Di Tengah Tekanan Distribusi, PTP Nonpetikemas Menjaga Arus Barang Sumatera Selatan
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Muatan di lambung kapal itu sebenarnya sudah siap berangkat sejak malam sebelumnya. Ribuan ton barang telah tersusun rapi. Dokumen selesai. Truk pengangkut silih berganti keluar dari area dermaga. Namun hingga pagi datang, kapal belum juga bergerak meninggalkan Pelabuhan Boom Baru, Palembang.
Cuaca di perairan belum cukup bersahabat untuk pelayaran.
Di ruang operasional pelabuhan, komunikasi terus berlangsung. Jadwal distribusi tidak boleh terlalu lama tertunda. Sebab di balik setiap kapal yang terlambat berangkat, ada rantai pasok yang ikut menunggu mulai dari distribusi pupuk, bahan baku industri, hingga kebutuhan logistik ke berbagai daerah di Sumatera Selatan.
Bagi banyak orang, keterlambatan beberapa jam mungkin terlihat sepele. Namun di pelabuhan, waktu adalah biaya.
Semakin lama kapal tertahan, semakin besar biaya operasional yang harus ditanggung. Distribusi ikut melambat. Aktivitas industri bisa terdampak. Karena itu, ritme kerja di Pelabuhan Boom Baru nyaris tak pernah benar-benar berhenti.
Begitu kondisi dinyatakan aman, aktivitas bongkar muat kembali bergerak cepat. Crane mulai mengangkat muatan. Truk-truk kembali masuk ke area dermaga. Para pekerja bergegas mengejar jadwal pengiriman yang tidak boleh terlalu jauh bergeser.
Di tengah tekanan itulah PTP Nonpetikemas Cabang Palembang bekerja: menjaga agar arus logistik tetap bergerak, bahkan ketika kondisi di lapangan tidak selalu berjalan ideal.
Di tengah tingginya biaya logistik nasional dan tuntutan distribusi yang semakin cepat, pelabuhan menjadi simpul penting yang menentukan lancar atau tersendatnya rantai pasok. Dan di Palembang, peran itu dijalankan PTP Nonpetikemas anak usaha Subholding Pelindo Multi Terminal yang terus bertransformasi dari pelabuhan konvensional menjadi terminal multipurpose modern berbasis efisiensi dan digitalisasi.
Di balik aktivitas bongkar muat yang terlihat rutin, pelabuhan sesungguhnya sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar: kestabilan distribusi barang dan denyut ekonomi masyarakat.
Menjaga Arus Barang dari Tepian Musi
Sungai Musi bukan sekadar bentang air yang membelah Kota Palembang. Sejak berabad-abad lalu, sungai ini telah menjadi jalur perdagangan utama yang menghubungkan pedalaman Sumatera dengan pesisir timur Nusantara.
Kini, di tengah pertumbuhan industri dan kebutuhan distribusi yang semakin kompleks, fungsi itu tetap hidup dengan wajah yang jauh berbeda.
PTP Nonpetikemas Cabang Palembang menjadi salah satu simpul penting dalam jaringan terminal multipurpose nasional yang dioperasikan perusahaan di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai operator terminal nonpetikemas, perusahaan melayani beragam komoditas mulai dari curah cair, curah kering, general cargo hingga bag cargo.
Di Palembang, aktivitas bongkar muat tidak hanya berkaitan dengan perpindahan barang dari kapal ke dermaga. Pelabuhan ini ikut menjaga kelancaran distribusi pupuk, bahan baku industri, hingga komoditas strategis yang menopang roda ekonomi Sumatera Selatan.
Pada April 2026 lalu, misalnya, PTP Nonpetikemas Cabang Palembang menangani bongkar pupuk impor yang diangkut MV Gold Spring dari Pelabuhan Cuo Lo, Vietnam. Distribusi komoditas tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan industri pupuk nasional.
Data perusahaan menunjukkan throughput konsolidasi PTP Nonpetikemas sepanjang 2025 mencapai 48,18 juta ton/m³. Sementara Cabang Palembang mencatat arus barang sekitar 1,56 juta ton sepanjang tahun yang sama.
Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Palembang, Ade Affandi, mengatakan keberadaan pelabuhan memiliki fungsi strategis dalam menjaga stabilitas rantai pasok daerah.
“Pelabuhan bukan hanya tempat bongkar muat, tetapi bagian penting dari rantai distribusi ekonomi. Ketika layanan berjalan cepat dan efisien, maka distribusi barang dan kebutuhan industri juga akan lebih lancar,” ujar Ade Affandi saat kegiatan Port Visit dan Portpress 2026 di Pelabuhan Boom Baru Palembang, April 2026.
Menurutnya, tantangan logistik saat ini tidak lagi sekadar soal kapasitas dermaga, tetapi bagaimana menghadirkan pelayanan yang cepat, transparan, dan terintegrasi.

Mengubah Pelabuhan Menjadi Lebih Cepat
Persoalan klasik logistik Indonesia selama bertahun-tahun hampir selalu sama: waktu tunggu panjang, administrasi berlapis, dan biaya distribusi yang tinggi.
Di pelabuhan, keterlambatan beberapa jam saja bisa berdampak pada biaya operasional kapal, distribusi industri, hingga harga barang di pasar.
Karena itu, transformasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
PTP Nonpetikemas mulai menerapkan PTOS-M atau Pelindo Terminal Operating System Multipurpose, sistem operasi terminal terintegrasi yang digunakan untuk mempercepat layanan kepelabuhanan.
Melalui sistem tersebut, pengguna jasa tidak lagi bergantung pada proses manual di loket. Pengajuan layanan, pembayaran, pencetakan dokumen, hingga monitoring bongkar muat dapat dilakukan secara daring dan real time.
Transformasi digital itu perlahan mengubah ritme kerja pelabuhan.
Jika sebelumnya proses administrasi dilakukan melalui antrean fisik, telepon, hingga pertukaran dokumen manual, kini pelayanan bergerak lebih cepat dan terukur.
Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, menyebut digitalisasi menjadi bagian penting dalam membangun layanan pelabuhan yang modern dan efisien.
“PTP Nonpetikemas sebagai bagian dari Pelindo Group terus menghadirkan layanan terminal nonpetikemas yang andal dan terintegrasi untuk mendukung kelancaran arus logistik nasional,” kata Fiona Sari Utami dalam keterangan resmi perusahaan, April 2026.
Bagi dunia logistik, kecepatan pelayanan berarti efisiensi biaya. Semakin singkat waktu kapal bersandar, semakin rendah pula biaya distribusi yang harus ditanggung pelaku usaha.

Para Penjaga Dermaga yang Bekerja Saat Kota Terlelap
Menjelang siang, suhu di dermaga mulai terasa menyengat. Debu beterbangan setiap kali muatan dipindahkan dari kapal ke truk pengangkut. Bunyi klakson kendaraan logistik bersahut-sahutan dengan suara mesin crane yang terus bergerak mengangkat material.
Di tengah kesibukan itu, seorang operator crane yang telah bekerja lebih dari belasan tahun di Boom Baru tetap fokus memantau perpindahan muatan dari ruang operator.
Tangannya bergerak pelan mengendalikan tuas crane. Matanya mengikuti setiap pergerakan sling baja yang menggantung di atas kapal.
Baginya, bekerja di pelabuhan berarti hidup dengan ritme yang nyaris tanpa jeda.
“Kalau di sini, siang dan malam hampir sama. Kapal tetap datang, bongkar muat tetap jalan. Kami harus pastikan semua bergerak cepat, tapi tetap aman,” ujarnya.
Ia mengaku perubahan sistem operasional beberapa tahun terakhir cukup terasa, terutama sejak digitalisasi pelayanan diterapkan.
“Sekarang koordinasi lebih cepat. Jadwal kapal dan bongkar muat lebih teratur dibanding dulu,” katanya.
Di pelabuhan, keselamatan menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Kesalahan kecil dapat berakibat fatal di tengah lalu lalang alat berat dan aktivitas bongkar muat yang berlangsung hampir 24 jam.
Karena itu, modernisasi operasional di PTP Nonpetikemas juga dibarengi penguatan HSSE atau Health, Safety, Security, and Environment.
Perusahaan mencatat keberhasilan mempertahankan predikat zero accident hingga akhir 2025 melalui safety patrol, safety briefing, monitoring CCTV, hingga management walkthrough.
General Manager Pelindo Regional 2 Palembang, Nunu Husnul Khitam, mengatakan penguatan koordinasi antarpelaku kepelabuhanan menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran operasional logistik di Sumatera Selatan.
“Kami terus mendukung operasional PTP Nonpetikemas dan seluruh Pelindo Group di Pelabuhan Palembang melalui penguatan kolaborasi dengan stakeholder dan regulator,” ujar Nunu Husnul Khitam dalam kegiatan operasional pelabuhan di Palembang, April 2026.
Dari Dermaga ke Pertumbuhan Ekonomi
Perubahan di pelabuhan pada akhirnya bermuara pada satu hal: menjaga distribusi barang tetap bergerak dan menekan biaya logistik.
PTP Nonpetikemas mulai mempercepat pelayanan, memperkuat sistem digital, serta menyatukan pola operasional di berbagai terminal agar arus barang dapat bergerak lebih efisien.
Langkah tersebut menjadi penting karena pelabuhan bukan hanya tempat kapal singgah. Dari dermaga inilah distribusi pupuk, bahan baku industri, hingga kebutuhan pokok masyarakat bergerak menuju berbagai daerah di Sumatera Selatan.
Ketika pelabuhan melambat, rantai distribusi ikut terganggu. Ketika logistik tersendat, harga barang ikut terdorong naik.
Karena itu, efisiensi di pelabuhan sesungguhnya ikut menentukan denyut ekonomi masyarakat sehari-hari.

Menjaga Masa Depan Logistik Hijau
PTP Nonpetikemas juga mulai mengarahkan operasional menuju konsep pelabuhan berkelanjutan.
Perusahaan menerapkan berbagai inisiatif ESG melalui penggunaan lampu LED hemat energi, pemanfaatan overhead crane, hingga elektrifikasi alat bongkar muat untuk mengurangi emisi karbon operasional.
Di kota sungai seperti Palembang, isu keberlanjutan menjadi penting karena aktivitas industri dan pelabuhan berdampingan langsung dengan kehidupan masyarakat dan ekosistem perairan.
Pelabuhan masa depan bukan hanya dituntut cepat, tetapi juga lebih bersih dan ramah lingkungan.
Shift Malam di Tepian Musi
Malam perlahan turun di Boom Baru. Lampu dermaga memantul di permukaan Sungai Musi. Dari kejauhan, suara mesin kapal terdengar bersahut dengan bunyi crane yang masih bekerja memindahkan muatan.
Truk-truk logistik tetap keluar masuk pelabuhan membawa barang menuju berbagai daerah di Sumatera Selatan.
Sebagian besar kota mungkin telah terlelap. Namun di pelabuhan ini, aktivitas belum benar-benar berhenti.
Para pekerja masih berjaga di bawah cahaya lampu dermaga. Operator crane tetap mengawasi perpindahan muatan. Kapal-kapal masih datang dan pergi membawa pupuk, bahan baku industri, dan berbagai komoditas yang menjaga rantai distribusi tetap hidup.
Malam terus berjalan di Boom Baru.
Crane tetap bergerak memindahkan muatan. Radio komunikasi sesekali terdengar dari ruang operator. Kapal datang dan pergi membawa berbagai komoditas menuju sejumlah daerah di Sumatera Selatan.
Sementara sebagian besar kota terlelap, aktivitas di pelabuhan tetap berlangsung seperti biasa.














