MATTANEWS.CO, OKI – Perkara sinyal di Kecamatan Air Sugihan bukan sekadar soal kelancaran mengunduh video. Di wilayah yang dikepung rawa dan perairan ini, internet adalah urat nadi birokrasi dan ekonomi yang selama ini tersumbat.
Namun, ambisi digitalisasi itu kini menemui titik terang. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mulai membentang kabel serat optik sepanjang 73 kilometer untuk membebaskan 20 menara BTS dari jerat transmisi Radio IP yang sudah uzur.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika OKI, Adi Yanto, tak memungkiri kondisi “sekarat” jaringan di sana. Data dari Telkomsel menunjukkan 20 titik BTS di kecamatan itu telah mengalami over capacity atau kelebihan beban. Hasilnya adalah layanan yang lambat, lemah, dan kerap terputus.
“Kondisinya sudah jenuh. Melalui serat optik, diharapkan layanan internet semakin cepat, minim hambatan, dan mengurangi buffering maupun lag,” kata Adi saat meninjau pembangunan kabel serat optik di Air Sugihan, Selasa, (10/22026)
Langkah fiberisasi ini bagaikan oase di tengah gersangnya infrastruktur digital wilayah perairan. Selama ini, transmisi radio menjadi andalan satu-satunya, namun teknologi ini rapuh terhadap cuaca dan keterbatasan kapasitas. Dengan serat optik, transmisi data antar-BTS diklaim akan lebih stabil dan mampu menopang kebutuhan digitalisasi kawasan secara masif.
Tetapi bila dicermati lebih jauh, proyek ini baru sekadar menambal lubang kecil. Di seluruh penjuru Ogan Komering Ilir, masih terserak 47 titik blank spot dan puluhan desa dengan sinyal yang timbul-tenggelam. Geografi rawa yang luas menjadi musuh utama sekaligus alasan klasik lambatnya ekspansi operator.
Kepala Desa Rengas Abang, Agus Suseno, mengingatkan bahwa penguatan sinyal tak boleh hanya menjadi seremoni teknis di atas kertas. Ia meminta setiap tahapan pekerjaan disosialisasikan agar tak memicu gesekan dengan warga. “Sinyal kuat itu kebutuhan untuk komunikasi dan layanan desa, tapi sosialisasi itu keharusan agar masyarakat mendukung penuh,” ujarnya.
Digitalisasi di medan sulit seperti di Kecamatan Air Sugihan membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, stabilitas sinyal akan memangkas sekat birokrasi desa dan membuka peluang ekonomi baru bagi warga perairan. Di sisi lain, infrastruktur ini menyimpan kerentanan.
Bentangan kabel sepanjang 73 kilometer di lahan rawa sangat rawan terhadap gangguan fisik, baik akibat faktor alam maupun aktivitas alat berat di perkebunan sekitar. Tanpa komitmen pemeliharaan yang cepat dari operator, kabel optik ini berisiko menjadi pajangan bawah tanah saat terjadi kerusakan.
Pemerintah Kabupaten OKI tampaknya sadar bahwa mengandalkan anggaran keuangan Pemkab OKI dan kocek operator saja tidak cukup. Diperlukan langkah politis dan taktis untuk memastikan kabel-kabel itu terus menjalar ke pelosok tanpa terhambat sekat birokrasi.
Langkah kebijakan yang mendesak untuk diambil yakni
pdnyelarasan regulasi dan insentif.nPemkab OKI perlu menjamin kemudahan perizinan dan sinkronisasi data wilayah prioritas. Skema insentif atau dukungan lahan dari pemerintah desa bisa menjadi daya tawar agar operator sudi masuk ke wilayah yang secara komersial kurang menguntungkan.
Kemudian perlindungan aset berbasis komunitas. Menjadikan infrastruktur digital sebagai aset vital desa. Kebijakan ini akan mendorong masyarakat ikut menjaga instalasi serat optik dari potensi vandalisme atau pencurian.
Terakhir yakni melakukan audit kualitas sinyal berkala. Dinas Kominfo harus berani bertindak sebagai pengawas untuk memastikan bahwa pembangunan infrastruktur ini benar-benar berdampak pada peningkatan bandwidth di tingkat pengguna, bukan sekadar klaim teknis perusahaan.
Bagi Adi Yanto, kerja besar ini adalah pertaruhan sinergi. “Digitalisasi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, operator, dan masyarakat. Tanpa koordinasi yang baik, percepatan konektivitas hanya akan menjadi jargon,” tegasnya.
Manager Telkom Infrastruktur Area Sumbagsel, Nasution, menjelaskan pembangunan jaringan serat optik sepanjang 73 kilometer itu menjadi bagian dari penguatan infrastruktur digital di Sumatera Selatan. Jaringan tersebut akan mendukung fiberisasi sekitar 20 menara BTS eksisting.
“Proyek ini sejalan dengan upaya penguatan jaringan 4G oleh operator seluler, guna meningkatkan kualitas layanan mobile broadband,” ujar Nasution.
la mengakui tantangan utama pembangunan jaringan di Air Sugihan adalah kondisi geografis berupa perairan dan rawa yang membentang luas.
“Tantangan geografis memaksa kami memaksimalkan jaringan eksisting dengan menarik kabel jauh dari wilayah Muara Padang dan Banyuasin mendekati BTS Air Sugihan,” tandasnya.














