MATTANEWS. CO, PALEMBANG – Badan Semi Otonom (BSO) Senada, organisasi seni di bawah naungan Fakultas Psikologi UIN Raden Fatah Palembang, sukses menggelar pagelaran seni tahunan mereka di Gedung Academic Center UIN Raden Fatah Palembang pada Kamis (9/7/2026). Acara tahun ini tampil beda dengan mengawinkan sains psikologi dan kekayaan budaya Nusantara.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang menyisipkan sesi seminar materi, pagelaran kali ini murni dikonsep sebagai pertunjukan seni penuh (full performance). Langkah berani ini diambil untuk memberikan pengalaman visual dan emosional yang total bagi para pengunjung yang memadati gedung.
Ketua BSO Senada, Paramita—yang akrab disapa Mita—menjelaskan bahwa konsep acara ini berangkat dari keresahan terhadap generasi masa kini (Gen Z) yang mulai berjarak dengan akar budayanya akibat modernisasi. Menurutnya, hubungan antara psikologi dan budaya sangatlah erat karena keduanya sama-sama berpusat pada manusia.
”Psikologi itu identik dengan manusia dan jiwa, dan kami memandang bahwa budaya itu disalurkan melalui jiwa. Di era modern ini, banyak anak muda yang menganggap budaya hanya sekadar untuk dilestarikan, bukan diamalkan. Kami ingin mengingatkan kembali bahwa budaya itu unik, menarik, dan nilai-nilainya sangat bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Mita yang saat acara tampil anggun mengenakan pakaian adat Batak.
Mita menambahkan bahwa momentum ini juga bertepatan dengan semangat memeriahkan atmosfer budaya lokal pasca-kegiatan futsal Palembang beberapa waktu lalu, sekaligus menjadi pemantik agar budaya Palembang tidak meredup di tanah sendiri.
Untuk menarik minat generasi muda, BSO Senada dengan cerdas memadukan unsur modern dan tradisional. Aspek modern diwakili melalui penampilan band sebagai bagian dari seni masa kini, sementara aspek tradisional ditonjolkan lewat teater dan tari daerah.
Jika tahun lalu panggung teater mengangkat kisah haru tentang kepergian seorang ayah, tahun ini plot cerita bergeser pada dinamika psikologis sebuah keluarga pasca-ditinggalkan oleh sosok ibu. Melalui alur cerita yang menyentuh tersebut, penonton diajak untuk menyelami sisi psikologis manusia dalam menghadapi kedukaan (grief) dan kehilangan.
Selain budaya lokal Palembang yang menjadi sorotan utama, keberagaman Nusantara juga dihadirkan secara nyata melalui suguhan Tari Minang, Tari Jawa, Tari Bali, hingga representasi budaya Batak.
Strategi branding yang gencar dilakukan oleh panitia melalui media sosial seperti Instagram dan WhatsApp terbukti ampuh memantik rasa penasaran publik. Ketua Pelaksana Kegiatan, Alya Marsanda, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat pada tahun ini di luar ekspektasi awal.
”Target awal peserta kami sebenarnya 350 orang. Tapi melihat padatnya gedung hari ini, tampaknya penonton yang hadir jauh melebihi target tersebut,” ungkap Alya.
Sifat acara yang inklusif membuat pagelaran ini dihadiri oleh penonton yang sangat beragam. Kursi Gedung Academic Center dipadati oleh siswa-siswi SMA/SMK di Palembang, mahasiswa dari berbagai fakultas dan universitas lain, hingga para orang tua wali dari panitia yang sengaja hadir untuk memberikan dukungan moral.
Dengan suksesnya gelaran ini, BSO Senada Fakultas Psikologi UIN Raden Fatah Palembang berhasil membuktikan bahwa seni pertunjukan bukan sekadar tontonan, melainkan media refleksi jiwa yang mampu menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap identitas bangsanya.














