MATTANEWS.CO, TANAH DATAR– Kementerian Energi dan Sumberdaya mineral(ESDM) Repoblik Indonesia(RI) melalui Perusahaan Listrik Nasional(PLN) Sumatera Barat(Sumbar) gelar Survei program Listrik Desa, di Nagari Andaleh Baruh Bukit Kecamatan Sungayang, Selasa(5/5/2026).
Survei ini menjadi titik awal dari perjalanan panjang pembangunan listrik desa di Andaleh. Di satu sisi, ia menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam keterbatasan energi. Di sisi lain, ia juga menguji sejauh mana negara mampu hadir secara adil—bukan hanya dengan jaringan kabel, tetapi juga dengan pendekatan sosial yang sensitif dan berkeadilan.
Di balik kegiatan teknis yang tampak sederhana, tersimpan agenda besar: memastikan listrik tidak lagi menjadi privilese geografis.
Indra Kurnia M, Manager Sub Bidang Kelistrikan Sumatera Barat, menegaskan bahwa program Listrik Desa merupakan instrumen strategis untuk menjangkau daerah yang belum dialiri listrik. Menurutnya, pemerintah tidak sekadar membangun jaringan, tetapi juga membuka akses ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.
“Program ini dirancang untuk menutup blank spot kelistrikan. Untuk Sumatera Barat pada tahun 2026, direncanakan terdapat 15 titik pelaksanaan yang akan disasar,” ujarnya dengan nada tegas.
Namun, ia juga menekankan satu hal yang kerap menjadi sensitif di lapangan: dalam implementasi program ini tidak terdapat skema ganti rugi bagi lahan atau tanaman masyarakat yang terdampak pemasangan tiang listrik. Pernyataan ini mengisyaratkan perlunya komunikasi yang matang antara pemerintah dan warga agar program tidak tersendat di akar rumput.
Sementara itu, Randi Kosiwa menyampaikan gambaran teknis untuk wilayah Andaleh. Ia mengungkapkan bahwa proyek ini akan membutuhkan sekitar 44 tiang listrik untuk menjangkau lokasi yang dituju.
“Dengan kondisi geografis yang ada, estimasi kebutuhan tiang mencapai 44 unit hingga jaringan benar-benar sampai ke titik sasaran,” jelasnya. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan tantangan medan yang tidak ringan—mulai dari akses hingga kontur wilayah.
Dari sisi operasional daerah, Ujang Bakri, Manager Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) Kabupaten Tanah Datar, menekankan pentingnya sinergi antara PLN, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ia menyebut keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan lokal, terutama dalam hal akses dan kelancaran pembangunan infrastruktur.
“Program ini bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi kerja kolaboratif. Dukungan masyarakat menjadi kunci agar proses berjalan tanpa hambatan,” katanya.
Respons positif datang dari pemerintah nagari. Doni, mewakili Wali Nagari Andaleh, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat dan PLN terhadap wilayah mereka.
“Kami mengucapkan terima kasih atas realisasi program ini. Kehadiran listrik tentu akan membawa perubahan besar bagi masyarakat kami, baik dari sisi ekonomi maupun kesejahteraan,” tutupnya.














