BERITA TERKINI

Kades Buntaran Jawab Soal Dugaan Wisata Asia Eropa Park Jadi Ajang Tempat Mesum

×

Kades Buntaran Jawab Soal Dugaan Wisata Asia Eropa Park Jadi Ajang Tempat Mesum

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Dugaan wisata Asia Eropa Park yang berada di Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur sebagai tempat ajang mesum menjadi sorotan masyarakat setempat.

Menanggapi hal itu, Kepala Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Wakit membantah bahwasanya wisata Asia Eropa Park dijadikan ajang tempat mesum oleh masyarakat.

Namun demikian, ia pun tidak menampik bahwa itu sempat terjadi, karena sebelumnya ia sudah pernah menerima laporan dari masyarakat.

“Setelah saya dapat laporan digunakan tempat ajang mesum itu, saya langsung koordinasi dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa desa agar di lokasi wisata yang bolong-bolong segera ditembeli agar orang tidak bisa masuk,” ucap Mbah Buntaran lebih akrab disapa itu, Kamis (19/10/2023).

Mbah Buntaran menambahkan sebenarnya pihaknya pun mengaku sangat prihatin wisata Asia Eropa Park beroperasional sebelum bulan puasa tahun 2023 akhirnya sudah tutup.

Lahan yang digunakan, sambung dia, sebenarnya itu milik tanah Yayasan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan sebagian menempati tanah bengkok milik desa (lahan parkir).

“Memang diawal perjanjian itu, kalau ini sudah selesai dibangun (Wisata) nanti beroperasi memanfaatkan lahan desa maka baru kerjasama. Karena peruntukan lebih dari 2 tahun setelah itu muncul lah Perdes (Peraturan Desa), jadi saya sangat berhati-hati sekali,” tambahnya.

“Belum sampai ada sewa (kerjasama) namun Perdes sudah terbit, boleh dicek. Andaikan sewa sudah muncul saya pun selaku Kades mempunyai angan-angan bahwa uang itu bisa masuk PAD (Pendapatan Asli Desa) akan dipergunakan untuk bedah rumah, pemasangan listrik gratis dan lainnya, namun sebelum hal itu terealisasi keburu wisata itu tersendat,” imbuhnya.

“Sampai saat ini pun tidak sepeserpun saya menerima uang sewa itu dari Yayasan ke Pemdes Buntaran,” katanya menambahkan.

Lebih lanjut Mbah Buntaran menjelaskan atas tersendatnya wisata itu akhirnya terkesan menjadi terbengkalai, akhirnya dimanfaatkan oleh warga (Anak muda) untuk tempat berpacaran meskipun kondisi gelap saat malam hari.

Kedepannya, jelas dia, setelah bertemu dengan pengurus yayasan maka wisata ini sepertinya akan dilanjutkan oleh investor dari Jawa Barat dengan sistem manajemen yang baru.

“Atas laporan dari warga, saat ini tempat itu sudah kondisi tertutup akses masuk ke dalam sehingga anak muda yang pacaran sudah tidak bisa masuk ke dalam,” terangnya.

“Semoga dengan adanya investor dari Jawa Barat itu, kami inginkan agar sistem manajemen lama tidak digunakan lagi, maksudnya wisata itu biarlah seperti pasar malam sehingga masyarakat bisa masuk gratis jika memang ingin memanfaatkan wahana yang ada baru ditarik karcisnya,” sambungnya.

“Sekali lagi pembangunan wisata ini sepeser pun tidak menggunakan uang desa tapi dari Yayasan MI,” pungkasnya.