BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARAPEMERINTAHAN

Normalisasi Irigasi Jadi Harapan 180 Hektare Sawah Singosari

×

Normalisasi Irigasi Jadi Harapan 180 Hektare Sawah Singosari

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, MALANG – Setelah lima tahun berhadapan dengan persoalan kekurangan air, ratusan petani di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mulai mendapatkan harapan baru. Pembongkaran beton penutup saluran irigasi Sungai Klampok di selatan Pasar Singosari membuka kembali akses air menuju persawahan di Kelurahan Pagentan serta Desa Watugede dan Tamanharjo.

Meski alirannya belum mencukupi kebutuhan seluruh lahan, kembalinya pasokan air menjadi perkembangan penting bagi petani. Mereka berharap normalisasi berlanjut hingga saluran berfungsi optimal dan mampu menopang kegiatan pertanian secara berkelanjutan.

“Sudah ada air, meski harus dibagi. Itu setelah dilakukan pembongkaran cor beton yang menutup saluran irigasi di selatan Pasar Singosari dua minggu lalu,” tutur Turmuji, petani asal Desa Watugede, Selasa (13/10/2026).

Persoalan irigasi ini berdampak pada lahan pertanian seluas 180 hektare. Sebanyak 61 hektare berada di Kelurahan Pagentan, 69 hektare di Desa Watugede, dan 50 hektare di Desa Tamanharjo. Bagi petani di tiga wilayah tersebut, kelancaran pasokan air menentukan keberlangsungan musim tanam sekaligus kestabilan pendapatan keluarga.

Sebelum pembongkaran beton, para petani berulang kali berupaya membuka jalur air secara mandiri. Mereka membersihkan lumpur dan sampah menggunakan bambu, terutama di sekitar gorong-gorong bawah Jembatan Singosari yang melintasi jalur nasional Malang–Surabaya.

Namun, penumpukan sedimentasi membuat upaya tersebut semakin sulit. Dalam dua tahun terakhir, endapan tanah mengeras dan menutup akses menuju gorong-gorong. Kondisi ini menghambat pekerjaan pembersihan sekaligus mempersempit jalur distribusi air menuju persawahan.

Keterbatasan ruang di dalam saluran menambah kesulitan para petani. Lumpur yang memadat selama bertahun-tahun tidak lagi mudah terangkat dengan peralatan sederhana. Karena itu, mereka membutuhkan penanganan menggunakan alat berat untuk menjangkau bagian yang sulit dibersihkan secara manual.

Bagi Turmuji, gangguan irigasi bukan sekadar persoalan teknis. Ketersediaan air berkaitan langsung dengan produktivitas lahan dan pendapatan yang ia peroleh dari usaha tani.

Ia memperkirakan lahan seluas seperempat hektare atau 2.500 meter persegi miliknya mampu menghasilkan sekitar 1,5 ton padi varietas Inpari atau IR 32 ketika pasokan air mencukupi.

Dari hasil panen tersebut, Turmuji dapat memperoleh nilai penjualan sekitar Rp10 juta dalam satu musim tanam. Setelah mengurangi biaya operasional sebesar Rp7 juta, keuntungan bersihnya berkisar Rp3 juta.

Gambaran tersebut memperlihatkan besarnya risiko ekonomi yang muncul ketika pasokan air terganggu. Kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan hasil panen, dan mengurangi pendapatan petani yang bergantung pada produktivitas sawah.

Di tengah persoalan itu, Turmuji mengapresiasi peran Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang, Abdulloh Satar, yang memfasilitasi aspirasi petani dan mengawal penanganan irigasi Sungai Klampok.

“Jika sedimentasinya bisa dibersihkan total, mungkin sudah tak ada kekeringan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan harapan petani agar penanganan tidak berhenti pada pembukaan saluran. Mereka membutuhkan normalisasi menyeluruh supaya distribusi air kembali lancar dan persoalan kekeringan tidak terus berulang.

Upaya pemulihan memasuki tahap baru pada Selasa (29/9/2026), ketika ekskavator membongkar beton penutup saluran irigasi Sungai Klampok. Pekerjaan tersebut membuka akses menuju gorong-gorong sepanjang 81 meter yang sebelumnya tertutup konstruksi.

Bangunan beton itu telah berdiri sejak 2012 dan menaungi saluran yang melintas di bawah deretan 24 kios. Dari keseluruhan konstruksi, petugas berhasil membongkar bagian sepanjang 31 meter untuk mendukung proses pembersihan sedimentasi.

Setelah akses terbuka, petani dari Kelurahan Pagentan serta Desa Watugede dan Tamanharjo bergotong royong membersihkan saluran. Mereka masuk ke gorong-gorong yang gelap dan mengangkat endapan lumpur serta sampah yang selama ini menghambat aliran air.

Kerja bersama tersebut berhasil mengeluarkan sekitar 20 dump truck material sedimentasi dan sampah. Meski jumlahnya cukup besar, pembersihan itu belum menjangkau seluruh endapan yang menumpuk di sepanjang saluran.

Salah satu titik yang membutuhkan perhatian berada di bawah Jembatan Singosari. Di lokasi tersebut, sedimentasi mengeras hingga mendekati langit-langit bangunan. Sampah rumah tangga, termasuk plastik dan bantal, turut bercampur dengan endapan sehingga menambah beban pekerjaan normalisasi.

Melihat kondisi saluran yang masih dipenuhi sedimentasi, Abdulloh Satar atau Gus Satar mendorong pengerahan alat berat untuk mempercepat pembersihan. Pengerukan dengan ekskavator dinilai diperlukan agar petugas dapat menjangkau bagian yang tidak memungkinkan untuk dibersihkan secara manual.

“Hari ini, kami bersama petani menyiapkan tempat buat ekskavator, yang akan mengeruk sedimentasi di bawah jembatan,” tutur anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang tersebut.

Gus Satar memperkirakan masih terdapat sekitar 30 dump truck material yang perlu diangkut melalui pengerukan menggunakan alat berat. Perkiraan itu menunjukkan besarnya pekerjaan yang tersisa sebelum saluran mampu menyalurkan air secara lebih optimal.

Persiapan lokasi untuk ekskavator menjadi tahapan penting dalam proses tersebut. Dengan dukungan peralatan yang memadai, pengerukan diharapkan mampu mengangkat sedimentasi yang mengeras sekaligus memperlancar jalur distribusi air menuju lahan pertanian.

Meski demikian, pembongkaran beton baru membuka akses penanganan. Pemulihan fungsi irigasi tetap bergantung pada keberhasilan membersihkan endapan dan sampah yang menyumbat saluran.

Pemerintah Kabupaten Malang juga menyiapkan langkah untuk melanjutkan normalisasi irigasi Sungai Klampok. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Malang, Yudi Hindharto, menyatakan pihaknya tengah mempersiapkan pengerahan alat berat untuk mengeruk sisa sedimentasi di bawah Jembatan Singosari.

Yudi menempatkan kelancaran irigasi sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha tani. Ia berharap pengerukan dapat mengatasi hambatan aliran air sehingga petani memperoleh pasokan yang lebih memadai dan dapat mengurangi risiko gagal panen.

“Normalisasi irigasi itu jadi atensi kami biar petani senang dan tak sampai terancam gagal panen,” tegasnya.

Pengerahan ekskavator diharapkan melengkapi upaya pembersihan yang sebelumnya mengandalkan gotong royong petani. Namun, pemerintah tetap perlu memastikan pekerjaan menjangkau titik-titik sumbatan agar aliran air dapat menjangkau lahan yang membutuhkan.

Petani Menanti Kepastian Pasokan Air

Bagi petani Pagentan, Watugede, dan Tamanharjo, keberhasilan normalisasi tidak semata-mata ditentukan oleh terbukanya beton penutup atau banyaknya sedimentasi yang berhasil diangkut. Mereka menunggu bukti bahwa saluran mampu mengalirkan air secara memadai hingga ke seluruh petak sawah terdampak.

Keterlibatan petani dalam pembersihan saluran menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap pemulihan irigasi. Karena itu, dukungan pemerintah daerah dan pengawalan DPRD perlu berjalan beriringan dengan partisipasi warga agar penanganan tidak berhenti di tengah jalan.

Kini, air yang mulai mencapai persawahan menjadi titik terang setelah bertahun-tahun petani menghadapi keterbatasan pasokan. Namun, sedimentasi yang masih tersisa menuntut pekerjaan lanjutan sebelum mereka dapat mengandalkan saluran tersebut secara optimal.

Normalisasi menyeluruh menjadi kunci untuk memulihkan fungsi irigasi Sungai Klampok. Bagi ratusan petani Singosari, kelancaran air bukan hanya menyangkut keberhasilan musim tanam, melainkan juga perlindungan terhadap hasil panen, pendapatan keluarga, dan keberlanjutan usaha pertanian mereka.

Penulis: M Solikin
Editor: Selfy