Bagaimana PTP Nonpetikemas Palembang Mengubah Ritme Distribusi di Tepian Musi
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Di salah satu layar monitor ruang operasional Pelabuhan Boom Baru, jadwal kapal dan aktivitas bongkar muat terus diperbarui setiap beberapa menit. Petugas planning control sesekali mencocokkan data di layar dengan komunikasi radio dari lapangan untuk memastikan tidak ada perubahan jadwal yang terlewat.
Di luar ruangan, crane tetap bergerak mengangkat muatan dari lambung kapal. Truk-truk pengangkut keluar masuk area dermaga membawa berbagai komoditas menuju sejumlah wilayah di Sumatera Selatan.
Namun dibanding beberapa tahun lalu, ada satu hal yang mulai berubah di pelabuhan ini: ritme kerjanya.
Dulu, sebagian koordinasi masih bergantung pada telepon dan dokumen manual. Jadwal bongkar muat kerap berubah di lapangan. Sopir truk harus menunggu kepastian layanan lebih lama. Ketika komunikasi antarbagian terlambat, antrean kendaraan bisa memanjang di area pelabuhan.
Kini, sebagian proses itu mulai berpindah ke sistem digital.
PTP Nonpetikemas Cabang Palembang mulai menerapkan PTOS-M atau Pelindo Terminal Operating System Multipurpose, sistem operasi terminal yang digunakan untuk memantau pelayanan kapal dan bongkar muat secara real time.
Perubahan itu mungkin tidak terlalu terlihat dari luar dermaga. Kapal tetap datang dan pergi seperti biasa. Aktivitas bongkar muat tetap berlangsung hampir tanpa jeda.
Namun di pelabuhan, perubahan ritme kerja berarti efisiensi biaya distribusi.
Persoalan Lama Logistik
Selama bertahun-tahun, persoalan logistik di Indonesia hampir selalu sama: waktu tunggu panjang, proses administrasi berlapis, dan biaya distribusi yang tinggi.
Di pelabuhan, keterlambatan beberapa jam saja dapat berdampak pada biaya operasional kapal, distribusi industri, hingga harga barang di pasar.
Karena itu, efisiensi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Melalui PTOS-M, pengguna jasa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada proses manual di loket. Pengajuan layanan, pembayaran, pencetakan dokumen, hingga monitoring aktivitas bongkar muat kini dapat dilakukan secara digital dan terintegrasi.
Perubahan itu perlahan mengubah cara kerja pelabuhan.
Jika sebelumnya koordinasi banyak dilakukan melalui telepon dan pertukaran dokumen fisik, kini sebagian besar aktivitas operasional dapat dipantau melalui sistem yang terhubung langsung dengan layanan terminal.
Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, mengatakan digitalisasi menjadi bagian penting dalam memperkuat layanan terminal nonpetikemas.
“PTP Nonpetikemas sebagai bagian dari Pelindo Group terus menghadirkan layanan terminal nonpetikemas yang andal dan terintegrasi untuk mendukung kelancaran arus logistik nasional,” ujar Fiona Sari Utami dalam keterangan resmi perusahaan, April 2026.
Menurutnya, transformasi pelayanan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga bagaimana pelabuhan mampu bergerak lebih cepat di tengah kebutuhan distribusi yang terus meningkat.

Mengubah Ritme Boom Baru
Sebagai pelabuhan sungai yang melayani berbagai komoditas industri, Boom Baru memiliki aktivitas distribusi yang padat.
Setiap hari kapal datang membawa curah cair, curah kering, general cargo, hingga bag cargo yang kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah Sumatera Selatan.
Selain Boom Baru, PTP Nonpetikemas Cabang Palembang juga mengoperasikan area Sungai Lais yang menjadi bagian penting dalam aktivitas distribusi wilayah tersebut.
Data perusahaan menunjukkan arus barang Cabang Palembang sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,56 juta ton. Angka itu menjadikan Palembang sebagai salah satu cabang penting dalam jaringan terminal multipurpose PTP Nonpetikemas.
Pada April 2026 lalu, cabang ini juga menangani bongkar pupuk impor dari MV Gold Spring yang datang dari Pelabuhan Cuo Lo, Vietnam.
Bagi pelabuhan, kecepatan pelayanan berarti banyak hal.
Semakin cepat kapal dilayani, semakin singkat waktu sandar. Semakin singkat waktu sandar, semakin rendah biaya distribusi yang harus ditanggung pelaku usaha.
Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Palembang, Ade Affandi, mengatakan pelabuhan kini dituntut menghadirkan pelayanan yang lebih cepat dan terintegrasi.
“Pelabuhan bukan hanya tempat bongkar muat, tetapi bagian penting dari rantai distribusi ekonomi. Ketika layanan berjalan cepat dan efisien, maka distribusi barang dan kebutuhan industri juga akan lebih lancar,” ujar Ade Affandi saat kegiatan Port Visit dan Portpress 2026 di Pelabuhan Boom Baru Palembang, April 2026.
Menurutnya, tantangan pelabuhan saat ini bukan lagi sekadar kapasitas dermaga, tetapi bagaimana menjaga arus barang tetap bergerak di tengah kebutuhan distribusi yang terus meningkat.

Orang-Orang di Balik Sistem
Menjelang sore, aktivitas di Boom Baru masih berlangsung padat. Debu tipis beterbangan ketika muatan dipindahkan dari kapal ke truk pengangkut. Suara radio komunikasi sesekali terdengar dari ruang operator.
Di ruang kontrol operasional, petugas monitoring terus memantau jadwal kapal dan aktivitas bongkar muat melalui layar komputer.
Bagi pekerja pelabuhan, perubahan sistem kerja beberapa tahun terakhir cukup terasa.
“Sekarang koordinasi lebih cepat dibanding dulu. Jadwal kapal dan proses bongkar muat bisa dipantau langsung lewat sistem,” ujar seorang operator yang telah bekerja lebih dari sepuluh tahun di Boom Baru.
Meski teknologi mulai mengambil banyak peran, ritme kerja pelabuhan tetap menuntut ketelitian dan kewaspadaan tinggi.
Aktivitas bongkar muat berlangsung hampir tanpa jeda. Kesalahan kecil dapat berdampak pada keselamatan maupun kelancaran distribusi barang.
Karena itu, penguatan sistem digital juga dibarengi penerapan HSSE atau Health, Safety, Security, and Environment.
PTP Nonpetikemas mencatat keberhasilan mempertahankan predikat zero accident hingga akhir 2025 melalui safety patrol, safety briefing, monitoring CCTV, hingga management walkthrough.
General Manager Pelindo Regional 2 Palembang, Nunu Husnul Khitam, mengatakan koordinasi antarpelaku kepelabuhanan menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran distribusi di Sumatera Selatan.
“Kami terus mendukung operasional PTP Nonpetikemas dan seluruh Pelindo Group di Pelabuhan Palembang melalui penguatan kolaborasi dengan stakeholder dan regulator,” ujar Nunu Husnul Khitam dalam kegiatan operasional pelabuhan di Palembang, April 2026.
Ketika Layar Monitor Mengubah Ritme Dermaga
Transformasi di pelabuhan sering kali tidak terlihat mencolok.
Tidak selalu berupa pembangunan besar atau pergantian alat berat baru. Sebagian perubahan justru terjadi di ruang kontrol operasional, layar monitoring, dan sistem pelayanan yang perlahan dibuat lebih cepat.
Namun bagi dunia distribusi, perubahan kecil itu memiliki dampak besar.
Ketika pelayanan menjadi lebih efisien, waktu tunggu kapal dapat ditekan. Arus barang bergerak lebih lancar. Distribusi industri menjadi lebih stabil.
Dan di kota sungai seperti Palembang, pelabuhan tetap menjadi salah satu simpul penting yang menjaga pergerakan ekonomi sehari-hari.
Malam perlahan turun di Boom Baru. Aktivitas bongkar muat masih berlangsung di bawah cahaya lampu dermaga.
Crane tetap bergerak. Kapal datang dan pergi. Jadwal pelayanan terus diperbarui dari ruang operasional.
Sementara sebagian besar kota mulai terlelap, sistem di pelabuhan tetap bekerja menjaga arus barang terus bergerak di tepian Sungai Musi.














