MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Seorang bocah tujuh tahun korban rudapaksa paman dan teman kakeknya berinisial MT mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel. Korban datang dengan ditemani LBH Laskar Merah Putih.
Ketua DPRD Sumsel RA Anita Noeringhati saat diwawancarai mengaku sudah meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan untuk mengevakuasi korban untuk di tempatkan yang aman.
“Saya minta kepolisian dan Pengadilan Banyuasin sampai ke tingkat yang atasnya untuk mempunyai perhatian khusus terhadap kasus ini,” katanya.
Anita mengatakan, alasan dirinya meminta kasus ini mendapat perhatian khusus karena korbannya adalah anak-anak dan harus dilindungi, tidak seharusnya anak tujuh tahun mendapat perlakuan dari orang terdekat.
“Ini adalah tanggung jawab bersama. Sampai nanti setelah proses hukum ini selesai bagaimana kelanjutan anak ini, karena dia belum sekolah,” ungkapnya.
Ditempat yang sama, Ketua LBH Laskar Merah Putih Idasril mengatakan, kejadian berawal ketika korban dititipkan ke rumah teman kakeknya. Saat itulah, pelaku melakukan aksi bejatnya dengan memerkosa korban.
“Korban ini biasa ikut kakeknya. Kakeknya tukang urut dan dia (MT) dititipkan ke teman kakeknya tadi disitulah terjadi perbuatan asusila itu,” katanya, Selasa (23/5/2023).
Dia mengatakan, kejadian ini telah dilaporkan oleh keluarga korban pada 13 Februari 2023 lalu dan sudah dilakukan penyelidikan namun belum ada tindakan dari kepolisian untuk menangkap terlapor.
Karena pelaku belum ditangkap, sambungnya, keluarga korban lantas datang ke pihaknya pada 14 Mei 2023 hingga kedua terduga pelaku ditangkap.
“Kedua pelaku sudah ditangkap, berinisial TK dan SP. Sudah ditangkap dugaan mereka melakukan (pemerkosaan/rudapaksa) itu dan mereka sudah ditetapkan tersangka,” ujarnya.
Kata Idasril, terungkapnya perbuatan paman korban setelah MT merasakan sakit saat akan buang air kecil. Peristiwa itu terjadi di rumah korban Pangkalan Benteng, Sukajadi, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin.
Idasril mengatakan, tujuan datang ke DPRD Sumsel harapannya ada pemulihan psikologi untuk anak itu dan bagaimana nasib anak ini nantinya.
“Kami berharap bahwa harus ada keterlibatan pihak-pihak untuk anak ini sehingga ke depannya menjadi anak normal seperti teman-teman seusianya,” ujarnya.(*)














