MATTANEWS.CO, MALANG — Pemerintah Kota Malang terus memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan. Penanaman pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana sejak usia dini dinilai penting untuk membentuk siswa yang tanggap, mandiri, sekaligus mampu mengambil keputusan tepat saat menghadapi situasi darurat.
Upaya tersebut dilakukan melalui Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kota Malang, Senin (14/9/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian edukasi kebencanaan yang tidak hanya menyasar satuan pendidikan, tetapi juga masyarakat.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, pelaksanaan SPAB merupakan tindak lanjut atas aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
“Ini adalah program sebagai tindak lanjut dari Musrenbang yang memang diinginkan oleh masyarakat Kota Malang,” ujar Wahyu.
Menurutnya, sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kebencanaan. Selain rumah, sekolah merupakan lingkungan yang banyak menghabiskan waktu anak setiap harinya. Karena itu, pemahaman mengenai potensi bencana, mitigasi, hingga prosedur penyelamatan perlu dikenalkan secara sistematis sejak dini.
Wahyu menegaskan, edukasi kebencanaan tidak sebatas mengenalkan berbagai jenis bencana kepada siswa. Lebih dari itu, mereka harus memahami tindakan yang harus dilakukan ketika kondisi darurat terjadi, termasuk cara menyelamatkan diri dan mengurangi risiko terhadap orang-orang di sekitarnya.
Dalam pelaksanaan SPAB tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang turut mengevaluasi kesiapan lingkungan sekolah. Pengecekan dilakukan terhadap sejumlah sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan dalam menghadapi kondisi darurat.
Salah satu perhatian utama adalah keberadaan dan kejelasan jalur evakuasi. Menurut Wahyu, jalur penyelamatan harus mudah dikenali oleh seluruh warga sekolah agar proses evakuasi dapat berlangsung cepat dan terarah ketika bencana terjadi.
“Jalur evakuasinya juga akan diperjelas agar pada saat bencana nanti kita bisa mengantisipasi, paling tidak meminimalkan terjadinya korban,” jelasnya.
Keterlibatan wali murid juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Orang tua diberikan pemahaman mengenai materi kesiapsiagaan bencana agar pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah dapat diterapkan pula di lingkungan keluarga.
Dengan demikian, pendidikan kebencanaan diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah.
“Kesamaan pemahaman antara anak dan orang tua mengenai langkah penyelamatan dapat memperkuat kesiapsiagaan keluarga sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih tangguh dalam menghadapi potensi bencana,’ tuturnya.
Sosialisasi SPAB di MIN 1 Kota Malang merupakan kegiatan ke-38 dalam rangkaian edukasi kebencanaan yang telah dilaksanakan.
Program tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai taman kanak-kanak hingga sekolah lanjutan tingkat atas.
“Edukasi kebencanaan juga diperluas ke lingkungan masyarakat melalui sosialisasi di tingkat RT, RW hingga kelurahan,”
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab satuan pendidikan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Pemkot Malang berharap penguatan literasi kebencanaan yang dilakukan secara berkelanjutan mampu membentuk masyarakat yang lebih tanggap dan siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Dengan pengetahuan, sarana pendukung, serta prosedur evakuasi yang memadai, risiko dan dampak bencana diharapkan dapat ditekan, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak.














