MATTANEWS.CO, OKU TIMUR – Sempat ramai diberitakan buruknya pelayanan di RSUD Martapura, Kabupaten OKU Timur, terkait kerap terjadi ketiadaan stok obat pasien mendapat komentar dari Wakil Ketua DPRD OKU Timur. Disebut jika RSUD Martapura dikendalikan oleh dua oknum dalam penyediaan obat.
“Di RSUD Martapura, ada dua oknum yang menyebabkan buruknya pelayanan kepada masyarakat. Mereka sampai sekarang masih ada di sana, sudah berkali-kali kasus kekurangan obat ini terjadi sejak 2020 sampai sekarang,” kata Juniah anggota DPRD OKUT dari Fraksi Gerindra yang dibincangi via telepon.
Dikatakannya, dirinya sudah berkali-kali mendapatkan laporan dari masyarakat. Hingga bahkan hal ini membahas dan meneliti Raperda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Kabupaten OKU Timur Tahun Anggaran 2021.
“Pada Pansus LKPJ Tahun 2020, kita sudah sampaikan terkait adanya dua oknum pegawai di RSUD Martapura yang merupakan salah satu penyebab buruknya pelayanan di rumah sakit itu,” beber Juniah kepada Awak Media melalui sambungan seluler, Sabtu 11 Februari 2023 lalu.
Terpisah, Direktur RSUD Martapura ketika dikonfirmasi mengatakan jika memang ketersediaan obat di rumah sakit yang dia pimpin terkendala anggaran yang belum ideal. Ia tak merincikan jumlah anggaran, tapi ia menceritakan jika anggaran yang dikelola, sudah di-plot untuk operasional rumah sakit.
“Karena RSUD masih tipe D makanya anggaran masih terbatas,” kata dia dibincangi di ruang kerja, Senin 13 Februari 2023.
Terkait oknum yang disebut sebagai penyebab buruknya pelayanan RSUD Martapura, dia katakan jika sudah ada rotasi terhadap satu orang yang dimaksud. Sedangkan satu orang Yanmed yang dimaksud belum dirotasi karena belum ada pengganti.
“Saya sempat minta saran ke BKD dan Kepala Dinas Kesehatan, bahwa kami burn pengganti Kasi Yanmed. Tapi dikatakan bahwa belum ada SDM dengan pangkat yang sesuai,” kata dr Dedy Dahmudi seraya berjanji akan terus meningkatkan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat.
Sebagai informasi, Jumat silam, RSUD Martapura sempat viral karena ada satu pasien yang menunggu 17 jam untuk mendapatkan vaksin tetanus. Keluarga pasien bahkan disuruh beli obat sendiri.(*)














