BERITA TERKINIEKONOMI & BISNIS

PTBA Perluas EcoGrow Mom, Eks Pekerja PETI Beralih dari Lumpur Tambang ke Pertanian

×

PTBA Perluas EcoGrow Mom, Eks Pekerja PETI Beralih dari Lumpur Tambang ke Pertanian

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, MUARAENIM – Seorang rekan kerja yang tertimbun longsor menjadi titik balik Tuti meninggalkan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang selama ini menjadi sumber penghidupannya. Perempuan 42 tahun asal Desa Tanjung Karangan itu kemudian beralih menanam sayuran di halaman rumah setelah bergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Utun Makmur. Perubahan tersebut berjalan melalui pembinaan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), yang mengembangkan program Siba Pembibitan menjadi EcoGrow Mom. Dari lahan rumah yang sebelumnya keras dan tidak produktif, Tuti kini dapat memenuhi sebagian kebutuhan dapur sekaligus memperoleh tambahan pemasukan dari hasil panen.

“Waktu itu ada tebing tanah longsor di dekat lapak saya mendulang. Teman sebelah saya sempat tertimbun separuh badan dan jerit-jerit ketakutan. Hari itu saya pulang dengan gemetaran,” ujar Tuti. Peristiwa tersebut membuatnya mulai menghitung kembali risiko yang selama ini dihadapi untuk mendapatkan penghasilan. Hasil mendulang yang semakin tipis, menurutnya, tidak lagi sebanding dengan risiko keselamatan yang harus dipertaruhkan. Untuk pertama kalinya, Tuti berpikir serius tentang kemungkinan dirinya tidak kembali dari lokasi tambang.

Malam setelah kejadian, pandangannya tertuju kepada ketiga anaknya yang sedang tidur pulas. Ia membayangkan siapa yang akan merawat mereka jika dirinya meninggal di lokasi tambang. “Kalau saya mati di lubang tambang itu, siapa yang ngerawat mereka?” pikir Tuti malam itu. Kekhawatiran tersebut semakin kuat setelah anak bungsunya bertanya, “Mak, kenapa tempat kerja Mak kotor dan berbahaya banget?”

Pertanyaan sederhana itu membuat keputusan Tuti semakin bulat. Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan melihat sang ibu mempertaruhkan keselamatan demi penghasilan yang tidak menentu. Sejak saat itu, ia memutuskan meninggalkan PETI dan mencari sumber penghidupan yang lebih aman. “Saya mau cari rezeki yang halal dan aman, biar anak-anak bangga sama maknya,” tegas Tuti.

Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi karena meninggalkan PETI berarti kehilangan salah satu sumber penghasilan keluarga. Tuti yang tinggal di Desa Tanjung Karangan sejak 2011 harus tetap memenuhi kebutuhan rumah tangga bersama suaminya yang bekerja sebagai buruh harian dan sesekali menjadi buruh tani. Tiga anak mereka masih membutuhkan biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Di tengah kondisi tersebut, sebuah pekarangan rumah yang sebelumnya tidak produktif menjadi peluang untuk memulai kehidupan baru.

Tanah di halaman rumah Tuti keras, berbatu, dan pada bagian tertentu mudah tergenang. Kondisi tersebut membuatnya tidak langsung berhasil ketika mulai mencoba menanam. Cabai rawit yang ditanamnya mati karena akar membusuk, sementara tanaman kangkung diserang ulat. “Awal-awal nanam cabai, mati semua. Kangkung juga dimakan ulat,” kenangnya.

Kegagalan tersebut menjadi bagian dari proses belajar Tuti setelah bergabung dengan KWT Utun Makmur. Ia mulai memperbaiki media tanam menggunakan kompos dan sekam serta memanfaatkan karung bekas sebagai wadah tanaman. Pendampingan membuatnya memahami cara mengolah lahan dan merawat tanaman dengan lebih tepat. Perlahan, pekarangan yang sebelumnya keras dan tidak terurus mulai berubah menjadi lahan yang menghasilkan.

Kesempatan itu berawal dari program Siba Pembibitan yang dikembangkan PTBA di Desa Tanjung Karangan. Program tersebut membina masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk perempuan dan eks pekerja PETI, agar memiliki aktivitas produktif melalui pembibitan tanaman kayu keras dan buah. Dari proses pembinaan tersebut, KWT Utun Makmur terbentuk pada awal 2025 sebagai wadah pemberdayaan perempuan desa. Tuti kemudian menjadi bagian dari kelompok yang membuka jalan baginya untuk mempelajari pertanian.

Pada akhir 2025, PTBA memperluas pembinaan tersebut melalui Program EcoGrow Mom. Kegiatan yang sebelumnya berfokus pada pembibitan tanaman untuk dijual kemudian dikembangkan dengan budidaya tanaman pangan dan sayuran. Pekarangan rumah anggota serta lahan desa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi. Perubahan itu membuat aktivitas kelompok semakin dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Bagi Tuti, hasil pertama dari kebun bukan langsung berupa uang, melainkan berkurangnya kebutuhan belanja dapur. Cabai dan sayuran yang tersedia di halaman rumah dapat langsung dipanen ketika dibutuhkan. “Sekarang kalau mau masak cabai, tinggal petik. Kangkung juga ada. Kalau lebih, bisa dijual,” katanya. Ketika hasil panen berlebih, sebagian dijual kepada tetangga, warung makan, atau melalui kegiatan KWT.

Dari kebun tersebut, pengeluaran rumah tangga dapat ditekan sekitar Rp20.000 hingga Rp35.000 per hari. Hasil panen yang dijual juga memberikan tambahan pemasukan bagi keluarga. Jika dihitung dalam sebulan, manfaat ekonomi yang dirasakan Tuti dapat mencapai sekitar Rp750.000 hingga Rp1,2 juta, bergantung pada hasil panen dan penjualan. Nilai tersebut menjadi sumber manfaat baru yang diperoleh keluarga tanpa harus kembali ke pekerjaan berisiko di lokasi PETI.

Perubahan Tuti tidak hanya terlihat dari tanaman yang memenuhi halaman rumahnya. KWT Utun Makmur juga membuat para perempuan desa memiliki ruang untuk bertemu, belajar, dan mengembangkan kegiatan produktif bersama. Tuti yang sebelumnya lebih banyak berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan aktivitas di lokasi tambang kini mulai percaya diri berbicara di hadapan kelompok. Ia bahkan ikut menyampaikan kegiatan KWT kepada masyarakat.

“Dulu saya cuma ibu rumah tangga yang ikut berlumpur-lumpur di tempat tambang. Sekarang saya bisa bicara dan menyampaikan apa yang kami lakukan di kelompok,” tuturnya. Bagi Tuti, kemampuan tersebut menjadi perubahan yang sama pentingnya dengan hasil panen yang diperoleh dari halaman rumah. Pertanian memberinya ruang untuk belajar sekaligus memperluas interaksi dengan perempuan lain di desanya. Dari kegiatan yang sederhana, kepercayaan dirinya tumbuh bersama tanaman yang dirawatnya.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan EcoGrow Mom diarahkan untuk meningkatkan kapasitas perempuan desa melalui keterlibatan ibu rumah tangga, eks pekerja PETI, dan masyarakat berpenghasilan rendah. Program tersebut juga mendorong pertanian berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan keluarga dan desa, serta mengoptimalkan lahan produktif. “Program ini untuk meningkatkan kapasitas perempuan desa melalui pelibatan aktif ibu rumah tangga, eks pekerja PETI dan masyarakat berpenghasilan rendah dalam kegiatan pertanian berkelanjutan,” jelas Eko. Menurutnya, pemanfaatan limbah rumah tangga juga menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.

Dalam pelaksanaannya, EcoGrow Mom mencakup sosialisasi, pelatihan dasar pembibitan, pemanfaatan limbah rumah tangga, hingga pendampingan dan monitoring. Sekitar 5.000 bibit sayuran dikembangkan menggunakan media sederhana untuk mendukung kegiatan anggota kelompok. Budidaya dilakukan di lahan desa seluas kurang lebih satu hektare serta pekarangan rumah anggota KWT. Karung bekas dan bahan rumah tangga yang dapat dimanfaatkan kembali digunakan sebagai bagian dari media atau wadah tanam.

Pengembangan tersebut membuat manfaat program tidak berhenti pada kegiatan pembibitan. Tanaman yang dihasilkan dapat dikonsumsi keluarga ketika panen sekaligus dijual ketika jumlahnya berlebih. Pekarangan yang sebelumnya tidak produktif berubah menjadi ruang yang menghasilkan pangan dan memberikan nilai ekonomi. Di tingkat kelompok, kegiatan tersebut sekaligus memperkuat interaksi dan kapasitas perempuan dalam mengelola usaha pertanian.

Bagi Tuti, semua perubahan itu bermula dari keputusan untuk tidak kembali ke lokasi PETI. Ia memang tidak lagi mencari emas di antara lumpur dan tanah yang penuh risiko, tetapi kini tetap menggantungkan harapan pada tanah yang sama. Bedanya, tanah tersebut tidak lagi dikeruk untuk mengambil sesuatu yang tersembunyi di dalamnya, melainkan dirawat agar menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati keluarganya. Dari cabai, kangkung, dan sayuran di halaman rumah, Tuti menemukan jalan baru untuk menghidupi keluarga dengan lebih aman.

“Dulu hidup kami cuma bergantung dari mendulang emas di lumpur. Kerjanya berat, panas, dan hasilnya tidak tentu,” ujar Tuti. Kini ia tidak harus memilih antara kebutuhan ekonomi keluarga dan keselamatan dirinya. Ada pangan yang bisa dipetik dari halaman, hasil panen yang dapat dijual, serta ruang baru untuk perempuan desa berkembang bersama. Bagi Tuti, meninggalkan emas bukan berarti kehilangan harapan, karena dari tanah yang sama ia justru mulai menumbuhkan kehidupan.

Penulis: Indra Hadi
Editor: REDAKSI