BERITA TERKINIHEADLINEHUKUM & KRIMINALPENDIDIKAN

Ada Belatung di Piring Makan Bergizi Gratis Kabupaten OKI

×

Ada Belatung di Piring Makan Bergizi Gratis Kabupaten OKI

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, OKI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Ogan Komering Ilir digadang untuk memperbaiki gizi anak sekolah dasar. Namun di lapangan, pelaksanaannya berulang kali bermasalah. Setelah kasus keracunan massal di Pedamaran bulan lalu, kini muncul temuan ulat belatung dalam paket makan siang siswa SDN 8 Kayuagung.

Hampir di penghujung bulan September, tepatnya Selasa (23/9), siswa kelas V menerima paket menu nasi, telur rebus bersaus tomat, dan sayuran. Saat kotak dibuka, sejumlah murid terkejut menemukan ulat bergerak di atas telur. Dari 16 paket yang dibagikan, 13 di antaranya terkontaminasi. Beberapa siswa kelas III juga menemukan kondisi serupa.

Seorang siswi bernama
Salsabila sempat merekam temuan itu dengan ponsel dan mengunggahnya ke media sosial. Video tersebut langsung viral. “Makanan yang berulat sudah kami kembalikan ke penyedia katering,” kata Kepala SDN 8 Kayuagung, Tristaminah. Tanpa mengemukakan alasan kenapa ia enggan menyebut nama penyedia.

Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) Kayuagung, melalui Bramjaya, berjanji menelusuri masalah ini. Pemeriksaan dapur penyedia akan dilakukan. Namun langkah itu datang terlambat, setelah kegusaran publik terpicu meluas.

Catatan Mattanews.co menunjukkan ini bukan kasus pertama. Pada September lalu, sekitar 80 siswa SDN 5 dan SMPN 1 Pedamaran mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi makanan MBG. Gejala yang muncul berupa mual, muntah, dan sakit perut. Pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli pada sampel air minum. Dinas Kesehatan Sumatera Selatan kemudian mengeluarkan aturan agar makanan MBG tidak disajikan lebih dari empat jam setelah dimasak.

Program MBG sendiri sudah diuji coba sejak akhir 2024, melibatkan asosiasi pengusaha katering. Pemerintah mengalokasikan dana miliaran rupiah setiap tahun untuk menekan angka stunting. Namun pola masalah berulang terjadi kembali, kualitas makanan buruk, pengawasan longgar, dan akuntabilitas minim merupakan komponen penting untuk diperhatikan secara serius.

Beberapa wali murid menilai kejadian ulat belatung memperlihatkan kegagalan sistemik. “Kalau cuma satu kotak mungkin bisa disebut kecelakaan. Tapi belasan paket bermasalah, itu jelas kesalahan sistem,” kata seorang orang tua siswa.

Tanpa evaluasi menyeluruh, menurut wanita berhijab ini program MBG bertujuan memperbaiki gizi anak justru bisa berubah jadi ancaman kesehatan. Kendati secara persentase BMG bermasalah masih terbilang kecil, tetapi dengan mengabaikan persoalan ini, akan memicu stres di kalangan wali siswa dampak dari kekhawatiran berlebihan,

“Terkadang ada rasa khawatir melepas anak berangkat ke sekolah. Bukan tidak mungkin akibat kelalaian penyelenggara, pergi sekolah sehat, pulangnya sakit parah oleh keracunan,” tandasnya.