: Menenun Kesadaran dalam Kilau Emas Sejarah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gatot Sultan

MATTANEWS.CO – Di balik gemerlap benang emas yang berkelindan di atas hamparan sutra, Songket Palembang bukanlah sekadar wastra. Ia adalah naskah sejarah yang tidak tertulis dalam tinta, melainkan dalam pakan dan lungsin. Ketika kita menyentuh selembar kain Songket, kita sebenarnya sedang menyentuh sisa-sisa kejayaan Sriwijaya yang masih berdenyut dalam kesadaran kontemporer masyarakat Sumatera Selatan.

Metafora Kesadaran dan Struktur Sosial

Dalam kacamata filsafat, menenun songket adalah sebuah laku asketik, sebuah meditasi atas kesabaran. Seorang penenun tidak hanya memindahkan sekoci, ia sedang menyusun struktur realitas. Penggunaan benang emas (zari) yang dominan melambangkan matahari, sumber kehidupan, dan kemakmuran yang pernah menjadi identitas maritim Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Songket adalah simbol dari “Kesadaran Berjenjang”

Dahulu, motif-motif tertentu seperti Nampan Perak atau Pucuk Rebung bukan sekadar hiasan, melainkan kode etik visual yang menunjukkan posisi seseorang dalam kosmos sosial. Di sini, seni menjadi penjaga ordo; ia memberitahu kita bahwa keindahan selalu memiliki struktur, dan kebebasan selalu berakar pada tradisi.

Arkeologi Estetika:
Antara India, Tiongkok, dan Melayu

Secara historis, Songket adalah hasil dari dialektika kebudayaan yang luar biasa. Ia lahir dari pertemuan sutra asal Tiongkok, teknik tenun dari pengaruh India dan Persia, serta kearifan lokal Melayu yang mampu menyerap segala pengaruh asing tersebut tanpa kehilangan jati dirinya. Ini adalah bukti intelektualitas leluhur Palembang dalam melakukan “Akulturasi Kreatif”.

Jika kain katun adalah keseharian, maka Songket adalah “Waktu yang Disucikan”. Ia hanya hadir dalam ritus-ritus peralihan hidup manusia seperti pernikahan, kelahiran, dan upacara adat. Dalam perspektif ini, mengenakan Songket adalah upaya manusia untuk keluar sejenak dari profanitas hidup menuju kesucian momentum.

Ancaman Komodifikasi dan Masa Depan Identitas

Namun, di era modernitas cair saat ini, kita menghadapi tantangan besar ” desakralisasi”. Ketika Songket diproduksi secara masal lewat mesin (printing) demi tuntutan pasar, kita kehilangan “aura” (meminjam istilah Walter Benjamin). Kesadaran akan proses yang memakan waktu berbulan-bulan untuk satu helai kain terkikis oleh kecepatan yang dangkal.
Maka, menghargai Songket hari ini berarti menghidupkan kembali kesadaran sejarah itu sendiri. Kita harus memandang Songket bukan sebagai artefak museum yang statis, melainkan sebagai entitas yang hidup. Menggunakan Songket adalah sebuah pernyataan politik kebudayaan; bahwa di tengah arus globalisasi yang menyeragamkan segalanya, kita tetap memilih untuk bersinar dengan cahaya emas identitas kita sendiri.

“Tenunan yang Belum Usai”

Songket Palembang adalah pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak boleh meninggalkan akar estetikanya. Di setiap motif Bunga Cina atau Cantik Manis, terselip doa dan harapan tentang keharmonisan alam dan manusia. Memakai Songket adalah merayakan kejayaan masa lalu sembari menenun harapan untuk masa depan yang tetap bermartabat.

Seni kesadaran dalam selembar Songket adalah cermin bagi jiwa kita: “Apakah kita masih mampu menenun makna di tengah dunia yang kian tercerabut dari akarnya?”

Salam Budaya
Seni kesadaran
RUMAH ASPIRASI BUDAYA