MATTANEWS.CO, OKI – Peringatan Tragedi 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai peristiwa Kudatuli tak sekadar menjadi ritus sejarah bagi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Momentum kelam dalam lintasan demokrasi Indonesia itu dijawantahkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan kebangsaan melalui pendidikan politik bagi para kader di Bumi Bende Seguguk.
Dalam kegiatan yang digelar di kantor DPC PDI Perjuangan OKI tersebut, Ketua DPC PDI Perjuangan OKI Febriansyah Wardana hadir didampingi oleh Sekretaris DPC dr. Gede Suwardi dan Bendahara DPC M. Amin. Langkah ini merupakan resonansi dari instruksi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Sumatera Selatan yang mengamanatkan konsolidasi dan pendidikan politik secara berkesinambungan.
Selain arahan struktural, agenda tersebut menjadi medium bagi para kader untuk menapak tilas sejarah. Febriansyah menegaskan, Kudatuli sejatinya bukan sekadar peristiwa sejarah milik PDI Perjuangan semata, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.
“Tragedi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang perjalanan bangsa dalam memperjuangkan tegaknya tatanan demokrasi, kesejahteraan, serta keadilan bagi seluruh tumpah darah Indonesia,” ujarnya Jumat (31/7/2026).
Kesadaran sejarah semacam ini, menurut Febriansyah, adalah jangkar utama bagi kader sebelum merajut kiprah di ranah publik. Tanpa pemahaman masa lalu, praktik-praktik otoritarian yang mengoyak tatanan demokrasi rentan terulang kembali.
“Mari kita pelajari apa itu Kudatuli. Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan demokrasi di Indonesia. Dari peristiwa tersebut kita belajar bahwa demokrasi, keadilan, dan kebenaran tidak pernah lahir tanpa adanya pengorbanan,” tutur Febriansyah.
Melalui pendidikan wawasan kebangsaan, partai berupaya merawat ingatan kolektif sekaligus pembekalan ideologis untuk membumikan laku Pancasila, merawat kebinekaan, serta membangun kehidupan demokrasi yang berkeadaban.
Semangat perlawanan terhadap represi yang meletup pada 27 Juli silam diharapkan terus mengalir dalam urat nadi kader. Dikatakan Febriansyah, bukan untuk merawat dendam masa lalu, melainkan sebagai bahan bakar untuk menenun persatuan nasional dan merawat Indonesia yang berdaulat, adil, serta bertumpu pada spirit gotong royong.
“Peringatan Kudatuli bukan hanya menjadi momentum mengenang peristiwa bersejarah, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh kader PDI Perjuangan untuk terus mengabdi kepada rakyat, menjaga demokrasi, serta memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.














