[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]
Reporter : Robby
MATTANEWS.CO, BLITAR – Sejak pandemi Covid-19 melanda negeri ini, harga kedelai impor terus merangkak naik.
Di pasaran yang ada di Kabupaten Blitar Jawa Timur (Jatim), harga kedelai melonjak hingga Rp9.500 per Kilogram (Kg). Padahal sebelumnya hanya seharga Rp6.500 per Kg.
Tingginya harga kedelai impor, mempengaruhi harga sejumlah makanan yang berbahan dasar kedelai, seperti tahu dan tempe yang mahal.
Bahkan melambungnya harga kedelai tersebut, membuat ukuran tempe dan tahu kedelai menyusut bahkan harganya justru naik.
Nur Liya (65) produsen tempe petai cina atau disebut Lamptoro, justru meraup untung di saat harga tempe kedelai melambung.
Warga Kelurahan Kedungbunder Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar Jatim ini, mendapatkan berkah dari tingginya harga tempe kedelai.
Sejak tahun 2005, ibu empat anak ini memproduksi tempe petai cina. Dua hari sekali, ia membuat tempe petai cina dan menjualnya di Pasar Ludoyo setiap pagi. Dalam sekali membuat, ia dapat menghabiskan 20 Kg petai cina.
“Dua hari sekali membuatnya, karena tempe lam (tempe petai cina) awet dan tahan lama,” ungkapnya di kediamannya, , Jumat (8/1/2021).
Tempe petai cina dibuat dengan perpaduan petai cina, jagung yang dihaluskan dan parutan kelapa. Proses pembuatan tempe ini, membutuhkan waktu sekitar empat hari.
Produksi yang lama, ternyata tidak membuat harga tempe ini mahal. Tempe petai cina buatannya, dikemas dalam plastik.
“Tidak ada ukuran pasti untuk volumenya, saya mengemas dalam plastik ukuran 0,5 Kg. Dalam satu bungkus, tidak diisi penuh dan tidak ditimbang,” kata warga Kabupaten Blitar ini.
Harga Ramah di Kantong
Namun dia mengandalkan insting dan kebiasaan yang sudah ia jalani, sejak 15 tahun yang lalu. Untuk satu bungkus tempe petai cina dihargai Rp 1.000.
Harga yang bersahabat tersebut, membuat para ibu rumah tangga (IRT) beralih ke tempe petai cina. Terutama di saat pandemi Covid-19 ini.
Soal rasa, tempe petai cina memiliki pengemar tersendiri. Bahkan kedatangannya Nur, dinantikan para penjual sayur keliling untuk membeli tempe petai cina produksinya.
“Sekali datang ke pasar, saya dapat omset Rp300.000 – Rp450.000. “Tidak pasti, kalau pas rame bisa dapat banyak. Tergantung seberapa banyak tempe yang dibawa,” katanya.
Tempe petai cina juga memiliki kandungnya gizi, yang tidak kalah dibandingkan dengan tempe kedelai. Petai cina dapat digunakan, sebagai detoksifikasi dan membuang racun dalam tubuh.
Selain itu, petai cina juga memiliki khasiat dapat meningkatkan kekebalan tubuh, yang cocok dikonsumsi saat pandemi Covid-19 saat ini.
Editor : Nefri















