MATTANEWS.CO, PALI – Aktivitas kendaraan pengangkut batubara yang melintas di Jalan PT Servo Lintas Raya (SLR) kembali menimbulkan polemik. Debu yang beterbangan hingga kecepatan kendaraan yang tinggi dinilai mengancam kesehatan dan keselamatan warga sekitar.
Hal itu disoroti ADV Siswondo Anggerta, S.H yang mewakili masyarakat Desa Pandan, Sabtu (22/08/2026).
Wondo, sapaan akrab Siswondo Anggerta, menyebut penyiraman jalan yang dilakukan perusahaan tidak sebanding dengan jumlah debu yang dihasilkan kendaraan besar.
“Debunya sangat tebal ditambah penyiraman yang dilakukan oleh perusahaan tersebut tidak sebanding dengan debu yang dihasilkan oleh aktivitas kendaraan besar yang melewati areal jalan tambang tersebut SLR. Juga kendaraan yang beroperasi di sana sangat mengabaikan keselamatan masyarakat sekitar karena memacu kendaraannya sangat begitu cepat,” ungkapnya kepada mattanews.co.
Menurut Wondo, dampaknya paling dirasakan warga (Desa Pandan). Debu dari truk batubara menimbulkan pencemaran udara serius.
“Seperti debu halus masuk ke saluran pernapasan dan memicu ISPA serta penyakit paru kronis seperti pneumokoniosis. Juga tanaman seperti pohon karet, padi dan sayur-sayuran yang berada di pinggiran jalan PT Servo Lintas Raya mengalami gagal panen dan hasilnya tidak sesuai,” ujarnya.
Ia menilai kondisi ini bertentangan dengan UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup PPLH.
Mewakili warga Desa Pandan, Wondo menyatakan akan melayangkan surat resmi ke PT Servo Lintas Raya (SLR) untuk meminta audiensi terkait permasalahan di atas.
“Apabila surat yang dilayangkan tidak diindahkan oleh perusahaan yang dituju, maka masyarakat akan mengambil langkah hukum melaporkan ke pihak-pihak terkait melalui LBH PRAJA TAMA PALI,” tegasnya.
Warga berharap perusahaan segera melakukan evaluasi terhadap operasional angkutan batubara, mulai dari penegakan batas kecepatan, intensitas penyiraman jalan, hingga tanggung jawab terhadap dampak lingkungan.
Sementara itu hingga berita ini diterbitkan Humas PT SLR belum memberikan keterangan resmi, wartawan masih terus berusaha menghubungi untuk keberimbangan berita.














