Reporter : M Rafi
TANAH DATAR, Mattanews.co– Biasanya setiap memasuki lebaran Idul Adha, di tiap rumah di Kabupaten Tanah Datar selalu membuat lamang.
Membuat makanan khas daerah Sumatera Barat (Sumbar) ini menjadi tradisi turun menurun.
Sudah dua tahun belakangan ini tradisi malamang ini sudah tidak begitu semarak, apalagi dalam kondisi Covid-19 ini.
Lamang pagaruyung sangat beda rasanya dari lamang di daerah lain. Karena menggunakan buluh talang muda.
Buluh sendiri merupakan wadah seperti bambu kecil, untuk meletakkan beras pulut yang akan dibakar dan membentuk lamang.
Salah satu produsen Lamang Pagaruyung yaitu Amlas, kerap membuat kudapan manis ini dengan takaran 5-7 gantang beras pulut.
Namun karena pandemi Covid-19 sehingga produksi lamangnya hanya menggunakan 3 gantang beras pulut saja.
“Jangan sampai tradisi malamang ini menghilang. Karena sudah turun temurun dari nenek moyang kita,” ujarnya, Sabtu (1/8/2020).
Teti, warga Tanah Datar Sumbar mengatakan, lamang tidak hanya berbahan beras pulut saja, ada juga yang berbahan pisang.
“Kalau makan lamang ini, pakai tapai pulut jadi enak rasanya,” katanya.
Dia juga berpesan agar menjadikan tradisi malamang ini, sebagai tradisi yang jadi kebanggaan di pagaruyung.
“Semoga Hari Raya Idul Adha tahun depan, tradisi malamang kembali seperti sebelumnya. Serta menjadi daya tarik tersendiri untuk menjamu tamu yang dari rantau,” ungkapnya.
Editor : Nefri














