MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Feby Deru, menekankan pentingnya kerja nyata dan keaktifan kader dalam menjalankan 10 Program Pokok PKK saat Rapat Konsultasi (Rakon) TP PKK Sumsel Tahun 2026 di Hotel Aryaduta, Kamis (2/4/2026).
Dalam arahannya, ia meminta seluruh Ketua TP PKK kabupaten/kota untuk tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi benar-benar hadir di tengah masyarakat.
“Saya minta Ketua TP PKK kabupaten/kota turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya. Jangan hanya menerima laporan di atas kertas,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menjalankan program secara optimal.
“Efisiensi anggaran bukan berarti kegiatan jadi terbatas. Harus tetap ada inovasi dan solusi agar program tetap berjalan,” tegasnya.
Feby Deru bahkan memastikan akan melakukan pengecekan langsung terhadap kinerja jajaran pengurus di lapangan.
“Saya akan turun dan mengecek langsung apakah program ini benar-benar dilaksanakan atau tidak,” katanya.
Dalam evaluasinya, ia menyoroti masih lemahnya pemahaman administrasi serta belum meratanya kapasitas kader di berbagai daerah.
“Masih banyak yang belum memahami administrasi dengan baik, termasuk papan data. Ini harus segera dibenahi,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan program pendidikan serta sinergi lintas sektor.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada sinergi dengan berbagai pihak agar program PKK bisa lebih maksimal,” jelasnya.
Terkait pelaksanaan program di daerah, ia menilai kegiatan sudah berjalan, namun belum sepenuhnya optimal.
“Semua kabupaten/kota sudah melaksanakan program, tapi belum maksimal. Ini perlu diperbaiki melalui perencanaan yang lebih matang dan evaluasi yang konsisten,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya petunjuk teknis yang jelas dalam penyusunan profil program.
“Kita butuh juknis yang jelas agar penyusunan profil tidak asal-asalan dan bisa menjadi acuan yang baik,” ujarnya.
Dalam bidang kesehatan, Feby Deru menegaskan perlunya peningkatan kualitas sosialisasi kepada masyarakat.
“Sosialisasi penyakit seperti TBC, malaria, HIV/AIDS, dan penyakit tidak menular sudah berjalan, tapi kualitas dan jangkauannya harus ditingkatkan,” tegasnya.
Ia juga mengkritisi penentuan lokasi program yang belum tepat sasaran.
“Masih ada yang memilih lokasi yang sudah bagus. Seharusnya kita fokus pada daerah yang benar-benar membutuhkan,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti fungsi sekretariat dan kelembagaan yang belum optimal.
“Sekretariat harus difungsikan dengan baik. Jangan sampai administrasi tidak dikerjakan di tempat yang seharusnya,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan internal seperti rapat dan jambore juga perlu dimaknai lebih serius.
“Rapat itu untuk meningkatkan kerja sama, jambore bukan sekadar kumpul-kumpul, tapi harus ada nilai peningkatan kapasitas,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi kegiatan.
“Media sosial harus dimanfaatkan dengan maksimal. Ini penting untuk publikasi dan transparansi kegiatan,” katanya.
Sebagai langkah ke depan, ia mendorong adanya pelatihan rutin bagi kader.
“Kita harus rutin melakukan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas kader di semua tingkatan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pelaksanaan raker dan rakon secara konsisten.
“Raker dan rakon harus dilaksanakan di semua tingkatan sebagai sarana evaluasi dan peningkatan kinerja,” tambahnya.
Menutup arahannya, Feby Deru kembali menegaskan pentingnya dokumentasi dan publikasi.
“Kegiatan dokumentasi dan publikasi itu bukan pilihan, tapi keharusan,” pungkasnya.












