MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Sebuah drama infrastruktur memilukan sekaligus mengharukan terjadi di ujung paling terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kecamatan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu.
Dua jembatan vital yang menjadi nadi kehidupan dan satu-satunya akses masyarakat untuk keluar masuk melalui jalan negara, yakni Jembatan Kurak dan Jembatan Sepuak di Dusun Melancau, Desa Sungai Mawang, yang kondisinya rusak parah dan mengancam keselamatan, akhirnya berhasil diselamatkan.
Bukan oleh pemerintah, melainkan oleh kepedulian perusahaan perkebunan sawit PT. SKK yang turun tangan langsung memperbaiki kedua jembatan tersebut pada Jumat dan Sabtu, 28-29 Agustus 2026.
Kabar bahagia ini dibenarkan langsung oleh Camat Puring Kencana, Piet Soemaryoto, saat dikonfirmasi pada Kamis (18/9/2026) malam.
“Iya itu sudah diperbaiki oleh perusahaan sawit PT. SKK pada Hari Jumat dan Sabtu 28-29 Agustus 2026. Jembatan Kurak dan Sepuak di Dusun Melancau, Desa Sungai Mawang, Kecamatan Puring Kencana,” ujar Camat Piet Soemaryoto.
Camat Piet Soemaryoto tidak henti-hentinya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT SKK.
Menurutnya, apa yang dilakukan perusahaan sawit tersebut adalah wujud nyata dari gotong royong dan partisipasi swasta dalam membangun perbatasan.
“Ini bentuk partisipasi pihak swasta dalam ikut berperan serta membantu membangun dan memelihara sarana dan prasarana yang ada agar masyarakat lebih mudah melaksanakan aktivitas melalui jalan negara,” jelasnya.
Bahkan, Camat Piet Soemaryoto mengungkapkan bahwa kegiatan sosial seperti ini bukanlah yang pertama kali. Perusahaan-perusahaan sawit di wilayahnya memang rutin melakukan aksi kemanusiaan untuk membantu masyarakat.
“Kegiatan ini rutin dilakukan oleh perusahaan perkebunan sawit,” tambahnya.
*JLEB! FAKTA PAHIT: LOKPRI TAPI TAK PUNYA PROGRAM PRIORITAS*
Namun, di balik rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada PT SKK, Camat Piet justru menyampaikan sebuah fakta pahit, sebuah kritik pedas dan tamparan keras yang ditujukan kepada pemerintah Kabupaten, Provinsi, hingga Pemerintah Pusat.
Dengan suara yang terdengar berat, Camat Piet Soemaryoto membongkar sebuah ironi besar yang terjadi di Puring Kencana.
“Tentunya kita berharap infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan dan listrik menjadi perhatian bagi pemerintah daerah baik di kabupaten dan provinsi maupun pemerintah pusat,” harapnya.
Mengapa harapan itu begitu besar? Karena ada sebuah fakta yang sangat mencengangkan yang mungkin belum banyak orang tahu.
Kecamatan Puring Kencana adalah SATU-SATUNYA kecamatan di seluruh Kabupaten Kapuas Hulu yang ditetapkan sebagai Lokasi Prioritas (Lokpri) Tahun 2026 oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI.
Status Lokpri adalah status emas. Artinya, Puring Kencana seharusnya menjadi anak emas, menjadi prioritas utama pembangunan perbatasan, diguyur program-program strategis nasional, dibangun jalannya, diterangi listriknya, dan disejahterakan masyarakatnya.
*TAPI FAKTANYA?*
“Mengingat Kecamatan Puring Kencana merupakan satu-satunya kecamatan yang menjadi Lokasi Prioritas (Lokpri) di Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2026 oleh BNPP RI. Namun faktanya sampai saat ini belum ada program prioritas yang berjalan di Puring Kencana,” bongkar Camat Piet Soemaryoto.
Sungguh miris! Berstatus Lokasi Prioritas Nasional, tapi untuk memperbaiki dua jembatan yang rusak saja, harus menunggu belas kasihan dan kepedulian dari perusahaan swasta.
“Lalu kemana program-program prioritas yang dijanjikan negara untuk wilayah perbatasan terdepan, “tanya Piet Soemaryoto kesal.
*DAFTAR PEKERJAAN RUMAH YANG MENGANGA: LISTRIK GELAP, SEKOLAH RUSAK, PUSTU MEMPRIHATINKAN*
Camat Piet pun tidak berhenti sampai di situ. Ia membeberkan daftar panjang pekerjaan rumah infrastruktur dasar yang masih sangat memprihatinkan dan butuh sentuhan segera dari pemerintah.
Menurutnya, persoalan bukan hanya Jembatan Kurak dan Sepuak saja.
“Jembatan, listrik khususnya Dusun Melancau, Desa Sungai Mawang dan Dusun Jaung, Desa Langau,” rincinya.
Ia jelaskan, bayangkan, di tahun 2026 ini, masih ada dusun di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang belum menikmati terang benderangnya listrik.
“Warga Dusun Melancau dan Dusun Jaung masih harus hidup dalam kegelapan saat malam tiba. Padahal mereka adalah garda terdepan penjaga kedaulatan NKRI, “bebernya.
Tak hanya itu, Camat Piet juga menyoroti kondisi fasilitas pendidikan dan kesehatan yang sangat menyedihkan.
“Beberapa bangunan sekolah dan Pustu juga banyak perlu perbaikan,” ungkapnya.
Menurut Piet, anak-anak perbatasan yang seharusnya mendapatkan pendidikan terbaik, harus belajar di bangunan sekolah yang rusak, bocor, dan tidak layak. Masyarakat yang sakit, harus berobat ke Puskesmas Pembantu (Pustu) yang kondisinya juga butuh perbaikan segera.
“Kisah perbaikan Jembatan Kurak dan Sepuak oleh PT SKK ini adalah sebuah potret kecil. Potret tentang betapa kuatnya gotong royong di perbatasan, tapi juga potret tentang betapa rapuhnya kehadiran negara di wilayah Lokpri, “ungkapnya.
Ia berharap bola panas ada di tangan pemerintah. Masyarakat Puring Kencana tidak butuh janji manis di atas kertas tentang status Lokpri.
“Mereka butuh bukti nyata jalan mulus, jembatan kokoh, listrik terang, sekolah layak, dan Pustu yang memadai.
Jangan biarkan mereka menjaga perbatasan dengan perut lapar dan dalam kegelapan, “pungkasnya mengakhiri.
Sementara, Manajemen PT Sawit Kapuas Kencana (PT SKK) buka suara terkait aksi perbaikan dua jembatan vital di Kecamatan Puring Kencana yang sempat viral dan diapresiasi oleh Camat.
Asiten CSR PT SKK, Panji Wira membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan perbaikan Jembatan Kurak dan Jembatan Sepuak di Dusun Melancau, Desa Sungai Mawang, Kecamatan Puring Kencana pada Jumat dan Sabtu, 28-29 Agustus 2026.lalu
“Benar, perbaikan Jembatan Kurak dan Sepuak di Dusun Melancau itu kami lakukan pada tanggal 28-29 Agustus 2026. Kondisinya memang sudah cukup memprihatinkan dan sangat vital bagi aktivitas masyarakat melalui jalan negara, jadi harus segera kami tangani,” ujar Panji Wira Asiten CSR PT SKK, Minggu (19/9/2026).
Menurut Panji, aksi tersebut bukanlah pencitraan, melainkan bagian dari komitmen dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang rutin dilakukan.
“Ini adalah bentuk partisipasi pihak swasta dalam ikut berperan serta membantu membangun dan memelihara sarana dan prasarana yang ada. Kami ingin masyarakat lebih mudah melaksanakan aktivitas. Kegiatan seperti ini rutin kami lakukan sebagai perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di wilayah ini,” tegasnya.
Panji berharap sinergi antara perusahaan, pemerintah kecamatan, dan masyarakat bisa terus terjaga, terutama untuk mendukung pembangunan infrastruktur dasar di wilayah perbatasan yang berstatus Lokasi Prioritas (Lokpri).
“Kami akan terus berupaya hadir dan membantu. Karena kami percaya, jika infrastruktur bagus, ekonomi masyarakat juga akan maju,” tutupnya.
Secara khusus, Manajemen PT SKK, Konstantinus Rey, menegaskan bahwa perbaikan jembatan tersebut adalah panggilan moral perusahaan untuk hadir di tengah kesulitan masyarakat perbatasan.
“Saya Konstantinus Rey dari Manajemen PT SKK, kami tidak bisa diam melihat masyarakat kesulitan. Jembatan Kurak dan Sepuak itu adalah urat nadi satu-satunya, kalau putus, aktivitas warga lumpuh total. Jadi kami langsung turunkan tim dan alat pada 28-29 Agustus kemarin,” ujar Konstantinus Rey.
Ia juga menekankan komitmen jangka panjang PT SKK di Puring Kencana.
“Bagi kami di PT SKK, membangun infrastruktur itu bukan hanya tugas pemerintah. Selagi kami mampu dan itu untuk kepentingan orang banyak, kami akan bantu. Kami berharap sinergi antara perusahaan, pemerintah kecamatan, dan masyarakat bisa terus terjaga, terutama untuk mendukung pembangunan di wilayah perbatasan yang berstatus Lokasi Prioritas (Lokpri). Kami akan terus berupaya hadir, karena jika infrastruktur bagus, ekonomi masyarakat juga akan maju,” tutup Konstantinus Rey. (*)














