Oleh: Gatot Sultan
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Kita hidup di era di mana kecepatan informasi tidak berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Sebaliknya, kita justru terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai “kegelisahan eksistensial yang banal”.
Setiap hari, pikiran kita disesaki oleh kecemasan tentang tenggat waktu, validasi media sosial, hingga fluktuasi ekonomi personal. Namun, di balik keriuhan personal tersebut, ada sesuatu yang perlahan luruh,kesadaran kolektif terhadap isu-isu masa depan.
1. Tirai Kabut bernama “Kegelisahan”
Kegelisahan manusia modern bukan lagi soal bertahan hidup dari predator di alam liar, melainkan bertahan hidup dari “predator” ekspektasi. Ketika seseorang terus-menerus merasa gelisah ,baik karena takut tertinggal (FOMO) maupun tekanan ekonomi, Otak secara otomatis masuk ke dalam mode survival.
Dalam mode ini, perspektif kita menyempit. Kita hanya peduli pada “hari ini” dan “saya”. Akibatnya, isu-isu besar yang menentukan nasib manusia di masa depan, seperti krisis iklim yang makin nyata atau etika kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggeser peran kemanusiaan, dianggap sebagai kebisingan latar belakang yang tidak relevan.
2. Menanggalkan Kesadaran demi Kenyamanan Semu
Ada paradoks yang menarik di sini. Semakin banyak masalah global yang muncul, semakin kita cenderung menarik diri ke dalam tempurung kenyamanan digital. Kita menanggalkan kesadaran karena sadar itu berat. “Menjadi sadar berarti memikul beban tanggung jawab. Namun, menjadi gelisah terhadap hal-hal remeh adalah pelarian yang paling mudah”.
Kita lebih fasih berdebat tentang drama selebritas di media sosial daripada mendiskusikan bagaimana kedaulatan data pribadi kita dikomodifikasi oleh algoritma. Inilah titik di mana kegelisahan telah berhasil “mengebiri” nalar kritis kita. Kita menjadi reaktif, bukan responsif.
3. Konsekuensi: Masa Depan yang Tak Terurus
Jika tren ini berlanjut, kita akan menghadapi masa depan yang gagal kita antisipasi. Kegelisahan yang tak terkelola menyebabkan:
* Ketidakpedulian Sosial: Hilangnya empati terhadap ketimpangan yang semakin lebar.
* Kebutaan Ekologis: Menganggap perubahan alam sebagai variabel yang bisa ditunda penyelesaiannya.
* Kekosongan Moral: Di mana teknologi berkembang tanpa kompas etik karena penggunanya terlalu sibuk dengan keresahan ego masing-masing.
Mengembalikan “Sang Penjaga”
Menghadapi isu relevan masa kini dan mendatang membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan, ia membutuhkan KEHENINGAN.
Kita perlu berani menjeda kegelisahan untuk melihat gambaran besar (the big picture).
Kesadaran bukanlah sebuah bakat, melainkan sebuah keputusan politik dan etis. Memilih untuk peduli pada nasib bumi dan arah peradaban di tengah badai kecemasan pribadi adalah bentuk perlawanan tertinggi manusia modern.
Sudah saatnya kita berhenti membiarkan kegelisahan mencuri masa depan kita. Sebab, apa gunanya kita memenangkan hari ini jika kita kehilangan hari esok?
Salam Budaya
RUMAH ASPIRASI BUDAYA














