MATTANEWS.CO, FAKFAK – Pemerintah Kabupaten Fakfak menekankan pentingnya pelestarian nilai sejarah masuknya agama Islam, Kristen, dan Katolik di Tanah Papua. Nilai “Rahmatan Lil Alamin” dan kearifan lokal “Satu Tungku Tiga Batu” disebut sebagai fondasi kerukunan umat di Fakfak.
Hal itu disampaikan Bupati Fakfak Samaun Dahlan, pada Puncak Peringatan 666 Tahun Islam Masuk di Tanah Papua di Fakfak, Sabtu (8/8/2026).
Dalam sambutannya disampaikan, tiga agama besar di Indonesia masuk ke Tanah Papua melalui Fakfak dan Manokwari.
Agama Kristen masuk melalui Pulau Mansinam, Manokwari pada 5 Februari 1885 M yang dibawa dua misionaris, Otto dan Geisler, dan diantar oleh saudara muslim dari Tidore.
Agama Katolik masuk melalui Pantai Kapaur, Kampung Sekru, Fakfak pada 22 Mei 1894 M yang dibawa Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville. Kampung Sekru saat itu telah dihuni masyarakat beragama Islam.
Sementara agama Islam masuk di Tanah Papua melalui Fakfak pada 8 Agustus 1360 M / 24 Ramadhan 761 Hijriyah. Hal ini berdasarkan hasil kajian dan seminar sejarah. Islam dibawa oleh mubaligh dari Aceh bernama Syech Abdul Ghoffar yang mendarat di Goras, Kampung Rumbati, Fakfak.
“Masuknya agama Islam ke tanah Papua lewat Fakfak adalah suatu peristiwa sejarah yang sekali terjadi dan tidak mungkin terulang kembali. Tetapi yang terpenting adalah pesan Islam yang bersifat universal itu yang harus dilestarikan untuk mewarnai kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat,” ujar Bupati dalam sambutan tertulis.
Bupati berharap kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten agar sejarah masuknya tiga agama besar ke Tanah Papua menjadi kurikulum muatan lokal yang terintegrasi ke semua mata pelajaran.
“Artinya harus tahu tentang pengetahuan sejarah masuknya tiga agama besar ke tanah Papua ini,” tegasnya.
Bupati juga mengapresiasi panitia yang diketuai Dr. H. Wahidin Puarada. Berbagai lomba Islami telah digelar seperti lomba hadrah, salawat, baca Yasin bagi anak sekolah, baca Kitab Berjanji, ceramah SLTA, hingga Haflah Al-Qur’an dengan menghadirkan peserta dari Jakarta.
“Kegiatan lomba ini merupakan kegiatan yang bersifat tontonan sekaligus menjadi tuntunan. Karena yang dikumandangkan adalah firman Allah dan Shalawat Nabi,” katanya.
Nilai “Rahmatan Lil Alamin” atau cinta kasih disebut menjadi misi dakwah Islam yang universal. Nilai ini telah dipedomani masyarakat Fakfak melalui falsafah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai landasan berpikir dan bertindak.
Nilai kebersamaan ini juga selaras dengan visi Kabupaten Fakfak: “Terwujudnya Kabupaten Fakfak yang Mandiri, Sejahtera, Adil dan Berdaya Saing yang Berdasarkan Keberagaman”.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mempromosikan situs religi di Fakfak seperti Masjid Tua Wertuar di Kampung Patimburak, Distrik Kokas yang berdiri tahun 1870 M, situs tapak tangan di Distrik Arguni yang diperkirakan berusia 3.000 tahun, serta Al-Qur’an tua tulisan tangan abad ke-16 yang pernah diteliti Dr. Titik Pujiastuti dari Universitas Indonesia.
Apresiasi juga disampaikan kepada Ustaz KH. Munawir Aseli, MA dari Jakarta yang hadir untuk menjabarkan misi Islam “Rahmatan Lil Alamin” kepada masyarakat Fakfak.
Peringatan 666 Tahun Islam, lanjut Bupati, bukan hanya mengenang sejarah tetapi juga menjadi sarana silaturahmi antar masyarakat Fakfak tanpa batas suku dan agama.














