MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Euforia pelantikan 111 Kepala Desa terpilih se-Kabupaten Kapuas Hulu, Kamis (17/9/2026), menyisakan satu cerita pilu dari pedalaman. Di saat Kades lain bicara soal program 100 hari, Kepala Desa Batu Tiga yang baru saja dilantik, Susan, justru membawa kabar duka tentang keterisolasian desanya yang sudah berlangsung belasan tahun.
Kepada wartawan usai pelantikan di Gedung Pelayanan Satu Atap Putussibau, Kades Susan mengungkapkan fakta pahit yang dihadapi 200 Kepala Keluarga (KK) di desanya setiap musim kemarau tiba.
Menurut Susan, Desa Batu Tiga selama ini hanya memiliki dua pilihan akses untuk menuju pusat kecamatan dan keluar desa jalur sungai dan jalur darat. Namun mirisnya, kedua akses tersebut tidak bisa diandalkan sepanjang tahun.
“Jalur sungai melalui Sungai Mentebah, Desa Batu Tiga, tidak dapat menjadi akses yang mudah digunakan ketika debit air menurun akibat musim kemarau,” jelasnya.
Ia memaparkan, saat musim kemarau tiba, debit Sungai Mentebah turun drastis hingga ke titik terendah. Perahu motor yang menjadi satu-satunya transportasi sungai tidak bisa masuk sama sekali. Akibatnya, urat nadi logistik desa terputus total.
“Distribusi sembako, BBM, gas, hingga obat-obatan terhenti. Warga tidak bisa berbuat apa-apa ketika sungai kering,” ujar Susan.
Ia ceritakan, krisis yang terjadi pada kemarau kemarin menjadi puncak penderitaan warga. Karena sungai tidak bisa dilewati dan jalan darat hancur, harga barang melambung tinggi. Bahkan sempat terjadi kepanikan luar biasa di tengah masyarakat.
“Dampaknya barang jadi mahal kalau kemarau. Kalau kayak kemarau kemarin, masyarakat sempat rebutan beras karena memang krisis. Itu sempat kami kirim ke platform media sosial, bisa dilihat,” ungkap Susan.
Tak hanya itu, jalan darat yang menjadi satu-satunya harapan pun kondisinya sangat memprihatinkan.
“Panjang jalan penghubung dari Nanga Dua ke Batu Tiga sekitar 18 Kilometer, namun untuk melintasinya warga harus berjuang selama 4 sampai 5 jam berjalan kaki karena rusaknya yang sudah sangat parah, “ulasnya.
Dijelaskan Susan, jalan itu sendiri pernah disentuh pemerintah pada tahun 2017 dengan membangun jembatan, namun setelah itu tidak pernah ada perawatan berkelanjutan.
Untuk itu, kata Susan tidak ingin desanya mati kelaparan karena menunggu bantuan yang tak kunjung datang, Kades Susan akhirnya mengambil langkah berani. Bersama masyarakat, ia memimpin aksi swadaya memperbaiki jalan secara gotong royong.
“Kemarin dengan swadaya masyarakat sedang memperbaiki jalan, sampai hari ini karena jalan rusak parah. Bangun jembatan supaya beras bisa masuk. Kalau tidak, mati kelaparan kita kalau menunggu pemerintah,” tegasnya.
Aksi swadaya itu, ada informasi bahwa jalan yang paling parah akan segera disemen dengan swadaya masyarakat.
Susan mengaku sangat kecewa dengan perhatian pemerintah selama ini. Padahal, para pejabat sering datang ke desanya dan melihat langsung betapa hancurnya akses jalan tersebut.
“Sebelum efisiensi anggaran kita memang tidak diperhatikan. Karena apa, para pejabat ini sering datang ke desa kita dan mereka tau kondisi jalan Batu Tiga, seharusnya ditindaklanjuti, paling tidak bisa dilewati oleh motor,” keluhnya.
Di tengah krisis anggaran saat ini, Susan dan warganya tidak muluk-muluk. Mereka tidak meminta jalan aspal mulus seperti di kota.
“Kami di tengah krisis anggaran tidak mengharapkan harus aspal. Yang penting bisa dilewati oleh motor. Itu saja sudah cukup bagi kami,” pintanya.
Kini, setelah resmi dilantik, Kades Susan mengaku telah berdiskusi dengan seluruh perangkat desanya. Langkah pertama yang akan mereka tempuh adalah mengetuk pintu hati pemerintah.
“Kemarin kami pernah berdiskusi dengan perangkat desa, mau menemui Bupati atau pemerintah terkait. Kami ingin menyampaikan langsung jeritan warga Batu Tiga, agar kami tidak lagi terisolir,” pungkasnya. (*)














