BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHAN

Hari Santri Nasional 2026, Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin Dorong Santri Kuasai Teknologi dan Jadi Penggerak Kemajuan

×

Hari Santri Nasional 2026, Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin Dorong Santri Kuasai Teknologi dan Jadi Penggerak Kemajuan

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., mengajak para santri memperkuat karakter, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengambil peran strategis dalam pembangunan daerah dan bangsa. Santri masa kini dituntut tidak hanya menjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan untuk mewujudkan Indonesia Emas.

Pesan tersebut disampaikan Ahmad Baharudin saat memimpin Apel Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di halaman Kantor Bupati Tulungagung, Kamis (22/10/2026).

Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema tersebut menegaskan pentingnya peran santri dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, berdaya saing, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Dalam amanatnya, Ahmad Baharudin menegaskan bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk mengenang sekaligus meneruskan perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Jika dahulu para santri berjuang dengan mengangkat senjata dan mempertaruhkan jiwa raga demi kemerdekaan, maka santri masa kini harus berjuang melalui ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, penguatan akhlak, pemberdayaan ekonomi, serta pengabdian kepada masyarakat,” demikian pesan dalam amanat apel tersebut.

Lanjutkan Semangat Resolusi Jihad dengan Karya Nyata

Ahmad Baharudin mengingatkan kembali peran penting ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945. Peristiwa bersejarah tersebut menjadi salah satu tonggak yang membangkitkan semangat rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, nilai perjuangan itu harus diwariskan kepada generasi penerus melalui semangat cinta tanah air, pengamalan nilai-nilai keagamaan, dan pengabdian nyata kepada bangsa.

Tantangan perjuangan saat ini telah berkembang. Santri tidak lagi hanya dituntut mempertahankan kemerdekaan secara fisik, tetapi juga harus mampu menghadapi kebodohan, kemiskinan, kemerosotan moral, penyalahgunaan narkoba, intoleransi, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Karena itu, penguasaan ilmu agama harus berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan umum, teknologi, kreativitas, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan modern.

Santri juga didorong berani berinovasi, membangun usaha, mengembangkan potensi daerah, serta menciptakan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

“Santri harus mampu menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren dapat menjadi kekuatan untuk membangun kemandirian, meningkatkan kesejahteraan, dan mendorong kemajuan bangsa,” menjadi pesan penting dalam peringatan tersebut.

Pesantren Jadi Pilar Pembangunan Sumber Daya Manusia

Kabupaten Tulungagung memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan keagamaan melalui pondok pesantren, madrasah diniyah, taman pendidikan Al-Qur’an, majelis taklim, dan berbagai lembaga pendidikan Islam lainnya.

Lembaga-lembaga tersebut memiliki peran strategis, bukan hanya dalam pendidikan agama, tetapi juga dalam membentuk karakter, menanamkan kedisiplinan, membangun kemandirian, dan menumbuhkan kepedulian sosial generasi muda.

Pada kesempatan itu, Ahmad Baharudin menyampaikan penghargaan kepada para kiai, nyai, pengasuh pondok pesantren, ustaz, ustazah, serta seluruh tenaga pendidik keagamaan atas dedikasi mereka dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Ia menegaskan, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga harus diimbangi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang beriman, berkarakter, berintegritas, dan memiliki kompetensi.

Untuk itu, sinergi antara pemerintah daerah, pondok pesantren, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat.

Pesantren diharapkan berkembang sebagai pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, sekaligus pengembangan potensi generasi muda. Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, pesantren juga diharapkan mampu melahirkan gagasan dan inovasi yang menjawab kebutuhan zaman.

Santri Diminta Bijak Menghadapi Tantangan Digital

Selain pendidikan dan pengembangan kompetensi, Ahmad Baharudin turut menyoroti tantangan yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.

Kemudahan memperoleh dan menyebarkan informasi, menurutnya, harus diimbangi kemampuan memilah informasi yang benar. Hoaks, perundungan siber, penyalahgunaan teknologi, ujaran kebencian, dan provokasi menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.

Dalam situasi tersebut, santri diharapkan tampil sebagai teladan dalam menjaga moralitas, memperkuat persaudaraan, menyebarkan pesan perdamaian, serta merawat keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Santri juga diajak menggunakan media sosial secara bijak, menghormati perbedaan, dan tidak mudah terpengaruh informasi yang berpotensi memecah belah persatuan.

Semangat hubbul wathan minal iman yang kerap dimaknai sebagai cinta tanah air merupakan bagian dari semangat keimanan juga ditekankan sebagai nilai penting dalam kehidupan kebangsaan.

Nilai tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari menjaga persaudaraan sesama umat, mempererat hubungan antarsesama warga bangsa, hingga membangun sikap saling menghormati antarsesama manusia.

Dengan bekal agama, ilmu pengetahuan, dan karakter yang kuat, santri diharapkan menjadi perekat persatuan, penebar kesejukan, serta pelopor terciptanya situasi yang aman, damai, dan kondusif di Kabupaten Tulungagung.

Lima Pesan Ahmad Baharudin untuk Santri Tulungagung

Dalam amanatnya, Plt Bupati Tulungagung menyampaikan lima pesan penting yang diharapkan menjadi pedoman bagi para santri dan santriwati dalam menatap masa depan.

Pertama, memperkuat iman dan akhlak. Santri diminta menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta penghormatan kepada kiai, guru, dan orang tua harus terus dijaga.

Kedua, meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Santri didorong untuk terus belajar, menguasai teknologi, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan agar mampu menghadapi persaingan global.

Ketiga, menjaga persatuan dan cinta tanah air. Santri diharapkan menghormati perbedaan, menghindari sikap intoleran, serta berperan aktif menjaga kerukunan dan ketenteraman masyarakat.

Keempat, memberikan kontribusi nyata bagi daerah dan bangsa. Ilmu yang diperoleh hendaknya dimanfaatkan untuk membantu masyarakat, mengembangkan potensi lokal, memberdayakan ekonomi umat, serta mendukung pembangunan Kabupaten Tulungagung.

Kelima, membangun kemandirian dan daya saing. Santri diharapkan mampu berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, ekonomi, teknologi, hingga pemerintahan dan profesi lainnya, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur pesantren.

Kelima pesan tersebut menegaskan bahwa ruang pengabdian santri sangat luas. Santri tidak terbatas pada satu bidang pekerjaan, tetapi memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai sektor kehidupan dengan tetap menjunjung tinggi integritas, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Santri Berdaya, Tulungagung Maju Menuju Indonesia Emas

Menutup amanatnya, Ahmad Baharudin mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Hari Santri Nasional 2026 sebagai momentum memperbarui tekad dan memperkuat kolaborasi untuk membangun Kabupaten Tulungagung yang semakin maju, sejahtera, religius, dan berdaya saing.

Ia berharap para santri tidak hanya bangga dengan identitas kesantriannya, tetapi juga mampu membuktikan peran melalui karya, prestasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Santri diharapkan tumbuh menjadi pemimpin yang amanah, ilmuwan yang berintegritas, pengusaha yang jujur, pendidik yang inspiratif, serta warga negara yang bertanggung jawab.

Pesantren, menurutnya, bukan sekadar bagian dari sejarah masa lalu bangsa, melainkan juga memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan Indonesia.

Melalui penguatan pendidikan, pembentukan karakter, penguasaan teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat, santri diharapkan menjadi salah satu kekuatan utama dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Tulungagung pun menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan para pendahulu harus diteruskan melalui kerja nyata. Santri dituntut hadir sebagai generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi bagi agama, masyarakat, daerah, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas bukan sekadar slogan, melainkan panggilan untuk terus belajar, berkarya, menjaga persatuan, dan mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.

Penulis: Ferry Kaligis
Editor: Riki Okta Putra