MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Bupati Tulungagung Provinsi Jawa Timur Drs. Maryoto Birowo, M.M., mengungkapkan pusaka berwujud Tombak Kanjeng Kyai Upas merupakan warisan dari jaman Mataram Islam.
Hal ini, kata Maryoto, menandakan bahwasanya hubungan sejarah antara Yogyakarta dan Tulungagung sangat kuat bahkan sampai sekarang ini.
Pernyataan itu dikatakannya dalam sambutan Muhibah budaya Provinsi DIY di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso Kabupaten Tulungagung, Senin (24/7/2023) Malam.
“Pusaka berwujud Tombak Kanjeng Kyai Upas merupakan salah satu warisan dari jaman Mataram Islam, menurut sejarah dibawa oleh Raden Mas Tumenggung Pringgodininrat putra dari Pangeran Noyokusumo Pekalongan yang menjadi menantu Sultan Hamengku Buwono II, sedang saat itu Kabupaten Tulungagung masih berbentuk Kadipaten Ngrowo,” ucap Mantan Sekda Kabupaten Tulungagung.
Masih dalam kata sambutan, Maryoto menambahkan pihaknya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wakil Gubernur (Wagub) DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X beserta jajaran Pemprov DIY dalam Muhibah budaya Mataram di Kabupaten Tulungagung.
“Sungguh saya merasa sangat terhormat dan bahagia karena kita semua yang hadir dapat menyatukan cipta, rasa dan karsa dalam acara ini,” tambahnya.
“Oleh karena itu perkenankan atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Tulungagung, saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan ucapan selamat datang kepada Bapak Wagub DIY KGPAA Paku Alam X beserta jajaran Pemprov DIY sudah kepareng rawuh ,(Berkenan hadir.red) di Kabupaten Tulungagung untuk merekatkan tali silaturahmi dengan tema Merajut Budaya Mataraman dari Yogyakarta untuk Indonesia,” imbuhnya.
Lebih lanjut Maryoto menjelaskan yang tidak kalah pentingnya, Kabupaten Tulungagung terdapat warisan adat budaya yang tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, meskipun pengaruh tersebut dalam praktik saat ini tidak luput dari perkembangan jaman.
Hal ini dibuktikan, jelas Maryoto, dengan banyaknya sanggar tari yang ada di Kabupaten Tulungagung yang masih melestarikan tari-tari klasik gagrag Yogyakarta atau Mataraman.
“Budaya Mataraman yang sarat dengan nilai-nilai luhur, sangat kita butuhkan sebagai pembelajaran kepada masyarakat khususnya generasi muda, juga sebagai salah satu pedoman serta tuntutan kepada tercapainya tatanan masyarakat yang gemah ripah tata titi tentrem karta raharja, menuju Indonesia yang adil, makmur, damai dan sejahtera, aamiin,” terangnya.
Sebelum mengakhiri kata sambutan, lebih dalam Maryoto mengharapkan semoga Muhibah budaya ini bisa menjadi wadah harmoni sinergi budaya, mempererat tali silaturahmi wilayah serta tambahan wawasan, informasi dan edukasi sebagai sarana pelestarian nilai-nilai budaya khususnya di Kabupaten Tulungagung.
“Demikian yang dapat saya haturkan, terima kasih atas perhatiannya dan Jejering titah sawantah, Ingkang mboten saged selak nyandhang lali lan salah, Kula namung saged nyadhong duka ingkang kathah,” tandasnya.














