BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARA

Karnaval Kemerdekaan Desa Bukit Batu Potret Semangat Nasionalisme Warga

×

Karnaval Kemerdekaan Desa Bukit Batu Potret Semangat Nasionalisme Warga

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, OKI – Desa Bukit Batu, pada siang itu tampak berbeda. Jalan utama yang biasanya lengang dipenuhi ratusan warga yang tumpah ruah. Usai upacara pengibaran bendera merah putih, desa ini seolah menjelma menjadi panggung besar, tempat anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur dalam karnaval kemerdekaan.

Desa yang berada di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI ini pula berlangsung karnaval kemerdekaan. Simbolisme pesta rakyat yang menyatukan budaya, kreativitas, dan kerja keras. Ajang unjuk diri tersebut merangkum wajah Indonesia kecil di sebuah desa yang menggeliat dalam membangun dalam upaya kemandirian pembangunan desa.

Bagi kepala desa Bukit Batu, Rumidah, kemeriahan karnaval menjadi cermin dari pembangunan yang sedang berlangsung di desanya. Beragam tantangan, dilalui dengan optimisme, tetap berpijak pada semangat gotong royong dan harapan akan masa depan lebih baik.

“Kalau warga bisa bersatu untuk merayakan kemerdekaan, maka mereka juga bisa bersatu membangun desa. Karnaval ini bukti bahwa semangat optimisme masih tumbuh. Itu modal terpenting kami,” ujarnya Senin (18/8).

Dilanjutkan Rumidah, sebelum karnaval berlangsung beragam lomba yang digelar sehari sebelumnya yakni Lomba Gaplek, Karaoke, pertandingan Bulu Tangkis serta catur. Sedangkan kegiatan bagi anak-anak seperti Lomba Balap Karung, Makan Kerupuk, Lomba Jarum Dalam Botol, serta lainnya akan digelar hari ini,

“Serangkaian kegiatan dan beragam lomba yang melibatkan seluruh warga di berbagai usia hingga gelaran karnaval tersebut semakin menyemarakkan hari kemerdekaan,” katanya.

Sementara itu, menurut pantauan, para peserta karnaval ini sendiri berlangsung seru. Dengan pakaian adat berwarna-warni, kostum kreatif, hingga sepeda hias penuh ornamen, karnaval di Bukit Batu bukan lagi hanya sekadar hiburan, namun lebih pada sebuah pesta kolektif, sekaligus ruang ekspresi warga desa untuk merayakan kebebasan sekaligus meneguhkan semangat membangun.

Barisan demi barisan peserta karnaval berjalan beriringan di bawah terik matahari. Sejumlah remaja laki-laki tampil gagah mengenakan busana adat Jawa dengan blangkon dan jarik, ada juga yang mengenakan kebaya Palembang lengkap dengan songket emas. Tak jauh di belakang, sekelompok anak kecil berlari kecil dengan wajah dilukis cat putih-hitam, menirukan suku Papua dengan koteka sederhana dari anyaman daun.

Di sela-sela pakaian adat, muncul kejutan: barisan cosplay. Seorang bocah dengan kostum Shaun the Sheep menggamit perhatian. Gelak tawa pecah ketika ia menirukan gaya khas tokoh kartun itu. Tak kalah meriah, beragam kostum tokoh kartun turut meriahkan perhelatan tahunan ini.

Di belakang rombongan kostum adat dan cosplay, iring-iringan sepeda hias tak kalah menyita perhatian. Roda-rodanya dibungkus kertas krep merah putih, kerangka dihiasi bunga plastik, sementara bagian depan sepeda dipenuhi kreasi unik. Ada miniatur pesawat kardus, kapal layar kecil, hingga replika rumah adat sederhana.

Anak-anak yang menungganginya tampak sumringah, meski harus menjaga keseimbangan agar hiasan tak jatuh. Setiap sepeda yang lewat disambut riuh tepuk tangan dan sorakan penonton. Di beberapa sudut jalan, para bapak yang biasanya sibuk di kebun ikut bertepuk tangan bangga menyaksikan karya anak-anak mereka.

“Ini kebanggaan kami. Sepeda yang biasanya dipakai sekolah, sekarang dihias jadi karya seni. Anak-anak bisa berkreasi, sambil tetap belajar arti perjuangan,” kata Nurdin, salah seorang warga.

Semakin menarik mendapati kehebohan lainnya. Karnaval tentunya bukan hanya milik anak-anak dan remaja. Emak-emak Bukit Batu justru menjadi salah satu motor utama kemeriahan. Mereka tampil kompak mengenakan kebaya merah putih, sebagian membawa hasil bumi seperti singkong, jagung, dan padi dalam bakul anyaman. Ada pula kelompok ibu PKK yang menampilkan tarian sederhana di sepanjang jalan, diiringi tabuhan dan sorak-sorai penonton.

Partisipasi para ibu ini tak lepas dari semangat gotong royong yang masih kuat di Bukit Batu. Seminggu sebelum karnaval, para ibu sudah sibuk menyiapkan kostum, menghias sepeda anak, hingga menyiapkan makanan ringan untuk peserta. Semua dilakukan bersama-sama, tanpa mengenal bayaran.

“Kami ingin anak-anak senang, tapi lebih dari itu, karnaval ini membuat kami makin kompak. Kalau sudah terbiasa kerja sama, membangun jalan, posyandu, atau irigasi juga lebih mudah,” ujar Ratna, salah satu kader PKK desa.

Karnaval tahun ini juga menjadi simbol perubahan yang tengah berjalan. Bagi Desa Bukit Batu kemerdekaan tak lagi hanya soal upacara. Ia hadir lewat jalan yang lebih mulus, jembatan yang kokoh, hingga posyandu yang kini lebih dekat.

Sejak 2022, tiga unit posyandu dibangun di Dusun 1, 2, dan 5 Sungai Baung. Kini ibu-ibu tak lagi harus menempuh perjalanan jauh untuk imunisasi anak. Di bidang infrastruktur, sekitar 65 persen jalan desa sudah diperbaiki melalui penimbunan, dan pengecoran jalan.

Bahkan Tahun 2025, tepatnya setelah perhelatan Hari Kemerdekaan, derap pembangunan jalan terus berlanjut dengan pengecoran jalan sepanjang 4 kilometer. Selain itu, jembatan kayu di Dusun 1 sekarang digantikan jembatan permanen. “Kalau dulu musim hujan kami susah ke pasar, sekarang lebih mudah. Walau tidak semua jalan bagus, tapi perubahannya terasa,” kata Abdul Karim (52), petani sawit.

Perubahan serupa juga tampak pada posyandu permanen yang baru berdiri. Gedung sederhana itu tak hanya dipakai untuk kegiatan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat berkumpul warga saat mempersiapkan lomba dan dekorasi karnaval.

Sekolah dasar dan TK PAUD desa pun ikut memberi kontribusi. Para guru muda mendorong muridnya untuk ikut serta, bahkan mengadakan les tambahan agar anak-anak lebih siap tampil percaya diri. Hasilnya terlihat jelas: anak-anak tak hanya berani ikut pawai, tapi juga mampu menjelaskan makna kostum yang mereka kenakan.

Di penghujung hari, karnaval meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar tawa dan sorakan. Kades Rumidah menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan lewat simbol bendera, tapi juga lewat kebersamaan membangun desa juga disebutnya bagian dari memupuk semangat nasionalisme warga,

“Kemerdekaan itu bukan hanya melawan penjajah. Di desa ini, kemerdekaan berarti bisa sekolah, bisa panen, bisa sekolahkan anak. Itu makna sesungguhnya,” tandasnya.