MATTANEWS.CO.ID, MUARA ENIM – Ketika harga karet terus berfluktuasi dan tidak lagi mampu menjadi tumpuan utama ekonomi keluarga, banyak warga Desa Lembak, Kabupaten Muara Enim, mulai mencari sumber penghasilan tambahan. Di tengah kondisi tersebut, kehadiran aktivitas industri minyak dan gas bumi (migas) perlahan menghadirkan peluang baru bagi masyarakat.
Salah satunya dirasakan Suratman.
Pagi itu, suara gerinda terdengar nyaring dari bengkel motor sederhana miliknya di Desa Lembak. Di tengah kesibukannya memperbaiki sepeda motor pelanggan, Suratman sesekali mengusap keringat yang membasahi dahinya.
Beberapa tahun lalu, penghasilannya hanya berkisar Rp1,5 juta per bulan. Kini, pendapatannya mencapai sekitar Rp3 juta setiap bulan.
“Bengkel sekarang lebih ramai. Banyak kendaraan yang datang servis dan ganti oli. Rezeki jauh lebih baik dibanding dulu,” katanya.
Bagi Suratman, peningkatan penghasilan itu bukan sekadar angka. Ia merasakan langsung dampak kehadiran industri migas yang beroperasi tidak jauh dari tempat usahanya.
Di balik peningkatan aktivitas ekonomi tersebut, berdiri sebuah lapangan migas dengan nama yang unik dan mudah diingat: Sumur Cantik.
Nama yang terdengar tidak lazim untuk sebuah sumur migas itu ternyata menyimpan cerita, harapan, sekaligus menjadi simbol bagaimana industri hulu migas menghadirkan efek berganda yang dirasakan masyarakat sekitar.
Sumur Cantik berada di Desa Lembak, Kabupaten Muara Enim, dalam wilayah kerja PT Sele Raya Belida (SRB). Lapangan ini menjadi salah satu destinasi kunjungan sekitar 80 wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan dalam kegiatan field trip yang digelar SKK Migas Perwakilan Sumbagsel bersama PT SRB, Senin (8/6/2026).
Di lokasi produksi seluas sekitar 1,2 hektare itu, para jurnalis melihat langsung proses produksi gas bumi yang selama ini menjadi salah satu penopang kebutuhan energi nasional.
Field Superintendent PT Sele Raya Belida, Elvi Kurnia Hakim, menjelaskan nama Sumur Cantik lahir dari doa dan harapan agar sumur yang dikembangkan mampu menghasilkan produksi yang optimal.
“Nama Sumur Cantik merupakan doa agar sumur ini memberikan hasil yang baik. Dahulu kawasan ini masih berupa hutan dan masyarakat sering mengaitkannya dengan cerita tentang tetangga yang tak kasat mata. Dari situlah nama Sumur Cantik muncul,” ujarnya.
Meski namanya sederhana, peran lapangan ini tidak bisa dianggap kecil.
Sejak mulai beroperasi pada 2019, Lapangan Cantik hingga kini masih menghasilkan sekitar 1,3 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) melalui Sumur Cantik-1. Produksi tersebut bahkan mampu melampaui proyeksi umur produksi yang diperkirakan saat awal pengembangan.
Bagi industri migas, kemampuan mempertahankan produksi merupakan tantangan tersendiri. Minyak dan gas bumi adalah sumber daya yang tidak terbarukan, sementara lapangan-lapangan yang sudah lama beroperasi secara alami akan mengalami penurunan produksi.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Syafri, mengatakan berbagai upaya terus dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Tanpa pengembangan lapangan dan penemuan cadangan baru, produksi migas akan terus menurun. Karena itu eksplorasi, pengeboran, dan optimalisasi lapangan menjadi sangat penting,” katanya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi mencapai target produksi minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari.
Namun, di Desa Lembak, migas tidak hanya berbicara tentang target produksi dan ketahanan energi.
Migas juga berbicara tentang kehidupan masyarakat.
Tidak jauh dari bengkel Suratman, Fajrul mengelola sebuah warung sembako kecil.
Warung yang dulunya hanya melayani kebutuhan warga sekitar kini menjadi tempat persinggahan para pekerja dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar wilayah operasi migas.
Menurut Fajrul, omzet usahanya meningkat sekitar 45 persen dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Kalau aktivitas perusahaan sedang ramai, pembeli juga bertambah. Perputaran uang di desa lebih hidup,” katanya.
Apa yang dialami Suratman dan Fajrul menunjukkan bagaimana kehadiran industri migas menciptakan efek berantai bagi ekonomi lokal.
Tidak hanya perusahaan yang bergerak, tetapi juga usaha-usaha kecil masyarakat yang tumbuh bersama aktivitas industri.
Efek berganda tersebut juga terasa di sektor pendidikan.
Iklimah, seorang guru di wilayah sekitar operasi, menyaksikan langsung perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, dukungan perusahaan terhadap fasilitas pendidikan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih baik.
“Kami merasakan manfaatnya. Sekolah menjadi lebih nyaman dan anak-anak lebih semangat belajar,” ujarnya.
Perubahan itu tercermin dari meningkatnya jumlah siswa di sekolah tempatnya mengajar. Jika sebelumnya tercatat sekitar 120 siswa, kini jumlahnya mencapai 150 siswa, atau meningkat sekitar 25 persen.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya terjadi pada sektor ekonomi, tetapi juga menyentuh kualitas sumber daya manusia.
Komitmen PT Sele Raya Belida terhadap masyarakat diwujudkan melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) yang mencakup bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.
Sepanjang 2025, perusahaan melaksanakan berbagai kegiatan sosial seperti sunatan massal, bantuan peralatan kesehatan, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan lansia, rehabilitasi sekolah, perbaikan fasilitas PAUD, penanaman mangrove, bantuan penanganan bencana, hingga pembangunan fasilitas umum.
Jangkauan program tersebut juga terus meningkat. Jika sebelumnya sekitar 300 warga menerima manfaat dari berbagai program sosial perusahaan, kini jumlahnya mencapai sekitar 510 orang, atau meningkat sekitar 70 persen.
Bagi masyarakat, angka itu bukan sekadar statistik.
Angka tersebut hadir dalam bentuk ruang kelas yang lebih layak, pelayanan kesehatan yang lebih baik, peluang usaha yang berkembang, hingga infrastruktur yang membantu aktivitas sehari-hari.
Ketua Forum Jurnalis Migas Sumatera Selatan, H. Oktaf Riyadi, menilai kunjungan lapangan seperti ini penting agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih utuh mengenai industri hulu migas.
Menurutnya, wartawan perlu melihat langsung bagaimana energi diproduksi sekaligus memahami manfaat yang dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan kepada wartawan untuk melihat langsung aktivitas industri migas sehingga pemberitaan yang dihasilkan lebih akurat, berimbang, dan edukatif,” katanya.
Di tengah tantangan pemenuhan kebutuhan energi nasional, Sumur Cantik menunjukkan bahwa industri hulu migas bukan hanya soal sumur, pipa, dan angka produksi.
Di balik gas yang mengalir dari perut bumi Muara Enim, terdapat bengkel yang semakin ramai, warung yang omzetnya meningkat, sekolah yang semakin hidup, serta masyarakat yang memperoleh manfaat nyata dari pembangunan.
Bagi Suratman, migas berarti pendapatan yang meningkat dua kali lipat. Bagi Fajrul, migas menghadirkan pembeli yang membuat omzet warungnya naik 45 persen. Bagi Iklimah, migas berarti ruang belajar yang lebih baik dan jumlah siswa yang bertambah dari 120 menjadi 150 orang.
Sementara bagi ratusan warga lainnya, manfaat itu hadir melalui berbagai program kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi yang kini menjangkau 510 penerima manfaat.
Itulah efek berganda sesungguhnya dari hulu migas.
Dari Sumur Cantik di Desa Lembak, energi tidak hanya mengalir untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Energi juga menggerakkan ekonomi desa, memperkuat pendidikan, memperluas manfaat sosial, dan menumbuhkan harapan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan industri migas.
Di balik namanya yang sederhana, Sumur Cantik menjadi bukti bahwa sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar produksi energi: menghadirkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitarnya.














