MATTANEWS.CO,KAPUAS HULU – Garis batas negara bukan garis putus-putus yang bisa ditembus diam-diam. Kantor Imigrasi Kelas III TPI Putussibau kembali mengerahkan personelnya ke Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu.
Bersama Tim Pengawasan Orang Asing Timpora, mereka menggelar operasi gabungan skala penuh. Misinya menutup celah, menyikat pelintas ilegal, dan memperkuat kedaulatan NKRI di perbatasan Indonesia–Malaysia.
Operasi ini bukan aksi satu malam. Ini bagian dari strategi jangka panjang Imigrasi Putussibau menjaga Badau yang letaknya langsung bertetangga darat dengan Serawak, Malaysia. Di wilayah yang kaya hutan dan sungai ini, “jalur tikus” jadi tantangan terbesar aparat.
Operasi gabungan kali ini melibatkan kekuatan penuh Timpora. Unsur yang turun TNI, POLRI, Pemerintah Daerah Kapuas Hulu, Bea Cukai, dan instansi terkait lainnya. Semua bergerak kompak tanpa sekat ego sektoral.
Fokus utama operasi ada di titik-titik rawan yang sudah dipetakan intelijen. Mulai dari jalan setapak di pinggir sungai, jalur ladang yang tembus ke Serawak, sampai titik transit yang sering jadi tempat singgah pelintas ilegal. Semua disisir, semua dicek dokumen.
Selain patroli darat, petugas juga melakukan koordinasi intensif dengan anggota pos-pos pengamanan TNI di garis batas.
Ngobrol santai, tapi isinya data penting. TNI kasih info gerak-gerik terbaru di lapangan, Imigrasi kasih pemahaman modus pelanggaran keimigrasian terbaru. Hasilnya pertukaran informasi jadi lebih cepat dan akurat.
“Langkah ini adalah upaya terpadu untuk menekan potensi pelanggaran keimigrasian, penyelundupan barang, hingga aktivitas lintas batas ilegal. Sekaligus memperkuat sinergi antarinstansi yang bertugas menjaga kedaulatan wilayah Republik Indonesia,”
Kepala Sub Seksi TI Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas III TPI Putussibau Naufal Fauzi Rahman menegaskan, operasi ini sudah jadi menu wajib Imigrasi Putussibau. Bukan operasi dadakan pas ada kasus.
“Kegiatan ini merupakan agenda rutin untuk memperkuat pengawasan di wilayah perbatasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap pelanggaran keimigrasian. Sinergi antarinstansi dalam Timpora sangat penting mengingat kondisi geografis perbatasan yang cukup kompleks serta banyaknya jalur akses tidak resmi,” tegas Naufal Fauzi Rahman.
Dia benar. Peta Badau itu rumit. Bukit barisan, sungai Kapuas Hulu, hutan lindung. Semua bisa jadi jalan alternatif. Kalau hanya Imigrasi yang jaga, pasti kewalahan. Tapi kalau TNI jaga darat, Polri jaga keamanan, Bea Cukai jaga barang, Pemda jaga administrasi warga, baru bentengnya kokoh.
3 Target Utama: Keamanan, Ketertiban, Kedaulatan imigrasi Putussibau punya 3 target besar dari operasi ini:
1. Minimalisir Pelanggaran Sejak Dini
Pelintas tanpa dokumen, overstay, sampai pekerja ilegal. Semua berpotensi jadi masalah sosial dan keamanan. Dengan patroli rutin, mereka dicegah masuk sebelum bikin ulah.
2. Tekan Penyelundupan Lintas Batas
Jalur tikus nggak cuma dipakai orang. Barang ilegal seperti narkoba, miras, rokok tanpa cukai, sampai hasil hutan juga sering diselundupkan. Operasi gabungan bikin jalurnya makin sempit.
3. Perkuat Kehadiran Negara
Ini yang paling penting. Warga Badau harus merasakan bahwa negara hadir.
Negara melindungi. Negara mengawasi. Bukan membiarkan perbatasan jadi “tanah tak bertuan”. Dengan rutin turun ke lapangan, aparat menunjukkan NKRI ada di sini, NKRI jaga di sini.
“Kegiatan serupa akan terus dilakukan sebagai bentuk komitmen Imigrasi Putussibau dalam menjaga stabilitas keamanan, ketertiban serta kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di kawasan strategis Badau yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia,” lanjut Naufal.
Imigrasi menitip pesan ke seluruh masyarakat Badau dan Kapuas Hulu bagian hulu. Kedaulatan negara bukan hanya tugas aparat berseragam. Warga perbatasan adalah garda terdepan.
“Kalau melihat aktivitas mencurigakan orang asing mondar-mandir tanpa dokumen, ada perahu menyeberang malam-malam di jalur tidak resmi, atau ada barang mencurigakan masuk-keluar, segera laporkan. Bisa ke Pos TNI terdekat, Polsek Badau, Kantor Camat, atau langsung ke Kantor Imigrasi Putussibau, “pesan Naufal. (*)














