MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, terus menjaga hutan dan adat istiadat mereka.
Kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun menjadi kunci keberhasilan pelestarian hutan dan budaya adat di wilayah ini.
Masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik memiliki beberapa tradisi yang membantu menjaga keseimbangan alam dan kelestarian hutan, seperti gotong royong membersihkan tanah dan air, pemanfaatan hasil hutan secara bijak dan penanaman pohon di tanah pribadi.
Keberhasilan masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik dalam menjaga hutan dan adat istiadat mereka telah diakui secara nasional dan internasional.
Selain itu, masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik juga menerima sertifikat lahan ulayat untuk hutan adat seluas 9.400 hektar.
Penghargaan dan prestasi ini menjadi motivasi bagi masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik untuk terus menjaga hutan dan adat istiadat mereka.
Dalam kegiatan Kolase Journalist Camp (KJC) 2025. Perhelatan akbar para jurnalis kali ini mengusung tema “Ragam Hayati Kekuatan Kita”. KJC-2025 ini digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Kelurahan Bansir Laut, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada 22-24 Agustus 2025.
Dimomen ini memutar sebuah film dokumenter tentang masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik telah dibuat untuk mempromosikan keberhasilan mereka dalam menjaga hutan dan adat istiadat.
Film dokumenter ini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk belajar tentang kearifan lokal dan pelestarian lingkungan.
Dengan keberhasilan ini, masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik menjadi contoh bagi masyarakat lain dalam menjaga hutan dan adat istiadat. Semoga keberhasilan ini dapat terus dipertahankan dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Film dokumenter tentang masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik yang menjaga hutan dan adat istiadat mereka kini semakin membanggakan. Pasalnya, film dokumenter ini disutradarai oleh Kynan Tegar, seorang anak muda yang berasal dari Suku Dayak Iban Sungai Utik sendiri.
Kynan Tegar berhasil mengangkat kisah masyarakatnya ke layar lebar dengan cara yang apik dan menginspirasi.
Film dokumenter ini menampilkan keunikan dan kekayaan budaya Suku Iban Sungai Utik, serta keberhasilan mereka dalam menjaga hutan dan adat istiadat.
Film dokumenter ini menjadi karya yang membanggakan bagi masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dan Kynan sendiri.
Keberhasilan Kynan dalam menyutradarai film dokumenter ini menunjukkan bahwa anak muda dari Suku Dayak Iban Sungai Utik dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain dalam melestarikan budaya dan lingkungan.
Dengan film dokumenter ini, Kynan berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya dan lingkungan.
“Dapat menjadi inspirasi bagi anak muda lain untuk mengikuti jejaknya dalam melestarikan budaya dan lingkungan,” kata Kynan saat diskusi bersama peserta Kolase Journalist Camp.
Sementara itu, Co-founder Yayasan Kolase, Andi Fachrizal mengatakan berdasarkan data ragam hayati terdiri atas keragaman spesies, ekosistem, dan genetik flora maupun fauna. Nilai
keragaman hayati ditentukan oleh keunikan dan populasi di alam.
“Semakin unik dan langka, semakin tinggi pula nilai konservasinya. Setiap spesies bereproduksi untuk menghasilkan keturunan. Jika keturunannya memencar, akan membentuk variasi baru, sesuai kondisi hayati dan faktor nonhayatinya,” papar Daeng panggilan akrab Andi Fachrizal.
Daeng jelaskan, kekayaan spesies di Provinsi Kalimantan Barat tergolong sangat tinggi, tersebar pada kantong – kantong habitat yang unik dan sangat penting bagi keberlangsungan hidup tiap organisme meliputi flora, fauna, hingga ragam jamur.
“Masing-masing spesies hayati ini hidup di alam liar pada kondisi ekosistem yang baik dengan proses-proses ekologi yang berjalan secara alami,” tuturnya.
Kemudian, berdasarkan data yang dihimpun melalui Profil Keanekaragaman Hayati Kalimantan Barat 2024, tercatat sebanyak 1.751 spesies tumbuhan asli yang tergolong ke dalam 142 suku (family) berhasil dihimpun.
“Secara umum, tumbuhan yang paling beragam di Kalbar adalah anggrek-anggrek liar (Orchidaceae) sebanyak 320 spesies, kemudian kelompok pohon meranti-merantian (Dipterocarpaceae) sebanyak 150 spesies yang menjadi kelompok tumbuhan penghasil kayu utama di Indonesia,” ujar Daeng.
Lanjut kata Daeng, pada peringkat ketiga, adalah dari suku Euphorbiaceae dengan 70 spesies. Satwa liar yang terdapat di Kalimantan Barat juga tergolong sangat kaya dengan jumlah total sebanyak 1.423 spesies, terdiri atas 114 spesies mamalia, 546 spesies burung, 420 spesies ikan, 67 spesies amfibi, 85 spesies reptilia, 200 spesies serangga.
Selain tumbuhan dan satwa liar, Kalimantan Barat juga memiliki banyak spesies jamur-jamur liar, namun penelitian dan publikasinya masih sangat terbatas.
“Sejauh ini tercatat sebanyak 57 spesies yang tergolong ke dalam 25 suku dapat dijumpai di Kalimantan Barat. Boletaceae dan Polyporaceae merupakan suku paling banyak ditemukan, yakni sebanyak sembilan spesies,” ulasnya.
Kemunculan variasi spesies dari generasi ke generasi tersebut akan menciptakan keanekaragaman genetik. Spesies berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
“Disisi lain, ancaman dan tekanan terhadap keragaman hayati daerah mencakup beberapa hal mendasar, yaitu kerusakan atau hilangnya habitat, pertambahan jumlah penduduk, eksploitasi secara berlebihan, spesies invasif, fenomena budidaya spesies asing dan bencana karhutla,” urainya.
Menurut Daeng, ancaman lainnya adalah perilaku manusia yang kurang ramah terhadap lingkungan.
“Misalnya, pencemaran udara, air, dan tanah yang disebabkan oleh limbah industri, sampah domestik dan penggunaan bahan kimia berbahaya,” terangnya.
Terkait itu, kata Daeng banyak upaya telah dilakukan oleh multipihak dalam menekan dan mengurangi atau mengatasi ancaman-ancaman ini, namun tekanan terhadap keragaman hayati di Kalimantan Barat cenderung terus meningkat.
“Upaya sinergi dan kolaborasi lintas wilayah (pusat-daerah-desa), lintas sektor, dan lintas aktor perlu semakin diperkuat,” urai Daeng.
Ia berharap beberapa praktik baik pada tingkat tapak dalam upaya perlindungan dan pengelolaan keragaman hayati yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, LSM dan perguruan tinggi, perlu semakin disebarluaskan melalui berbagai platform media.
“Yayasan Kolase memandang penting untuk mendorong pendekatan-pendekatan
noninfrastruktur, selain upaya-upaya yang sudah berjalan melalui berbagai inisiatif. Satu di antara sekian upaya itu adalah dengan menggelar Kolase Journalist Camp (KJC) 2025,” tuturnya.
Disisi lain, Kolase Journalist Camp 2025 dimaksudkan sebagai ruang temu para pihak guna membahas realitas, mengonsolidasikan pikiran, dan wahana pembelajaran bersama terkait ragam hayati di Kalimantan Barat.
“Melatih jurnalis, lembaga pers mahasiswa, kreator konten, dan masyarakat sipil, merancang bahan kampanye media digital yang efektif untuk isu ragam hayati ditinjau dari sudut kepentingan ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan,” terangnya.
Tak hanya itu, mendorong pemanfaatan media digital sebagai alat kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan memobilisasi dukungan publik.
“Pembelajaran bersama tentang teknik menangkap isu, menyampaikan pesan yang kuat, memanfaatkan platform digital secara strategis, dan mengukur dampak kampanye yang tidak sekadar viral, tetapi juga mengedukasi,” pungkasnya.















