Reporter : Anang
MUSI BANYUASIN, Mattanews.co – Dibawah terik mentari pagi dan deburan angin segar, Usbayati, 47 tahun, menyiram air ke dalam pot-pot tanaman yang tertata apik di pekarangan rumah produksi tanaman herbal di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin.
Meski mentari pagi menyengat tubuhnya, tak dipedulikan Usbayati. Sesekali Usbayati menyeka keringat yang mengalir di sekitar pelipis matanya. Satu per satu pot tanaman herbal di siram air dengan cepat. Bahkan ia juga kerap memetik daun hijau yang sudah layu dan menguning dari tangkai tanaman di pot tersebut.

Usbayati merupakan salah satu anggota kelompok wanita tani (KWT) Toga Kenanga, atau perkumpulan dari masyarakat yang bergerak dalam olahan tanaman herbal. Menjaga tanaman herbal agar tetap hidup dan berkembang serta melakukan panen hingga produksi tanaman herbal adalah kegiatan rutin yang selalu dilakukannya dan anggota kelompok lainnya.
Lokasi rumah produksi dan tempat bercocok tanam tanaman herbal cukup sejuk karena berada di pemukiman yang tidak padat penduduk, serta jauh dari bising jalan dan kota besar. Untuk menuju ke lokasi pun, harus melalui jalan kecil yang disekitar area jalan tersebut berdiri banyak pepohonan rimbun.
Berbagai tanaman herbal yang ada di perkarangan rumah produksi itu ada sekitar 200 macam. Mulai dari kumis kucing, cabe jawa, kunyit putih, remek daging, sosor bebek, sirih merah, keladi tikus, lidah buaya, jahe, daun iler, daun kelor, sambiloto, temulawak dan sebagainya.
“Dulu kami kira tanaman-tanaman seperti ini adalah hama. Ternyata ini ada khasiatnya untuk kesehatan. Dan dengan bergabung ke kelompok wanita tani Toga Kenanga ini, saya yang semula hanya ibu rumah tangga dan hanya bisa membantu keluarga berkebun, kini bisa membantu dalam proses produksi obat tanaman herbal ini,” ucap Usbayati.

Sama halnya dengan Farida Rosdiana, penggerak herbal. Diakui, dirinya semula hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya dirumah saja, mengurus keluarga tanpa ada aktivitas produktif dirumah. Berjalannya waktu, ia bersama warga desa lain ditawari oleh Medco E&P untuk mendapat pelatihan dan pembinaan tanaman herbal.
“Saat itu saya setuju untuk ikut, dan sekarang saya bersama anggota kelompok lain mendapat pelatihan dari Medco E&P untuk pengenalan tanaman obat herbal,” ucapnya.
Medco bukan hanya memberikan pelatihan dan pembinaan, namun juga memberikan bantuan rumah produksi yang sampai saat ini masih digunakan pihaknya bersama kelompok tanaman herbal lainnya.
“Jadi setelah tahu bahwa tanaman herbal ini sangat besar khasiatnya, sekarang banyak masyarakat menggunakan obat herbal. Dan saat mengetahui bahwa tanaman herbal ini bersifat ekonomis, kami benar-benar merasakannya. Ekonomi kami meningkat dari hasil pemasaran dan penjualan obat herbal yang kami produksi,” jelasnya.
Koordinator Koperasi Wanita Herbal Bersatu, Yeni Lusmita mengatakan, kelompok Toga Wanita Kenanga ini mulai didirikan sejak 2012 lalu. Mereka kini mengelola 200 jenis tanaman untuk dijadikan obat tanaman herbal. “Awalnya kami diajak ke Jogja untuk mengenal jenis-jenis tanaman herbal, lalu mendapat pembinaan di Jakarta. Dan sekarang ilmu dan pelajaran yang kami terima kami terapkan, dan usaha obat tanaman herbal ini berjalan sampai saat ini. Dan produksinya meningkat karena banyaknya permintaan terhadap tanaman herbal. Jadi Medco sudah bersama kami dan membina serta memandirikan kami lebih dari delapan tahun,” jelasnya.

Bahkan, kata dia, dalam satu bulan, pihaknya bisa mengolah jahe minimal 15 kilogram dan membuat vco (virgin coconut oil) dari 100-200 butir kelapa.
“Obat herbal diminati banyak pihak membuat kami pun mencoba mengembangkannya. Kini bisa membantu menambah pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Bahkan, kata Yeni, satu kelompok bisa mendapatkan keuntungan berkisar Rp10 juta per bulannya.
Dalam pengembangan bisnis olahan herbal ini, ada pembagian kelompok sehingga masing-masing kelompok tidak sama. Ada kelompok pembuat teh herbal. Kelompok lain membuat sirup herbal hingga makanan dan minuman herbal lainnya.
“Kami dibantu oleh Medco E&P dan SKK Migas untuk peralatan seperti alat pengemasan kapsul obat, teh, dan sebagainya. Ini yang membuat kami bisa dengan mudah mengolah dan memasarkan produk-produk obat herbal kami,” jelasnya.
Adapun produk yang sudah banyak dihasilkan dan menjadi produk andalan seperti teh kunyit, teh jahe, serbuk minuman temulawak, sirup buah rosella, kunyit asem herbal, keripik daun iler, minyak kelapa virgin, keripik bayam, dan sebagainya.

Harga jualnya pun beragam mulai dari Rp10.000 hingga Rp50.000 per kemasan. Diakuinya, pasar produk herbal ini sangat terbuka lebar dan biaya produksinya tidak begitu mahal.
“Kami sudah memasarkan produk kami hingga Lampung, Jakarta dan kota besar di Indonesia. Kami juga memasarkan produk tanaman herbal ini melalui pasar online,” jelas Yeni.
Officer CSR PT Medco E&P, Robby Wijaya mengatakan, memang Medco E&P fokus pada upaya memenuhi kebutuhan energi di 13 wilayah kerja di Indonesia. Medco juga bertanggungjawab dengan terus melakukan kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi pada lapangan-lapangan yang sudah matang maupun baru ditemukan.
Namun, Medco juga memiliki tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan disekitar wilayah kerja. “Kami senantiasa menjunjung kearifan lokal untuk memberikan nilai tambah pemanfaatan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan. Jadi memang jika biacara soal operasi migas maka tidak dapat terlepas dari pemberdayaan masyarakat sekitar wilayah kerja,” ujarnya.
Robby menerangkan, pihaknya sangat peka pada mata pencarian masyarakat sekitar untuk itu Medco selalu mendukung dan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat. Salah satu dengan program kemitraan dan program pemberdayaan masyarakat. Bahkan juga dengan membangun komunitas yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

“Kita bersinergi dengan SKK Migas dan juga dengan pemerintah daerah dalam menjalankan program pemberdayaan masyakat ini. Untuk bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, memang sangat perlu adanya hubungan sinergi antara perusahaan dengan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagsel, Adiyanto Agus Handoyo mengatakan, sejumlah KKKS di wilayah Sumsel tidak hanya fokus pada pertambangan minyak dan gas, tapi juga pembinaan dan pengembangan masyarakat. Bahkan Adiyanto menyebut, di Sumsel ini ada sekitar 20 KKKS yang bermitra dengan UMKM dan fokus pada pembinaan serta pengembangan masyarakat.
“Sudah cukup banyak KKKS di wilayah kita yang melakukan pembinaan masyarakat. Biasanya KKKS ini melihat apa yang menjadi unggulan di desa yang berada di wilayahnya, tergantung keunikan dan apa yang bisa dikembangkan,” pungkasnya.
Editor : Chitet














