MATTANEWS.CO,KAPUAS HULU – Dentuman musik dan sorak warga mewarnai Hari Jadi Kota Putussibau ke-131. Panggung utama di tengah kota terang benderang, pesta rakyat digelar megah di Gedung Pelayanan Satu Atap
Tapi cukup 5 menit berkendara ke selatan, kemeriahan itu langsung terkoyak. Di sepanjang Jalan Lintas Selatan Simpang Penjara hingga Masjid Darussalam, kegelapan menguasai. Lampu Penerangan Jalan Umum PJU padam total. Kota berpesta, warganya hidup dalam gelap.
Ironis. Saat spanduk dan baliho hari jadi kota Putussibau ke – 131 berkibar dan terpasang di pusat kota, warga lintas selatan dan pengguna jalan justru bergulat dengan maut tiap malam.
Ruas jalan yang jadi urat nadi ekonomi itu berubah jadi “jalan kubur” tanpa penerangan.
Hardi, 38 tahun, penjual sayur yang tiap subuh melintas, tak bisa menyembunyikan amarahnya.
Matanya lekat menatap aspal yang hanya diterangi lampu motor dengan muatan keranjang dipenuhi sayuran yang akan dijual di pasar pagi Putussibau.
“Setiap subuh saya bawa sayuran dari Tran Sukamaju. Pas masuk Simpang Penjara, jantung rasanya copot. Gelap gulita, Pak. Ini HUT kota ke-131, tapi kami kayak hidup di zaman kegelapan. Pesta untuk siapa? Untuk orang tengah kota saja? ujarnya geram saat berbincang dengan wartawan Mattanews.co Kamis (4 Juni 2026)
Hal senada disampaikan Inna, ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Pesantren Putussibau. Ia berangkat ke Pasar Putussibau sekitar pukul 04.00 Wib untuk mengantarkan kue.
“Saya perempuan, naik motor sendirian. Lewat takut. Lampu motor redup, jalan sepi, nggak ada lampu jalan sama sekali. 2 bulan lebih begini, “kata Inna.
Kegelapan bukan cerita baru bagi warga sekitar simpang penjara Kelurahan Kedamin Hulu, Hidayat, mengaku kesal kurangnya pengawasan dan penanganan PJU.
“Dulu ada PJU, walau redup-redup masih mending. Sekarang mati semua. Anak-anak ngaji di masjid pulang magrib saya takut. Kami nggak minta jalan diaspal emas. Kami hanya minta lampu menyala. Masa iya anggaran pesta HUT ada, untuk perbaiki PJU nggak ada?” tegasnya.
Di usia 131 tahun, warga tidak menuntut muluk-muluk. Mereka hanya minta hak dasar rasa aman saat pulang ke rumah.
“Kami bangga Putussibau ulang tahun. Tapi tolong, jangan cuma pesta di tengah kota. Lihat kami di Linta selatan. Nyalakan lampu PJU kami. Itu saja. Karena terang itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan dan hak kami sebagai warga,” pinta Hidayat. (*)















