MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Gabungan Koalisi Organisasi Rakyat Sumsel (GKORS) gelar aksi Demo didepan gedung PLN S2JB, dalam aksi tersebut sempat diwarnai aksi Bakar Ban untuk melambangkan kekecewaan masyarakat terhadap kinerja PLN S2JB yang melakukan pemadaman listrik di wilayah Sumbagsel (Black Out) beberapa waktu lalu.
Aksi Demo tersebut digelar atas kejadian Black Out yang terjadi pada 4 Juni 2024 yang lalu, dan dari kejadian tersebut membuat wilayah Sumbagsel mengalami pemadaman listrik total selama 5 jam dan menyebabkan kerugian yang dialami oleh masyarakat lebih dari Rp 1 Triliun.
Menurut Koordinator Lapangan (Korlap) masyarakat Arlan mengatakan, aksi yang digelar pada hari ini untuk menuntut PLN S2JB, harus bertanggungjawab atas kerugian yang dialami oleh masyarakat akibat Black Out beberapa waktu lalu.
Arlan juga menyampaikan selain PLN harus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh masyarakat, ada empat tuntutan yang kami sampaikan diantaranya, Menuntut tanggungjawab mutlak pihak PLN kepada masyarakat Sumsel, mendesak agar Dirut PLN untuk segera memecat General Manager PLN Persero UIT S2JB, mendesak Polda Sumsel untuk melakukan penyelidikan perbuatan melawan hukum terkait Black Out Listrik pada 4 Juni 2024.
“PLN harus bertanggungjawab atas kerugian yang dialami oleh masyarakat, seperti memberikan kompensasi seperti PLN harus segera mengeluarkan kebijakan minimal menghilangkan beban tagihan listrik kepada masyarakat yang dirugikan oleh Black Out yang terjadi,” terang Arlan Kamis (20/6/2024).
Sebetulnya ini aksi yang kedua yang kami gelar, dimana pada aksi yang pertama sempat terjadi Keos yang dilakukan oleh pihak keamanan PLN, dan hari ini pasca 16 hari kejadian Black Out pihak PLN belum ada tindakan, malahan rekan kami mendapatkan intimidasi dari pihak yang diduga preman.
“Intimidasi tersebut tersebar dari Aplikasi WA, bahkan wajah teman kami sempat dilingkari (Ditandai) oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, namun dengan tindakan tersebut tidak menyurutkan langkah kami untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat,” tegas Korlap.
Sementara itu Pihak PLN S2JB yang diwakili oleh Widodo menyampaikan beberapa point dihadapan rekan pendemo, diantaranya pihak PLN akan menerima masukan dan koreksi ataupun usulan dari rekan-rekan sekalian terkait pelayanan.
“Kami meminta maaf atas terputusnya aliran listrik pada 4 Juni 2024 yang lalu, saat ini proses investigasi penyebab kerusakan tersebut masih berlangsung hingga saat ini oleh unit terkait dan PLN pusat,” urai Widodo.
Widodo menjelaskan, jika sudah ditemukan penyebabnya maka akan segera kami sampaikan, sesuai dengan Peraturan Menteri dan Undang-undang rekan-rekan sekalian pasti tahu dengan adanya Kompensasi dan saat ini sedang kami proses.
“Kami telah mengirimkan datanya ke PLN Pusat, keputusannya seperti apa nanti akan kami sampaikan kepada masyarakat, berdasarkan data sebagai contoh untuk UP3 Palembang dari data ada sekitar sebanyak 1 juta 18 ribu dan kami berusaha untuk mempercepat proses ini,” tegasnya.
Sedangkan untuk terkait adanya dugaan intimidasi terhadap teman-teman kami pastikan secara serius.
“Secara Internal akan kami tindaklanjuti secara serius, kita akan cari dan tindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku, ini kami lakukan dalam rangka menghormati Demokrasi dengan menyambut rekan-rekan semua untuk mendengarkan aspirasi rekan-rekan,” terangnya.
Namun jawaban dari pihak PLN menurut Korlap, apa yang disampaikan oleh pihak PLN hanya normatif saja tidak ada upaya apa-apa atas kejadian tersebut.
“PLN terlalu lambat untuk mengatasi permasalahan ini, dan ini bukanlah kejadian pertama,” tutup Arlan.
Aksi digelar secara damai dilakukan oleh GKORS meskipun sempat diwarnai pembakaran ban bekas didepan gedung PLN S2JB.














