Reporter: Burhanuddin
MATTANEWS.CO, ACEH TAMIANG – Di era tahun 90 an, pisang bakar merupakan salah satu jajanan yang paling digemari oleh anak-anak, bahkan orang dewasa pada saat itu.
Tapi, seiring perkembangan zaman, jajanan tempoe dulu itu, mulai tergilas oleh waktu. Dengan banyaknya aneka varian jajanan yang bermunculan dan berkembang di saat ini.
Janudin (48) pemuda asal Jawa Barat yang saat ini menetap dan tinggal di Desa Bukit Tempurung. Terus menggeluti berjualan pisang bakar di pinggir jalan depan masjid, Desa Bukit Tempurung Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh.
“Saya sudah berjualan pisang bakar di sini, sekitar 4-5 tahun lalu dengan harga Rp 5000/porsi,” ucapnya kepada mattanews.co, Rabu (06/01/2021).
Menurutnya, bahan baku pisang bakar itu merupakan pisang kepok jawa, karena mempunyai tekstur yang kuat. Dan tidak mudah hancur saat dibakar dan proses menjadi tekan/pipih.
“Pisang kepok jawa, mempunyai daya tahan yang kuat dan rasa manis yang mengoyang lidah,”papar Januddin.
Secara proses tambah Januddin, median pembakaran yang beliau gunakan adalah arang. Dan saat saat pembakaran warna pisang terlihat menguning dan bercak gosong baru diangkat dan ditaburi adonan kelapa serta di siram kuah gula merah .
“Arang mempunyai aroma khas tersendiri, sehingga mampu menambah cita rasa pisang,” ungkapnya.
Secara rinci, setiap harinya ia berjualan buka pada pada sore sampai habis isya. Mampu menghabiskan sekitar 11 sisir pisang kepok. Tapi saat kondisi pandemi covid-19, hanya sekitar 2-3 sisir pisang kepok saja yang habis.
“Saat pandemi covid-19, pendapatan turun drastis, karena 2-3 sisir pisang yang habis. Apalagi kini harga pisang mulai melonjak dari 13.000-15.000/sisir menjadi 20.000/sisir,” tutupnya.
Editor: Selfy














