MATTANEWS.CO, PURWAKARTA – Produksi buah manggis di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengalami penurunan drastis dalam dua tahun terakhir akibat cuaca buruk.
Fenomena ini berdampak langsung pada merosotnya pendapatan para petani setempat secara signifikan.
Berdasarkan data Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, pada tahun 2024 produksi manggis sempat mencapai 18.005 ton.
Namun, angka tersebut anjlok tajam menjadi hanya 2.737 ton pada tahun 2025. Sementara itu, untuk periode Januari hingga Mei 2026, produksi baru tercatat sebesar 2.553 ton.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dispangtan Purwakarta, Kurnia Prawira Saputra, membenarkan tren penurunan tersebut.
Meski demikian, ia mencatat bahwa data tahun 2026 belum dapat dibandingkan secara langsung karena baru mencakup periode lima bulan.
“Data 2026 ini baru lima bulan, jadi belum bisa dibandingkan secara apple-to-apple dengan data satu tahun penuh. Tapi memang dalam dua tahun terakhir produksi manggis sedang sulit,” ujar Kurnia, Selasa (30/6/2026).
Faktor Penyebab Kegagalan Panen
Kurnia menjelaskan bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor utama penyebab kegagalan panen.
Secara biologis, tanaman manggis membutuhkan cuaca panas untuk memicu proses pembungaan. Jika terus-menerus diguyur hujan, pohon akan cenderung menumbuhkan daun baru alih-alih menghasilkan buah.
Padahal, siklus panen manggis idealnya berlangsung dari bulan Oktober hingga Maret.
Walau begitu, Dispangtan optimistis produksi manggis, khususnya varietas Wanayasa, akan membaik pada musim panen mendatang seiring dengan mulai masuknya cuaca panas yang mendukung pembungaan.
Di tingkat produsen, penurunan produksi ini memukul perekonomian warga, salah satunya di Kecamatan Kiarapedes. Zaeng, seorang petani setempat, mengungkapkan bahwa mayoritas pohon manggis di wilayahnya hampir tidak berbuah dalam dua musim terakhir.
“Dari 100 pohon, paling hanya satu pohon yang berbuah, itu pun tidak maksimal,” kata Zaeng.
Akibat kondisi ini, pendapatan petani merosot tajam. Hasil kebun yang biasanya mampu mendatangkan omzet sebesar Rp8 juta hingga Rp15 juta per musim panen, kini jatuh hingga hanya berkisar Rp300 ribu.
Saat ini, para petani berharap cuaca kemarau tahun ini tetap stabil agar pohon manggis dapat kembali berbuah optimal dan memulihkan perekonomian mereka.














