MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Koordinator atau penanggung jawab aksi dalam unjukrasa Gerakan Anti Plagiat (GAP) di Universitas Kader Bangsa (UKB), Puput membatalkan diri dan rombongannya. Meski demikian, aksi tetap dilanjutka dengan komando aksi, Jimmi, Senin (12/6/2023).
“Benar, saya batal menggelar aksi di Kampus UKB, karena ada yang tidak bisa kami rangkul dalam barisan tersebut,” jelas Puput, ketika dihubungi wartawan online Mattanews.co.
Puput menjelaskan, sebelum perencanaan aksi, dirinya dan rombongan mengadakan rapat terlebih dahulu.
“Rencananya aksi yang kami bentuk ada 30 mahasiswa yang akan turun. Namun, karena ada barisan yang tidak dapat kami rangkul, maka teman-teman membatalkan bergabung dalam aksi tersebut,” ungkap Puput.
Puput mengaku aksi yang digelar GAP saat di Universitas UKB, tidak satupun orang yang dikenal.
“Dalam rombongan itu, saya tidak ada yang kenal. Saya kurang tahu teman-teman tersebut dari mana. Itulah alasan utama yang membuat kami mundur dari barisan,” ujarnya.
Disinggung langkah kedepan, Puput menjelaskan akan melakukan rapat atas aksi yang digelar tersebut.
“Tentunya kami dan kawan-kawan mahasiswa akan mengadakan rapat. Karena kamipun belum mengetahui persis maksud dan tujuan aksi yang mengatasnamakan GAP tersebut,” tuturnya
Sementara Kuasa Hukum Universitas UKB, M Aminuddin, menerangkan tidak menutup kemungkinan, pihak kampus akan melaporkan aksi GAP ke pihak berwajib.
“Aksi tersebut sudah membuat resah dan terkesan menjatuhkan nama baik kampus UKB. Tidak menutup kemungkinan, akan kami bawa ke jalur hukum. Ini dunia pendidikan, jangan sembarangan menuding,” tuturnya.
Amin menjelaskan, dalam surat pemberitahuan aksi yang dikirimkan ke pihak Polrestabes Palembang, sangat mencurigakan.
“Koordinator berbeda, dosen yang disebut plagiat tidak disebutkan, sehingga membuat binggung pihak kampus melakukan investigasi,” urainya.
Sedangkan Koordinator Aksi, Jimmy menuturkan hasil investigasi, ditemukan sebesar 90 persen hasil jurnal plagiat.
“Sedangkan standar maksimal toleransi dari Kementrian Pendidikan untuk jurnal Nasional 25 persen,” tukasnya.














