BERITA TERKINIHEADLINEHUKUM & KRIMINAL

Aniaya Murid SMP N 33 Palembang Bergulir, Kepsek : Itu Dipicu Masalah Asmara

×

Aniaya Murid SMP N 33 Palembang Bergulir, Kepsek : Itu Dipicu Masalah Asmara

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Beredar viral di sosial media dua remaja melakukan tindak kekerasan dipicu masalah asmara dan sengaja direkam, lalu diunggah salah satu pelajar SMP N 33 di jalan Musi 5 No. 1893, RT.04, Siring Agung, Ilir Barat I, Palembang. Kepala Sekolah SMP N 33 ini pun turun tangan, Jumat (10/7/2026).

Kejadian itu terjadi di DAM Subgai tidak jauh dari sekolah SMP N 33 Palembang, pada Kamis (10/7/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.

Kejadian berawal saat pelaku berinisial S (13) janjiian bermu korban berinisial A (14) dilokasi kejadian. Pelaku tanpa basa basi langsung menarik rambut dan menendang korban berkali-kali. Tak hanya itu, pelaku juga dengan kejamnya menarik rambut korban dan bermaksud menceburkannya ke DAM. Melihat korban seakan menyerah, pelaku meninggalkannya begitu saja.

Peristiwa yang sengaja direkam rekan pelaku menggunakan telepon selulernya langsung disebarkan ke beberapa media sosial, hingga menjadi viral.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah SMP N 33, Nurbaiti SPd MPd saat ditemui wartawan ini mengatakan, pihaknya sangat prihatin atas kejadian tersebut.

“Tentunya kami sangat prihatin, karena mereka masih remaja dan masih sekolah. Jadi emosi mereka itu belum stabil, kejadian ini sudah ramai, kita sudah berkoordinasi dengan Walikota, Dinas Pendidikan. Lalu ada pendampingan dari PPA Kota Palembang dan PPA Polda Sumsel, kita belum ambil keputusan, masih ada mediasi kekeluargaan,” jelasnya.

Nurbaiti juga menerangkan, masalah ini berawal dari asmara, lalu ketersinggungan dari status di sosial media hingga berujung kejadian kekerasan tersebut.

“Ini soal asmara, pelaku dan korban ini menyukai satu murid laki-laki di sekolah ini, ya namanya anak-anak baru mengenal lawan jenis, jadi pelaku ini mungkin tidak senang dengan perkataan tersebut hingga pelaku ini ajak korban ketemuan di TKP, namun jika tidak datang pelaku mengancam korban. Jadi korban datang ke TKP hingga terjadilah kejadian itu, pelaku melakukan aksinya seorang diri dan teman pelaku disuruh merekam pakai HP pelaku, setelah itu mungkin emosi, pelaku memposting video itu di status WhatsApp,” bebernya.

Menurut Nurbaiti, pihak sekolah terlebih dahulu akan menggelar rapat bersama para guru untuk menentukan langkah selanjutnya dengan mempertimbangkan kondisi kedua belah pihak.

“Kami akan rapat dengan guru-guru dulu, melihat kondisi dan menentukan langkah yang akan diambil,” ujarnya.

Akibat peristiwa itu, ia menyebut korban tetap datang ke sekolah namun masih mengeluh sakit di bagian punggung dan ada luka memar di tangan. Kedua siswi tersebut tidak tergabung dalam satu kelas, korban adalah kakak kelas sedangkan pelaku adik kelas.

“Yang korban kakak kelas, naik kelas 9. Korban kelas 7 naik kelas 8,” singkatnya.

Terkait laporan yang telah dibuat korban ke pihak kepolisian, Nurbaiti menyebut hal itu merupakan hak korban dan keluarga.

“Itu hak korban, kami tidak bisa menahan. Dari sekolah kami berupaya agar kedua belah pihak bisa berdamai dan bertemu dalam kondisi tenang. Kalau memang tidak ada titik temu, kami serahkan kepada mereka dan tetap berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan yang terus memantau kasus ini,” tuturnya.

Rencananya, pelaku bersama keluarganya akan mengunjungi rumah korban pada sore atau malam hari untuk melakukan mediasi dan meminta maaf secara langsung.