Reporter : Zulfi
ACEH TAMIANG, Mattanews.co – Menjadi tukang sol sepatu bagi Zul Bakri (56) merupakan takdir hidup yang ia nikmati.
Kakek Zul ini hampir seumur hidupnya menjalani profesi sebagai tukang sol sepatuz di Pasar tradisional kota Kuala Simpang Aceh Tamiang.
Dari pekerjaannya, ia mampu menghidupi beberapa orang anaknya hingga berkeluarga dan hidup mandiri.
Siang itu, Sabtu (11/4/2020), terlihat ia duduk termangun di lapak tempat biasa dia bekerja.
Dia pun berharap, ada orang yang datang membawa sepatu mereka rusak mereka untuk diperbaikinya.
Sudah dua minggu terakhir, kondisi pasar di Kualasimpang mulai sepi yang berimbas terhadap pendapatannya.
Hal itu dipicu dengan wabah Corona yang merebak di dunia, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang.
Sejak itulah dia mulai merasakan semakin sulitnya mendapatkan penghasilan.
“Saat ini kondisi hidup semakin sulit, ditambah lagi dengan situasi virus corona saat ini. Setiap hari saja, hanya dapat membawa pulang paling banyak rata-rata berkisar Rp 50.000,” cerita Zul Bakri kepada Mattanews.co, Minggu (12/4/2020).
Kadang kala, ia pulang ke rumah dengan tangan hampa. Karena tidak ada konsumen yang menjahit atau memperbaiki sepatu.
“Pulang dengan tangan kosong tak bawa uang sering sekali saya alami belakangan ini. Namun, apa mau dikata, pasrah saja. Rezeki ada yang mengatur,” kata dia pasrah diri.
Zul mengisahkan, banyak kisah duka ketika ia menjadi tukang sol sepatu di pasar tradisional.
Dia dan beberapa rekan seprofesinya beberapa kali digusur, karena dianggap melanggar ketertiban umum.
Saat ini dia bersama 16 tukang sol lainnya, tidak memiliki tempat permanen di pasar.
“Dan kini kami menempati halaman parkir dibekas bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Kualasimpang untuk mendapatkan rezeki untuk hidup,” katanya.
Meski diakuinya kondisi perekonomian keluarganya dalam keadaan sulit, Zul tidak mematok harga tinggi untuk pembayaran atas hasil pekerjaannya.
Kadang ia dibayar per pasang sepatu hanya Rp10.000 – Rp15.000
” Yang penting pelanggan puas sepatu atau sandalnya bagus itu, sudah buat saya bahagia,” ujarnya sembari tersenyum.
Tak banyak yang diminta dari Zul Bakri dan belasan tukang sol sepatu lainnya, di Pasar kota Kualasimpang.
Meskipun ia mengaku beberapa hari yang lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang membagikan sembako.
Yaitu berupa beras, telur, dan minyak goreng kepada tukang becak yang merasakan imbas dari Pandemi Corona.
“Kami juga masyarakat yang mendapat imbas dari wabah Corona, kenapa hanya tukang becak saja yang dapat. Harusnya pemerintah juga melihat kami, dan merata jika ingin memberi bantuan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Selama ini, di pasar memang tidak ada tempat khusus untuk lapak tukang sol. Dirinya dan teman-teman lainnya mengaku tak mampu bayar sewa kios atau lapak khusus.
Bising kendaraan, debu, asap knalpot kendaraan, bau pasar yang kadang menusuk hidung, menjadi teman akrab Zul Bakri dan belasan tukang sol lainnya.
Tak ada keluhan dari para pedagang kecil tersebut. Selain berharap Tuhan membukakan pintu hati pemimpin Kabupaten Aceh Tamiang, untuk membantu meringankan beban mereka dari dampak wabah Corona, serta pintu rejeki untuk mereka hidup.
“Seandainya di rumah ada sepatu, sandal yang sudah tidak layak pakai, tak usah beli baru, jika rusak biarlah saya yang perbaiki,” ujarnya.
Editor : Nefri














