Reporter : Rachmat Sutjipto
OKI, Mattanews.co – Masih berlangsungnya wabah penyakit Covid-19 akibat virus Corona baru memunculkan perasaan senasib, sepenanggungan untuk bersama mempertahankan hidup bersama. Kesadaran kolektif terbangun di tengah kerentanan komunal menghadapi wabah Covid-19 yang terus menyebar, sehingga muncul inisiatif saling bantu.
Meskipun diselenggarakan secara swadaya, pemantauan perantau berjalan tanpa memiliki alat pengukur suhu tubuh (Thermogun), krisis wabah bertransformasi menjadi rasa tanggung jawab bersama atas nama solidaritas. Keterbatasan tersebut diabaikan demi menyelamatkan desa dari penularan impor Corona.
Fredi Holidi, warga Pedamaran mengatakan, ia bersama warga lainnya secara kolektif mendirikan Pos Pemantauan Anak Pedamaran Asli (APEDAS). Selain pos pantau, komunal peduli corona ini juga membangun 3 posko monitor kedatangan yang tersebar di tiga titik awal menuju desa.
Meskipun ide ini tergolong nekat, namun Fredi beserta warga terpanggil untuk berbuat sebisanya dalam pencegahan Covid-19 mengemukakan. Ia melanjutkan, virus Corona musuh kasat mata, tidak hanya dilawan oleh pemerintah, tetapi juga oleh semua komponen bangsa, dari pusat hingga warga di daerah,
“Kendati pemerintah bekerja maksimal, jika kesadaran warga rendah, dengan melanggar aturan seperti melanggar anjuran untuk tidak mudik dulu, pemutusan rantai penularan virus tidak akan pernah diwujudkan. Kami tidak ingin desa kecolongan. Meski tidak memiliki apa-apa diawal pendiriannya, tetapi pos pemantau harus diluncurkan,” ujarnya di Pedamaran, Selasa (05/05/2020) malam.
Dijelaskannya, dengan anggota berjumlah 15 orang ditambah petugas puskesmas, secara maraton, selama 24 jam perantau diawasi, terutama perantau yang berasal dari zona merah, diberlakukan pengawasan lebih ketat. Menurutnya, puncak kedatangan perantau sekitar Pukul. 02.00 WIB hingga subuh menjelang. Ia menduga, kedatangan perantau tengah malam
“Sejak berdiri posko, sudah ratusan pemudik telah dilakukan pendataan. Rata-rata mereka datang dari Pulau Jawa, yang didominasi zona merah. Kedatangan perantau cenderung tengah malam, untuk itu, kami harap anggota polsek dapat mendampingi,” ungkapnya.
Fredi mengaku dengan keterbatasan yang dimiliki, ia bersama anggotanya harus putar otak agar pos pemantauan ini berfungsi sebagai pintu gerbang awal screening bagi pendatang yang akan masuk di beberapa desa yang berada di wilayah Kecamatan Pedamaran. Ia mengakui, banyak pihak meragukan aksi kemanusiaan ini akan berlangsung lama. Menurut dia, uang hasil swadaya teman-teman lainnya, menjadi modal awal pendirian pos pantau tersebut dibangun swadaya. Sedangkan biaya operasional pos pantau, ia mengutarakan tidak terlalu mengkhawatirkan lantaran biaya yang akan diperlukan nantinya dapat diperoleh dari bantuan anggota lainnya atau anggota membawa bekal dari rumah guna berbuka puasa maupun sahur,
“Soal biaya operasional dan pemenuhan logistik selama ini bukan persoalan penting. Saat buka puasa, kami bisa pulang kerumah. Kepentingan kesehatan lebih penting daripada kebutuhan anggota pos. Kami hanya berharap mendapatkan bantuan alat pengukur suhu agar memudahkan pemantauan,” harapnya.
Menurutnya, keterbatasan diurai denga menempuh berbagai, termasuk memanfaatkan ketiga pangkalan ojek sebagai peringatan dini bagi anggota untuk mengetahui dini kedatangan perantau.
“Posko tersebut kebetulan tersebar di titik turun angkutan luar kota. Tukang ojek yang mangkal dimanfaatkan melaporkan kedatangan pendatang. Hal ini membantu kami untuk pemeriksaan serta menyiapkan tenaga medis dari puskesmas, termasuk menyiapkan mobil ambulance untuk membawa pasien status gejala,” terangnya.
Penggalangan solidaritas di antara masyarakat masih kuat. Apalagi dengan kultur masyarakat komunal disaat situasi sulit seperti saat ini. Dengan kegigihan garda terdepan “pintu gerbang desa”, hingga jelang dua pekan sejak didirikan, berbagai bantuan mulai mengalir.
Tercatat, Kodim 0402-OKI menyerahkan sejumlah bantuan diantaranya tempat cuci tangan lengkap, disusul Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Wabah Covid-19 OKI melalui Sekretaris Listiadi Martin menyampaikan apresiasinya terhadap kegigihan pos pemantauan menjaga desa. Sejumlah bantuan digelontorkan Gugas Covid-19 OKI, diantaranya menyerahkan Alat Pelindung Diri (APD), serta 3.000 buah masker yang nantinya akan dibagikan ke warga.
“Keberadaan pemantauan sangat penting untuk mendata perantau yang masuk di desa. Dengan demikian, deteksi dini dapat diketahui cepat,” ujar Listiadi.
Editor : Anang














