Reporter : Robby
BLITAR, Mattanews.co – Kemarau yang masih berlangsung hingga Oktober, berakibat warga krisis air bersih. Sedikitnya ada 11 desa di tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Bahkan krisis air ini dapat menjalar ke desa yang lain, jika kemarau masih berlanjut dan pada Oktober tahun ini belum turun hujan.
“Saat ini ada 11 desa, namun potensinya bisa menjadi 19 desa dari tiga kecamatan di Kabupaten Blitar,” tegas Heru Irawan, Kepala BPBD Kabupaten Blitar.
Meski ada 11 desa, namun tidak merata di wilayah seluruh desa, namun di beberapa dusun. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan air untuk minum dan memasak, BPBD dan PMI Kabupaten Blitar mengirimkan air (dropping air bersih) ke desa yang krisis air. Dropping dilakukan secara bergiliran.
BPBD menyiapkan dua truk tangki dan PMI Kabupaten Blitar satu truk tangki masing-masing berkapasitas 6.000 liter. Dalam satu hari biasanya 30 ribu liter air bersih didistribusikan secara gratis kepada warga yang membutuhkan. “Pada dasarnya air ini diberikan pada warga miskin. Anda saja (wartawan) air juga beli baik perkubik di PDAM atau pakek Sanyo listrik. Untuk itu, bagi yang mampu diharapkan beli sendiri, ini air bersih ini untuk warga miskin,” tegas Heru.
Di Desa Kalitengah, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar krisis air sudah terjadi sejak empat bulan yang lalu. Sumber-sumber air yang selama ini dihandalkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mampet. Akibatnya saluran pipanisasi yang sudah terpasang ke rumah warga juga tidak dapat meneteskan air.
“Sudah empat bulan tidak ada air, hanya mengandalkan air kiriman,” tungkas Sariono (60) warga Desa Kalitengah.
Tidak jarang Sariono dan warga Desa Kalitengah yang lainya harus membeli air, jika air simpananya habis. Biasanya Sariono membeli dengan harga Rp 5.500 untuk 20 liter air.
Editor : Anang














