BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHAN

Dana Haji dan Generasi Menunggu: Ketika Anak Muda Mulai Memikirkan Ibadah Sejak Dini

×

Dana Haji dan Generasi Menunggu: Ketika Anak Muda Mulai Memikirkan Ibadah Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
AIIlustrasi/ROP

MATTANEWS.CO  – Di sebuah kafe kecil yang dipenuhi suara obrolan ringan, Dimas (28) membuka aplikasi di ponselnya. Bukan media sosial, bukan juga aplikasi hiburan. Ia sedang melihat saldo tabungan hajinya.

Nominalnya belum besar. Bahkan masih jauh dari cukup untuk setoran awal. Namun ia tidak terburu-buru.

“Pelan-pelan saja. Yang penting mulai dulu,” katanya.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang baru memikirkan haji di usia matang, Dimas justru memulainya lebih awal. Bukan karena berlebih, tetapi karena sadar bahwa antrean haji di Indonesia bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun.

Fenomena ini perlahan mulai terlihat.

Semakin banyak anak muda yang tidak lagi menunda niat berhaji. Mereka mulai menabung lebih dini, memahami sistem antrean, dan mencari tahu bagaimana dana haji dikelola.

Di balik perubahan pola pikir ini, ada satu faktor penting: kesadaran terhadap waktu.

Dengan masa tunggu yang panjang, keputusan untuk “memulai lebih awal” menjadi strategi, bukan sekadar pilihan.

Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan dana haji menjadi hal positif.

“Kesadaran masyarakat untuk merencanakan ibadah haji sejak dini menunjukkan kepercayaan terhadap sistem pengelolaan dana haji yang semakin baik,” ujarnya.

Namun di sisi lain, fenomena ini juga membuka pertanyaan baru.

Apakah generasi muda benar-benar memahami sistem yang mereka masuki?

Ataukah mereka hanya mengikuti arus tanpa memahami bagaimana dana tersebut dikelola?

Pengamat ekonomi syariah dari INDEF, Nailul Huda, menilai bahwa peningkatan partisipasi generasi muda perlu diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.

“Penting bagi generasi muda untuk memahami bagaimana dana haji dikelola, agar tidak hanya ikut menabung, tetapi juga mengerti sistemnya,” ujarnya.

Menurutnya, tanpa pemahaman yang cukup, potensi kesalahpahaman di masa depan tetap terbuka.

Di sinilah tantangan berikutnya muncul.

Bagaimana menjembatani sistem pengelolaan dana yang kompleks dengan cara berpikir generasi muda yang cenderung cepat, praktis, dan berbasis digital.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, menegaskan bahwa edukasi menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan haji ke depan.

“Edukasi kepada masyarakat, termasuk generasi muda, sangat penting agar mereka memahami proses dan sistem haji secara menyeluruh,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa haji bukan hanya tentang keberangkatan, tetapi juga tentang proses panjang yang harus dipahami sejak awal.

Dimas menutup aplikasinya. Ia tidak memikirkan angka triliunan rupiah, tidak juga mempelajari instrumen investasi syariah secara mendalam.

Namun ia tahu satu hal: ia sedang memulai sesuatu yang besar.

“Kalau nunggu mapan dulu, bisa makin lama antreannya,” katanya.

Pilihan itu mungkin sederhana, tetapi mencerminkan perubahan cara pandang.

Bahwa haji tidak lagi hanya milik mereka yang sudah “selesai” dengan urusan dunia, tetapi juga menjadi bagian dari perencanaan hidup sejak muda.

Di titik ini, dana haji tidak hanya menjadi instrumen keuangan, tetapi juga bagian dari perjalanan generasi.

Generasi yang tidak lagi sekadar menunggu, tetapi mulai merencanakan.

Namun di balik optimisme itu, ada tanggung jawab yang tidak kecil.

Karena semakin dini seseorang masuk dalam sistem, semakin panjang pula ia bergantung pada kepercayaan terhadap sistem tersebut.

Dan kepercayaan itu tidak bisa dibangun dalam satu waktu.

Ia harus dijaga, dijelaskan, dan dirawat secara konsisten.

Menjelang malam, kafe mulai sepi. Dimas beranjak dari kursinya, membawa tas kecil dan rencana besar yang belum sepenuhnya terlihat.

Ia mungkin belum tahu kapan akan berangkat.

Namun ia sudah memilih untuk memulai.

Dan di antara jutaan nama dalam daftar tunggu, ia adalah bagian dari generasi baru yang tidak hanya berharap, tetapi juga bersiap.

Karena pada akhirnya, perjalanan haji bukan hanya soal siapa yang berangkat lebih dulu.

Tetapi siapa yang berani memulai, dan siapa yang mampu menjaga kepercayaan sepanjang perjalanan itu.