Oleh : Gatot Sugiharto
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Aku sering bertanya, apa yang sebenarnya dipelajari manusia dari sejarah? Ribuan tahun peradaban meninggalkan catatan tentang
kebijaksanaan, keadilan, cinta kasih, juga keserakahan dan kehancuran. Kitab-kitab suci mengajarkan kebaikan, para filsuf memperdebatkan kebajikan, sementara sejarah berulang kali memperlihatkan akibat ketika manusia mengkhianati nilai-nilai tersebut. Anehnya, kesalahan yang sama terus menemukan jalan untuk kembali.
Dalam perjalanan membaca sejarah, aku menemukan sesuatu yang menggelisahkan. Sebuah kesalahan tidak selalu bertahan karena manusia tidak tahu bahwa itu salah. Terkadang justru karena terlalu banyak orang mengetahuinya, tetapi memilih diam.
Pembiaran yang berlangsung lama melahirkan kebiasaan. Kebiasaan memperoleh penerimaan sosial, lalu diwariskan sebagai sesuatu yang wajar. Pada keadaan tertentu, ia bahkan mendapat pembenaran melalui lembaga dan aturan. Di sinilah paradoks peradaban bermula. Sesuatu yang keliru tidak berubah menjadi benar hanya karena dilakukan banyak orang.
Namun manusia dapat kehilangan kemampuan mengenali kekeliruan ketika lingkungan terus-menerus menyebutnya sebagai kewajaran. Sejarah perbudakan memperlihatkan bagaimana manusia pernah dianggap milik manusia lainnya. Kolonialisme pun kerap mendapatkan pembenaran melalui bahasa kemajuan dan peradaban.
Keduanya mengingatkan bahwa hukum dan penerimaan sosial tidak selalu berjalan seiring dengan keadilan. Kemudian aku melihat hubungan manusia dengan keyakinannya sendiri. Kita hidup dalam masyarakat yang akrab dengan bahasa agama. Kebaikan diajarkan, kejujuran dimuliakan, kasih sayang dianjurkan. Namun kedekatan dengan ajaran tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku. Seseorang dapat begitu tekun menjaga ketentuan ritual, tapi tergesa-gesa menghakimi sesamanya. Begitu mudah menyatakan sesuatu najis, tetapi kurang hati-hati terhadap perkataan yang melukai martabat manusia.
Padahal menilai suatu perbuatan tidak sama dengan menghakimi keseluruhan keberadaan pelakunya. Manusia punya kemungkinan untuk belajar, memperbaiki diri, dan berubah. Aku teringat perdebatan panjang dalam filsafat tentang hubungan pengetahuan dan tindakan. Aristoteles menyebut persoalan akrasia. Dua milenium lebih sudah berlalu, dan kita punya ilmu pengetahuan yang jauh lebih luas. Tapi pertanyaannya tetap hidup. Mengapa mengetahui kebaikan, tidak selalu membuat manusia mau melakukannya? Barangkali karena akal tidak hanya digunakan untuk menemukan kebenaran.
Ia juga dapat bekerja begitu canggih untuk membenarkan kepentingan, mempertahankan kenyamanan, bahkan melindungi kesalahan yang telah menjadi bagian dari kehidupan.
Aku tidak menganggap seluruh warisan masa lalu sebagai kekeliruan. Banyak kearifan leluhur justru menjaga keseimbangan kehidupan jauh sebelum manusia mengenal istilah-istilah modern tentang keberlanjutan. Namun, menghormati warisan tidak berarti berhenti mempertanyakannya. Kebudayaan yang hidup semestinya memberi ruang bagi manusia untuk memeriksa kembali apa yang patut dipertahankan, dan apa yang harus ditinggalkan.
Mungkin persoalan terbesar kita bukan kekurangan pengetahuan, melainkan keberanian moral untuk mempertemukan pengetahuan dengan tindakan. Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang melakukan kesalahan. Ia juga menyimpan jejak mereka yang mengetahui, menyaksikan, tetapi memilih diam. Dan aku membayangkan suatu hari generasi setelah kita membaca sejarah zaman ini, lalu mengajukan pertanyaan yang sama seperti ketika kita membaca sejarah masa lalu.
“Jika mereka sudah tahu bahwa itu salah, mengapa mereka tetap membiarkannya?”.














