MATTANEWS.CO – Pagi itu, Nurhayati (52) duduk diam di ruang tamunya. Di tangannya, selembar kertas berisi rincian biaya haji yang baru saja ia terima. Matanya berhenti di satu angka, lalu berpindah ke angka lain di bawahnya.
Ia terdiam cukup lama.
“Kalau harus bayar semua, saya tidak akan mampu,” katanya pelan.
Di kertas itu tertulis total Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sekitar Rp87 juta. Namun angka yang harus ia bayarkan tidak sebesar itu. Ia hanya perlu melunasi sekitar Rp54 juta.
Selisihnya lebih dari Rp30 juta ditopang oleh nilai manfaat dari pengelolaan dana haji.
Nurhayati mengangkat wajahnya. Ada lega yang perlahan muncul.
“Kalau seperti ini, saya masih punya harapan,” ujarnya.
Harapan itu tidak datang begitu saja. Ia lahir dari sebuah sistem besar yang bekerja di balik angka-angka.
Dana haji yang dihimpun dari jutaan calon jamaah dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Hingga 2025, total dana kelolaan telah melampaui Rp180 triliun, dengan nilai manfaat yang dihasilkan mencapai sekitar Rp12 triliun dalam setahun.
Angka-angka itu mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun bagi Nurhayati, dampaknya terasa sangat dekat.
Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menegaskan bahwa pengelolaan dana haji tidak hanya bertujuan menjaga dana tetap aman, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi jamaah.
“Dana haji dikelola secara profesional, transparan, dan hati-hati, agar tetap aman sekaligus memberikan nilai manfaat yang dapat digunakan untuk meringankan biaya haji,” ujarnya.
Sebagian besar dana tersebut ditempatkan pada instrumen yang relatif aman seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan deposito syariah. Instrumen ini dipilih bukan untuk mengejar keuntungan tinggi, tetapi untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan.
Di sinilah makna “dana terjaga” menjadi nyata.
Namun pengelolaan tidak berhenti pada keamanan. Ia harus mampu menghadirkan manfaat yang bisa dirasakan langsung.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, menjelaskan bahwa nilai manfaat menjadi komponen penting dalam menjaga keterjangkauan biaya haji.
“Nilai manfaat dari pengelolaan dana haji digunakan untuk mendukung biaya penyelenggaraan haji, sehingga jamaah tidak menanggung seluruh beban biaya,” ujarnya.
Bagi Nurhayati, penjelasan itu sederhana: ia bisa berangkat lebih cepat daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
Namun di balik manfaat yang dirasakan hari ini, ada tanggung jawab besar yang harus dijaga.
Pengamat ekonomi syariah, Yusuf Wibisono, mengingatkan bahwa pengelolaan dana haji tidak boleh hanya fokus pada jangka pendek.
“Penggunaan nilai manfaat harus tetap dijaga keseimbangannya agar tidak mengganggu keberlanjutan dana haji untuk generasi berikutnya,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa dana haji adalah amanah lintas generasi. Apa yang digunakan hari ini akan berdampak pada mereka yang masih menunggu di masa depan.
Di titik inilah kinerja keuangan BPKH diuji.
Bukan hanya soal berapa besar dana yang dikelola, tetapi bagaimana dana itu dijaga, dikembangkan, dan didistribusikan secara adil.
Nurhayati melipat kertas itu perlahan. Ia tidak memahami istilah seperti “nilai manfaat” atau “instrumen investasi syariah”. Ia juga tidak mengikuti laporan keuangan atau audit tahunan.
Namun ia merasakan satu hal yang tidak bisa disangkal.
“Kalau tidak ada keringanan ini, mungkin saya tidak akan sampai,” katanya.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.
Bahwa di balik setiap angka, ada perjuangan.
Di balik setiap kebijakan, ada kehidupan.
Dan di balik setiap laporan keuangan, ada harapan yang dititipkan.
Menjelang siang, Nurhayati menyimpan kertas itu di lemari kecilnya. Ia belum berangkat, tetapi ia tahu langkahnya sudah semakin dekat.
Dan di antara jutaan nama yang menunggu, ada satu benang yang mengikat semuanya.
Sebuah sistem yang bekerja dalam diam.
Menjaga dana tetap aman.
Mengelola dengan penuh tanggung jawab.
Dan mengembalikan manfaatnya kepada mereka yang berhak.
Karena pada akhirnya, kinerja keuangan bukan hanya tentang seberapa besar angka yang tercatat.
Tetapi tentang seberapa banyak mimpi yang tetap bisa berjalan.
Dan jika suatu hari Nurhayati benar-benar menginjakkan kaki di Tanah Suci, maka perjalanan itu bukan hanya hasil dari tabungannya.
Tetapi juga dari kepercayaan yang dijaga dan manfaat yang benar-benar terasa.















