MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Peredaran narkotika lintas negara kembali menunjukkan betapa rapuhnya celah pengawasan. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Selatan membongkar masuknya sabu hampir 17 kilogram dari jaringan Malaysia ke Palembang. Dua kurir sudah ditangkap, namun aktor utama hingga kini masih bebas.
Kasus ini bukan sekadar penangkapan biasa. Barang bukti sebesar 16,9 kilogram sabu menunjukkan skala operasi yang terorganisir dan sistematis. Aparat menduga kuat Palembang kembali dijadikan titik distribusi strategis jaringan internasional.
Pengungkapan bermula dari laporan warga yang mencurigai adanya transaksi besar. Tanpa menunggu lama, petugas bergerak dan menggerebek sebuah rumah di kawasan permukiman pada 25 Maret 2026 dini hari. Di lokasi itu, seorang kurir bernama Julianto (32) tak berkutik saat aparat menemukan dua koper berisi paket sabu siap edar.
Total ada 15 bungkus besar sabu yang disimpan rapi, seolah menunggu didistribusikan ke pasar yang lebih luas. Dari tangan Julianto, aparat kemudian mengembangkan kasus dan memburu sosok lain yang disebut sebagai pengantar barang.
Hanya berselang sehari, kurir kedua, Hengki Pranata alias Eeng, berhasil ditangkap. Dari sinilah terbuka fakta bahwa jaringan ini bekerja dengan sistem upah: kurir hanya menjadi “alat angkut” dengan bayaran Rp10 juta hingga Rp30 juta per pengiriman.
Kepala BNNP Sumsel, Brigjen Pol Hisar Siallagan, menegaskan bahwa dua tersangka hanyalah bagian kecil dari rantai besar peredaran narkotika.
“Ini bukan jaringan kecil. Ada pengendali yang mengatur semuanya. Saat ini dua orang yang diduga sebagai otak, berinisial W dan R, masih dalam pengejaran,” tegasnya dalam konferensi pers.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan persoalan klasik dalam perang melawan narkotika: kurir mudah ditangkap, tetapi pengendali utama sering kali lolos.
BNNP Sumsel menyebut peran W dan R sangat krusial. Keduanya diduga mengatur alur keluar-masuk barang, menentukan distribusi, hingga memberi instruksi langsung kepada kurir di lapangan. Artinya, jaringan ini tidak bergerak sporadis, melainkan terstruktur dengan komando yang jelas.
Sementara itu, seluruh barang bukti sabu telah dimusnahkan. Prosesnya dilakukan secara ekstrem—dicampur bahan kimia, dihancurkan dengan blender, lalu dibuang—untuk memastikan tidak ada celah penyalahgunaan kembali.
Namun, pemusnahan barang bukti tidak serta-merta menutup persoalan. Fakta bahwa hampir 17 kilogram sabu bisa masuk dan tersimpan di kawasan permukiman padat menimbulkan pertanyaan besar: seberapa kuat sebenarnya pengawasan terhadap jalur masuk narkotika?
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa jaringan internasional masih leluasa menembus daerah. Selama aktor utama belum tertangkap, ancaman peredaran narkotika dalam skala besar dipastikan belum benar-benar berhenti.














