Jhon Lennon (Grammy.com)
Adsafelink | Shorten your link and earn money

Reporter : Nandoenk Hari

Mattanews.co – Perangi perang bukan berperang, seolah menjadi bahan bakar pemicu semangat para seniman dunia, khususnya musisi untuk mengubah tatanan kehidupan dunia.

Dengan tidak ikut dalam barisan wajib militer, justru membuat beberapa musisi di belahan dunia merelakan dirinya masuk ke dalam siklus perubahan tatanan politik dunia.

Seperti pohon, buah adalah hasil yang mau tidak mau harus diketahui kualitasnya, baik aroma, rasa, juga tekstur kelembutan buah pun menjadi nilai lebih dalam penilaian bagi penikmatnya.

Ya, Sebagai salah satu bagian dari seniman, karya merupakan titik di mana musisi tersebut dapat diperhitungkan. Tidak hanya digemari, namun juga ditakuti sang penguasa tahta tirani.

Jhon Lennon, vitaris sekaligus vokalis dari super grup The Beatles menjadi seorang vooluntir perdamaian dunia.

Seketika lagu ‘Imagine’ milik Lennon, mengajak semua manusia untuk berpikir dan bertindak berdasarkan nilai kehendak baik di era kemunculannya.

Di setiap lirik yang mengajak setiap manusia untuk berpikir, ada atau tanpa sesuatu yang telah diberi makna dan memberikan ilustrasi kebenaran untuk melakukannya, membuat beberapa remaja di era itu menjadi lebih realistis.

Menurut Grunge, lagu yang dirilis di tahun 1971 merupakan manifesto komunis dari seorang Jhon Lennon. Di mana terdapat lirik ‘bayangkan tidak ada agama, tidak ada negara dan tidak ada politik yang menjadi semangat manifesto komunis’.

Namun saat diwawancarai NME ketika itu, Lennon membantah dirinya seorang komunis.

The Battle of Omnibuslaw (Nandoenk Hari)

“Tidak ada komunis sejati di dunia ini, kalian harus sadar itu. Sosialisme yang aku bicarakan tidak sama dengan Rusia dan China, tapi kita harus menerapkan sosialis yang manis ala British,” ucap Lennon kala itu.

Sementara salah satu orang yang mendampingi proses pembuatan lagu tersebut dan sekaligus Co-producer Phil Spector mengatakan, lagu itu merupakan pernyataan politik Lennon saat itu.

Bob Marley, musisi yang dikenal dengan rambut gimbal dan ganja ini turut diperhitungkan sebagai musisi perdamaian dunia.

Lagunya yang banyak bercerita tentang kehidupan dan perdamaian menjadi idola remaja saat itu, hingga saat ini.

Dalam perjalanan karirnya, Bob Marley tak henti-hentinya berkampanye perihal hidup damai dan penuh cinta di setiap panggungnya.

Seperti lagu ‘One Love’, Bob seolah-olah menghipnotis jutaan manusia untuk bersatu dalam damai.

Begitu pula lagu ‘No Woman No Cry’, lagu yang mengajak kaum perempuan untuk lebih kuat. Lagu reggae pertama kali yang dibawakannya tersebut mengandung ajakan untuk membuat perempuan menjadi kuat.

Bruce Dickinson – Iron Maiden, seorang vokalis band beraliran Speed Metal asal Inggris ini dianggap sebagai pahlawan di negaranya.

Bruce yang juga dikenal sebagai pilot dan mekanik pesawat, menjadi penggagas pulihnya perekonomian Inggris di kala krisis moneter menimpa negara tersebut.

Bruce membuat suku cadang pesawat untuk dijual di pasar lokal maupun Internasional. Saat itu juga perekonomian Inggris membaik, setelah penjualan suku cadang pesawat terjual laris di pasar dunia.

Rage Agains The Machine (RATM), band rock asal Los Angeles ini dipuja penggemarnya. Lantaran para personilnya merupakan aktivis, yang kerap kali muncul bersama para demonstran saat memprotes kebijakan pemerintah Amerika.

Band yang terdiri dari Tom Morello (gitaris), Zack De La Rocha (vokalis), Brad Wilk (drumer) dan Tim Commerford (basis), tidak jarang melakukan aksi turun ke jalan.

“Musik itu senjata kami dalam menceritakan keresahan dan marah kami,” ucap Zack seperti dilansir The Brussels Times.

Selain mendapat tempat istimewa di hati penggemarnya, band rock bernuansa hip hop, metal dan hardcore ini pun memiliki penggemar dari sesama musisi rock.

“Kami adalah penggemar RATM sejak dulu, mereka panutan kami di panggung maupun di luar panggung,” ucap Fred Durst saat diwawancarai NME.

Dari beberapa musisi yang menjadikan musik sebagai media pernyataan sikap berpolitik, tentunya membawa perubahan tatanan pandangan politik para fans dari masing-masing mereka.

“Musisi yang berpengaruh tentu banyak ditiru,” ujar Bens Leo, pengamat musik Indonesia kepada Majalah Rolling Stones beberapa waktu lalu.

Editor : Nefri

Print Friendly, PDF & Email
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here